Jubi Road to Patani

share on:
Masjid Gresi, Masjid Bersejarah Warga Patani – Jubi/Arjuna
Masjid Gresi, Masjid Bersejarah Warga Patani – Jubi/Arjuna

Jayapura, Jubi – Berbagai kisah dan pengalaman didapat kru Jubi ketika mengunjungi Pattani, salah satu provinsi wilayah Patani, daerah Selatan Thiland, yang ditempuh kurang lebih satu setengah jam dari Hatyai (perbatasan Malaysia – Thailand).

Kru Jubi bertolak dari Jayapura, Papua pada Jumat, 12 Agustus 2015 dengan menumpangi pesawat rute Jayapura-Jakarta. Setelah check-in bagasi, kru Jubi berjalan menuju ruang tunggu untuk segera naik ke pesawat. Pukul 11:40 waktu Papua, pesawat yang ditumpangi kru Jubi lepas landas dari Bandara Sentani dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 14:45 WIB. Setiba di Bandara Soekarno-Hatta, kru Jubi langsung melapor ke petugas maskapai pesawat yang ditumpangi untuk penerbangan berikut ke Kuala Lumpur.

Karena bagasi sudah didaftarkan untuk diambil di Kuala Lumpur sejak di Bandara Sentani, kru Jubi langsung berjalan menuju bagian imigrasi untuk menghindari antrian panjang yang biasanya sering terjadi. Namun, apa yang semula dikuatirkan tidak terjadi. Mungkin karena liburan panjang di Indonesia baru saja usai, kru Jubi tidak memerlukan waktu lama di bagian imigrasi, hanya sekitar 15 menit. Setelah urusan imigrasi selesai, kru Jubi memutuskan berjalan-jalan sejenak di seputran bandara sebelum mencari tempat untuk bekerja dan merokok sambil menunggu keberangkatan ke Kuala Lumpur yang masih dijadwalkan sekitar 3 jam ke depan.

Dalam perjalanan ke Pattani, kru Jubi telah merencanakan perjalanan panjang dengan menempuh rute Jayapura-Jakarta-Kuala Lumpur-Hatyai-Pattani yang diperkirakan memakan waktu 48 jam perjalanan. Rute ini sebelumnya telah dikonsultasikan kru Jubi dengan rekan-rekan dari Wartani.com di Pattani. Selain untuk menghemat biaya, rute panjang ini sengaja dipilih untuk memperkaya pengalaman adventurir, menghindari kerumitan bahasa dan alasan keamanan.

Setelah cukup melepas penat selama kurang lebih dua setengah jam di ruang bebas merokok yang disediakan di Bandara Soekarno-Hatta, kru Jubi segera berjalan ke ruang tunggu keberangkatan dan boarding tepat pukul 18:45 WIB, 15 menit lebih awal dari jadwal semula. Kru Jubi segera menaiki pesawat yang membawa mereka ke Kuala Lumpur. Pukul 22:30 waktu setempat, pesawat yang ditumpangi kru Jubi akhirnya mendarat di Main Terminal, Kuala Lumpur International Airport.

Kru Jubi segera berkemas menuruni pesawat menuju train yang akan membawa mereka menuju imigrasi dan tempat pengambilan bagasi. Berjalan kurang lebih satu kilometer dari terminal, kru Jubi menaiki train dan masih harus berjalan lagi hingga sampai ke imigrasi dan tempat pengambilan bagasi. Jarak yang cukup jauh dari terminal ke tempat pengambilan bagasi akan agak membingungkan bagi mereka yang baru pertama kali tiba di KLIA.

ewsxPengalaman kru Jubi dengan imigrasi Indonesia di Jakarta kembali terulang. Mungkin karena musim liburan panjang baru saja berakhir, tidak ada antrian panjang di imigrasi. Kru Jubi mengantri di antrian khusus pendatang berpaspor ASEAN. Setelah lolos dari pemeriksaan petugas imigrasi yang melontarkan pertanyaan standar, seperti apa tujuan datang ke Kuala Lumpur, berapa lama rencana tinggal, kru Jubi berjalan menuju ATM dan money changer untuk menukar uang seperlunya. Setelah itu Kru Jubi berjalan menuju loket pemesanan taksi bandara.

