Ada Kesamaan Perjuangan Rakyat Papua dan Patani

share on:
Suasana Peringatan 61 Wafatnya Tokoh Agama, yang juga Tokoh Politik dan Tokoh Reformasi Pendidikan  Patani, Haji Sulong Abdul Qadir Tohmeena di Pattani, Jumat (14/8/2015) malam - Jubi/Arjuna
Suasana Peringatan 61 Wafatnya Tokoh Agama, yang juga Tokoh Politik dan Tokoh Reformasi Pendidikan Patani, Haji Sulong Abdul Qadir Tohmeena di Pattani, Jumat (14/8/2015) malam – Jubi/Arjuna

Pattani/Thailand, Jubi – Dosen salah satu universitas di Pattani, Thailand yang hanya ingin disebut inisialnya, HS menilai, ada kesamaan antar perjuangan masyarakat melayu Patani (tiga provinsi di Selatan Thailand) dengan rakyat Papua.

Katanya, meski belum pernah ke Papua, namun ia sudah banyak mendengar cerita tentang kondisi Papua. Apa yang dialami orang Papua, sama seperti rakyat Patani.

“Saya mamang tak tahu banyak tentang Papua, tapi saya mendengar banyak cerita mengenai kondisi Papua. Saya rasa masalah Papua juga lebih pada masalah politik,” kata HS ketika berbincang – bincang dengan Jubi, Jumat (14/8/2015) malam.

Menurutnya, pemerintah memanfaatkan kekayaan alam Papua, tanpa mempedulikan masyarakatnya. Ketika masyarakat merasa diperlakukan tak adil, dan melakukan perlawanan, penguasa dengan kekuatannya menekan mereka.

“Saya baca dokumen Al Jazeera, saya sedih karena wartawan asing dilarang masuk ke Papua. Ini sangat tak benar. Saya punya teman orang Papua, dia bilang orang Papua menentang negara Indonesia, tapi tidak menentang orang Indonesia,” ucapnya.

Di Pattani, pada Jumat (14/8/2015), rakyat Patani, tiga provinsi di Selatan Thailand yang dikenal dengan sebutan muslim melayu memperingati 61 wafatnya tokoh agama yang juga tokoh politik, dan tokoh reformasi pendidikan Patani, Haji Sulong Abdul Qadir Tohmeena di halaman rumah almarhum. Sedikitnya 300 orang hadir dalam peringatan itu, termasuk para ulamah Patani, Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO), serta sedikitnya 150 keturunan Haji Sulong.

Pendiri Wartani, lembaga berbasis media dan informasi teknologi (IT) di Patani, Mohamad Sabri Yosuff mengatakan, peringatan seperti itu tak bisa dilakukan ditahun – tahun sebelumnya. Ketika itu pemerintah kerajaan Thailand tak memberi kebebasan kepada rakyat Patani.

“Kami mau sebut Patani saja pemerintah melarang, tapi melalui perjuangan kami, dan berbagai NGO, akhirnya diperbolehkan. Dulu sebelum konflik era baru, kami susah mau menceritakan sejarah Patani. Kami mungkin akan ditangkap dan dianggap pemberontak,” kata Sobri.

Memang hingga kini lanjut dia, peringatan seperti itu tanpa ijin formal pemerintah. Pemerintah masih tak ingin rakyat Patani memperingati wafatnya sosok tokoh Haji Sulong.

“Namun melalui berbagai kampanye di sosial media, pemerintah kini tak terlalu berani menindas lagi, kerena bisa saja akan ada konflik lebih besar lagi,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan perbedaan Pattani dan Patani. Katanya, Pattani hanya melingkupi satu provinsi. Sementara Patani memiliki makna yang lebih luas.

“Kalau Pattani itu hanya satu wilayah, semacam satu kota atau provinsi. Kalau Patani, itu melingkupi tiga provinsi yang ada di selatan Thailand. Ya semacam suatu negaralah,” imbuhnya. (Arjuna Pademme)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Ada Kesamaan Perjuangan Rakyat Papua dan Patani