Perempuan Malind dan MIFEE

share on:
Mama Malind jangan menjual tanah-Jubi-ist
Mama Malind jangan menjual tanah-Jubi-ist

Jayapura, Jubi- Merauke Integrate Food Estate and Energi atau dikenal dengan singkatan MIFEE menjadi bumerang bagi masyarakat Suku Malind di Kabupaten Merauke. Program yang direncanakan sejak 2011, tampaknya pelan namun pasti terus digalakan guna membangun sumber pangan nasional.Semua sudah tahu kalau Merauke kini jadi lumbung padi di Tanah Papua, bahkan terkenal sejak jaman Belanda, 1948.

 

 

Hampir sebagian besar kaum laki-laki atau bapak-bapak yang ikut dalam diskusi dalam membicarakan masa depan anak cucu di wilayah mereka. Seolah-olah kaum perempuan atau mama-mama dari Kampung Baad di Kabupaten Merauke, hanya penonton dan pendengar dalam sosialisasi dalam negososiasi.

 

Lalu di mana kaum perempuan? Suara mereka juga harus didengar karena berhubungan dengan masa depan masyarakat Suku Malind, di Kampung Baad sendiri.
Mama Christina Gebze ikut ambil suara dalam proses negosiasi maupun sosialiasasi program MIFE di Merauke.

 

Lahan yang luas akan berubah menjadi kebun tebu, sawit dan sawah menurut Mama Gebze, nanti anak-anak mau pindah ke mana? “Sekarang kita harus berpikir, dulu ada ikan, rusa, kangguru, kasuari. Semua banyak bebas bermain tetapi masyarakat gunakan untuk keperluan, sudah habis, “tutur Mama Christina Gebze/sebagaiman dilansir awasmifee.potager.org.

 

Apalagi yang mau dijual kata dia, kalau tanah dijual lebih luas ke depan mau berkebun di mana. “Kita mau berkebun di mana. Kita hanya punya tanah, hasil lain sudah tidak ada, ini akan membuat kita susah sekali,”katanya.

 

Mereka bilang perusahaan mengatakan akan sewa tanah dan berikan uang kompensasi. “ Saya dengar mereka bilang begitu, tapi tidak tahu berapa yang mereka minta, berapa hektar, berapa kilo, tapi tidak ada surat. Perempuan tidak pernah terlibat. Secara adat, mereka laki-laki yang biasanya ikut dalam pertemuan. Perempuan juga tidak bisa tanya kepada suami yang ikut pertemuan. Tugas perempuan biasanya memasak, memangkur sagu, mancing ikan, berkebun tanam kasbi (singkong), kelapa dan keladi,”katanya.

 

Hanya saja Mama Gebze mengingatkan, tanah tidak bisa dijual.” Saya takut makan uang tanah, karena tanah ini siapa yang buat, bukan saya yang punya tangan. Kalau kita melahirkan atas persetujuan dalam dua orang, tetapi tanah siapa? Sebaiknya tidak jual tanah..”katanya.
Hanya saja dia mengingatkan bahwa perempuan juga punya hak karena perempuan juga ikut berperang untuk membantu saudaranya. “Ada dusun disitu dengan batas tanah,”katanya. (Dominggus Mampioper)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Perempuan Malind dan MIFEE