Karena tiba belum melewati tengah malam, kru Jubi masih mendapatkan tarif normal dari bandara ke hotel yang terletak di Jl. Pudu yang sudah dipesan sebelumnya. Dari bandara ke hotel di Jl. Pudu yang ditempuh kurang lebih dua jam perjalanan, kru Jubi membayar 74 Ringgit Malaysia (RM). Dalam perjalanan ke hotel, kru Jubi menyempatkan berbincang dengan supir taksi. Kemiripan bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia membuat percakapan berjalan akrab tanpa kendala. Percakapan ini direkam kru Jubi untuk dibagikan kepada pembaca Jubi di tanah air.

Setiba di Jl. Pudu, kru Jubi check in hotel untuk berehat sejenak sebelum meneruskan perjalanan ke Hatyai, Thailand keesokan harinya. Hotel tempat kru Jubi menginap berada tepat di seberang terminal bis terbesar di Kuala Lumpur, yakni terminal Pudu Raya.

Setelah berehat semalam di hotel seputaran Jl. Pudu, kru Jubi keluar untuk mengisi perut. Rupanya lokasi tempat kru Jubi menginap terletak di kawasan pemukiman masyarakat Malaysia keturunan India. Toko, rumah makan, rata-rata bernuansa India. Di tempat ini juga terdapat kuil yang pagi itu ramai didatangi masyarakat Malaysia keturunan India untuk bersembahyang. Sayangnya kru Jubi tidak sempat mengambil gambar.

Untuk mengganjal perut di pagi ini, kru Jubi memutuskan untuk memesan roti chanai, nasi lemak dan kopi “O” di kedai mamak (sebutan untuk warung makan India) yang masih terletak di Jl. Pudu. Harga makanan di kedai mamak cukup murah untuk kantong Indonesia, apalagi untuk mereka yang tinggal di Papua. Roti chanai, nasi lemak dan kopi “O” masing-masing dihargai 1 RM. Jadi untuk menu yang cukup mengenyangkan ini, kru Jubi membayar 3RM atau senilai Rp 10.500 (kurs Rp 3.500/1 MYR).

Setelah perut terisi, kru Jubi berjalan menuju Terminal Pudu Sentral untuk memesan tiket ke Hatyai. Terminal Pudu Raya merupakan bangunan yang terdiri dari empat lantai dan bebeapa lantai mezanin.Sama halnya dengan Indonesia, terminal ini dipenuhi oleh para calo, yang tak henti-hentinya menawarkan tiket kepada calon penumpang, meskipun ada tanda peringatan yang ditempatkan pihak perhubungan Malaysia untuk mengingatkan para calon penumpang untuk tidak membeli tiket dari para ‘perayu tiket’, istilah Malaysia untuk calo.

Nampaknya Penang adalah tujuan yang paling ramai diminati para pelancong, karena para calo yang ditemui kru Jubi tak henti-hentinya menawarkan tiket Kuala Lumpur – Penang kepada para calon penumpang yang memasuki terminal.

Loket penjualan tiket terletak di lantai 1. Sama seperti kepada para calon penumpang yang lain, kru Jubi didekati para calo yang menawarkan tiket. Ketika kru Jubi dengan sopan menolak tawaran mereka, salah seorang mengaku bukan ‘perayu tiket’ melainkan agen resmi karena tiket hanya dijual melalui loket. Karena jadwal keberangkatan bis pagi pukul 09:00 dan pukul 10:00 telah lewat (kru tiba di terminal pukul 10:05), kru Jubi memutuskan memesan tiket bis yang berangkat pukul 22:30.

Dengan membayar MYR 55 per orang, agen tersebut mengatakan kru Jubi dapat mendapatkan fasilitas tempat duduk yang nyaman dan akses wifi di dalam bis. Setelah membayar dengan harga yang tertera resmi di tiket, kru Jubi mendapatkan bukti pembayaran untuk ditukarkan dengan pass  setengah jam sebelum keberangkatan.

Mengingat jeda waktu yang cukup banyak sebelum masa keberangkatan ke Hatyai, kru Jubi memutuskan untuk ‘pusing-pusing’ kota Kuala Lumpur. Berbekal peta yang disediakan pihak hotel, kru Jubi berjalan keluar dari terminal bis dan menyusuri sepanjang Jl. Pudu dengan berjalan kaki menuju stasiun LRT, stasiun Pasar Seni. Kelak, kru Jubi menyadari bahwa tidak perlu berjalan kaki ke stasiun Pasar Seni, karena stasiun LRT terdekat masih terletak dalam kawasan Terminal Pudu Sentral.  Berjalan menyusuri Jl. Pudu, melewati kawasan China Town di siang hari dengan berjalan kaki cukup melelahkan, akhirnya kru Jubi tiba di stasiun Pasar Rakyat.

Mula-mula kru Jubi kebingungan mencari loket penjualan tiket LRT. Ternyata tiket dapat dibeli melalui mesin semacam ATM di Indonesia. Calon penumpang cukup memilih rute yang tertera di monitor layar sentuh dan memasukkan uang receh atau uang kertas ke dalam mesin. Secara otomatis mesin akan mengeluarkan token, sejeniskoin terbuat dari plastik, yang digunakan sebagai pass untuk pintu masuk LRT.

Mesin juga secara otomatis menghitung uang kembalian bila uang yang dimasukkan lebih besar dari jumlah yang dibayarkan. Dengan membayar RM 1,6, kru Jubi sukses menaiki LRT dengan tujuan KLCC, tempat menara kembar ikon Malaysia berada. Kru Jubi menaiki LRT yang sama untuk kembali ke terminal Pudu Sentral, dan melanjutkan dengan pusing-pusing di kawasan China Town yang berada di seputaran terminal dengan berjalan kaki.

Puas berpusing-pusing, kru Jubi beristirahat untuk makan siang di Medan Selera (semacam puja selera di Indonesia) yang berada di lantai empat Terminal Pudu Sentral. Pilihan menu tak jauh berbeda dengan Indonesia, bahkan banyak kedai makan di Medan Selera yang menawarkan menu soto dan nasi goreng. Setelah makan siang, kru Jubi memutuskan untuk kembali menyusuri jalan di sekitar kawasan Jl. Pudu, karena bis yang ditumpangi baru akan berangkat pukul 22:30 waktu setempat.

Berkeliling di kawasan China Town di malam hari berbeda dengan di siang hari, kawasan ini ternyata baru ramai setelah di malam hari. Lampion-lampion yang berjejer di sepanjang jalan menyala ramai, pedagang kaki lima memenuhi kawasan dan menawarkan aneka ragam barang dengan harga murah, mulai dari RM 1. Sudah dapat dipastikan barang-barang yang ditawarkan di China Town merupakan sasaran para turis antarabangsa  yang membeli oleh-oleh.

Pukul 22:00 kru Jubi kembali ke Terminal Pudu Sentral untuk menukarkan resi pembelian dengan tiket. Setelah mendapatkan tiket, kru Jubi segera menuju platform 14 lantai 1 yang menghubungkan terminal dengan bis. Penumpang disyaratkan berada di bis 30 menit sebelum keberangkatan untuk  pemeriksaan tiket. Setelah menunggu selama 1 jam, terlambat dari jadwal yang dijanjikan, bis akhirnya berangkat menujut Hatyai. Kondisi bis yang nyaman dengan fasilitas AC dan Wifi tak membutuhkan waktu lama untuk kru Jubi terlelap di dalam bis. Pukul 13:05 kru Jubi dibangunkan supir yang menepikan bisa dan menyuruh penumpang menyiapkan paspor. Seperti penumpang lain, kru Jubi menyerahkan paspor kepada supir yang kemudian berjalan menuju semacam loket imigrasi.

Para penumpang juga turun, sebagaian memanfaatkan waktu untuk sekedar mengisi perut, ke toilet dan menukar uang di jasa penukaran uang. Kru Jubi menukarkan sejumlah uang rupiah dan ringgit dengan bath, mata uang Thailand. Kurang lebih 30 menit di tempat perberhentian, bis kembali melaju menuju perbatasan Malaysia-Thailand di Bukit Kayu Hitam. Bis tiba di kawasan perbatasan pukul 5:00, dan antri pelan-pelan memasuki kawasan perbatasan yang baru dibuka pukul 6:00, tapi bis yang ditumpangi kru Jubi baru bisa memasuki pintu gerbang perbatasan pukul 8:00dan penumpang dipersilakan turun dengan membawa paspor masing-masing untuk antri di imigrasi Malaysia.

Kru Jubi tak mengalami masalah melewati imigrasi, petugas dengan ramah memberikan stempel dan mempersilakan kru Jubi untuk meneruskan perjalanan. Setelah semua penumpang selesai menjalani pemeriksaan imigrasi, semua penumpang kembali naik bis untuk menuju perberhentian berikutnya, Sadao, perbatasan Malaysia-Thailand.  Kru Jubi tiba di Sadao pukul 08:30 waktu setempat. Supir menyuruh semua penumpang bergegas menyiapkan paspor, dan antri di loket imigrasi. Berbeda dengan pemeriksaan di imigrasi Malaysia, antrian di imigrasi Thailand cukup panjang, karena para penumpang berpaspor negara manapun di satukan, kecuali yang memegang paspor India.

Ketika sedang mengantri, kru Jubi didatangi laki-laki yang kemungkinan adalah calo yang menyuruh kru Jubi untuk keluar dari antrian dan menuju kantor imigrasi yang letaknya di belakang loket antrian imigrasi. Dengan bahasa Inggris terpatah-patah, dia menyebutkan,” Indonesian passport? You go office.” Karena tidak dihiraukan, laki-laki ini akhirnya pergi. Sesaat sebelum turun untuk mengantri, salah seorang penumpang di bis yang sama ditumpangi kru Jubi, karena tahu ini kali pertama kru Jubi melewati Sadao, meyarankan kru Jubi untuk menyelipkan uang RM2 untuk memperlancar urusan di imigrasi, sebab bukan rahasia umum petugas di sini korup. Sebenarnya kru Jubi tidak kuatir dengan pertanyaan-pertanyaan petugas imigrasi, tetapi minimnya pengetahuan bahasa Inggris petugas sementara kru Jubi yang tidak memahami bahasa Thai pasti akan menimbulkan sedikit banyak masalah. Kru Jubi mengikuti saran laki-laki berpaspor Malaysia itu. Sarannya terbukti. Kru Jubi menyaksikan para penumpang yang dipersulit dengan ragam pertanyaan meskipun memengang paspor Thailand.

Usai pemeriksaan imigrasi, bis langsung melaju menuju Hatyai, yang merupakan kota terbesar di kawasan selatan Thailand dan kota ketiga terbesar di Thailand. Pukul 09:30 kru tiba di terminal bis dan informasi perhubungan Hatyai. Sesampai di Hatyai, kru Jubi mencari telepon umum untuk menghubungi rekan di Pattani, yang membantu menyiapkan taksi untuk melanjutkan perjalanan ke Pattani. Telepon umum di terminal ternyata tidak berfungsi, sementara kru Jubi tidak bisa mengandalkan komunikasi lewat ponsel.

Seorang laki-laki Thailand, agaknya calo taksi, datang menawarkan ponselnya kepada kru Jubi untuk menghubungi rekan di Pattani. Kru Jubi akhirnya bisa menghubungi supir taksi yang dipesan rekan di Pattani dalam bahasa Melayu. Setelah berhasil mengontak supir taksi dan rekan di Pattani, serta membayar BHT 20 kepada laki-laki yang meminjamkan ponsel, kru Jubi tinggal menunggu kedatangan Ismail, supir taksi yang akan membawa mereka ke tujuan terakhir, Pattani. (rom/Arjuna Pademme/Engelberth Wally).  (bersambung)

 

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Jubi Road to Patani