Jubi Road to Patani II

share on:
Masjid Jamik Al Fatoni, Masjid Terbesar di Wilayah Patani – Jubi/Engel Wally
Masjid Jamik Al Fatoni, Masjid Terbesar di Wilayah Patani – Jubi/Engel Wally

Jayapura, Jubi – Pattani, nama salah satu provinsi di bagian selatan Thailand. Di sana, mayoritas penduduknya adalah masyarakat muslim melayu yang taat beribadah. Meski begitu, mereka ramah terhadap siapa saja. Tak membeda – bedakan suku, ras, dan agama. Masyarakat Patani berpinsip, kita bisa berkawan dengan siapa saja. Perbedaan agama tak perlu dipemasalahkan.

Kali ini, kru Jubi melakukan perjalanan ke Pattani untuk menemui rekan-rekan media Wartani yang berkantor di wilayah Muang Pattani, Patani. Dengan meminjam ponsel dari seseorang yang agaknya calo taksi di Terminal Bis Hatyai, kru Jubi berhasil mengontak Ismail, supir taksi yang sebelumnya telah dipesan oleh seorang rekan Wartani.

Setelah kurang lebih 20 menit menunggu di terminal, akhirnya Ismail datang. Rupanya dia kesulitan mencari tempat kru Jubi menunggu. Beruntung, Ismail adalah pemuda Melayu Patani, jadi tak ada kendala soal bahasa, meskipun Ismail tidak begitu fasih berbahasa Indonesia.

Jarak Hatyai-Pattani kurang lebih 110 Km, ditempuh dengan waktu sekitar 1,5 jam. Pemandangan di sepanjang jalan menuju Pattani sekilas hampir mirip pemandangan yang dapat ditemui di kampung-kampung di Papua, kecuali jalan raya yang rata, mulus tidak bergelombang ataupun berlubang.

Kira-kira satu kilometer sebelum memasuki wilayah Pattani, Ismail kilometer sebelum mamasuki wilayah Pattani, Ismail menunjukkan kepada kru Jubi suatu pemandangan yang sangat mencolok: military check-point. Tampak tentara dengan menyandang senjata laras panjang ramai berjaga-jaga di check-point.

Ketika kru Jubi bertanya apakah penumpang harus turun dari mobil untuk diperiksa, Ismail menjawab sambil tersenyum,”Tidak perlu, mereka hanya berjaga saja. Kami di sini sudah terbiasa. Kamu pun kelak musti terbiasa juga.” Kru Jubi baru mengerti apa yang dimaksudkan Ismail setelah melewati  check-point kedua yang berjarak sekitar lima kilometer dari check- point pertama sebelum memasuki wilayah Pattani. Ismail memberitahu kru Jubi, kelak ketika sudah memasuki wilayah kota, jumlah check point akan lebih banyak lagi.

Melihat check- point yang dipenuhi militer bersenjata lengkap, sekilas terkesan situasi genting di kawasan ini. Namun, sikap Ismail yang tetap santai berkendara menenangkan kru Jubi. Lima belas menit berkendara di kota, mobil Ismail menepi di pinggir jalan, tempat seorang rekan Wartani menunggu.

Bersama rekan Wartani, kru Jubi menyinggahi Kantor Wartani untuk berkenalan dengan kru Wartani lainnya.

Kru Jubi menitipkan tas dan barang bawaan lainnya di Kantor Wartani. Selanjutnya, pergi bersama kru Wartani ke sebuah kedai kopi Baemak Ruto yang sangat ramai pengunjung. Di sana, rekan-rekan Wartani telah menunggu sambil santai minum kopi dan mengudap roti khas Patani. Kedai kopi itu paling terkenal di kalangan orang Pattani. Kru Jubi memesan kopi hitam dan penganan khas Patani untuk mengisi perut setelah menghabiskan sekitar 10 jam perjalanan dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Kru Jubi beruntung dapat berjumpa dan berkenalan dengan para aktivis, pekerja media dan budayawan Patani yang berkumpul di kedai kopi untuk memperbincangkan persiapan acara peringatan 61 tahun wafatnya Haji Sulong, tokoh agama, peletak dasar pendidikan Patani dan pembela hak-hak sipil masyarakat Patani.

Di kedai kopi Baemak Ruti, kru Jubi dan Wartani saling bertukar kabar tentang situasi terkini di daerah masing-masing.  Usai bercakap-cakap, kru Jubi kembali ke Kantor Wartani mengambil tas, kemudian beristirahat di penginapan yang sudah disiapkan kru Wartani.

Dengan mengendarai sepeda motor, kru Jubi dan Wartani meninggalkan kedai kopi. Di tengah jalan, dihentikan polisi. Kru Wartani dan kru Jubi sontak berhenti, tetapi polisi memberikan tanda kepada kru Jubi untuk meneruskan perjalanan. Kehilangan arah, kru Jubi berputar-putar mencari Kantor Wartani dengan perasaan agak panik, karena polisi tampak ada di setiap sudut jalan.

Setelah berputar-putar sekira setengah jam, akhirnya kru Jubi bertemu dengan kru Wartani yang menyadari kalau kru Jubi sudah tersesat. Setelah tiba di kantor Wartani, kru Jubi menanyakan sebab polisi memberhentikan kru Wartani, dan membiarkan kru Jubi lewat. Kru Wartani menjelaskan, di Patani, polisi punya wewenang untuk menghentikan siapa saja untuk difoto dan diambil sampel air liur untuk pemeriksaan DNA.

Polisi menggunakan taktik pembuktian DNA untuk secara semena-mena menuduh pemuda-pemuda Patani sebagai pemberontak. Kru Jubi lolos dari pemeriksaan polisi karena kebetulan membonceng salah satu kru Jubi  wanita. Polisi Thai hanya menjadikan laki-laki sebagai target. Bersyukur kru Wartani berhasil menghindar dari jebakan polisi dengan dalih aktivis dan pekerja media.

Kru Jubi kemudian beristirahat sejenak di PC Homestay, penginapan yang sudah disiapkan untuk mereka oleh rekan-rekan Wartani. Pukul 17:00 waktu setempat, kru Jubi dijemput kru Wartani untuk menghadiri acara peringatan 61 tahun wafatnya Haji Sulong. Dari kru Wartani, kru Jubi mengetahui kalau peringatan tokoh Patani ini baru boleh dilakukan sejak dua tahun terakhir.

Sebelumnya tak boleh ada peringatan, namun dua tahun terakhir ini militer dan Pemerintah Kerajaan Thailand mulai melunak. Keluarga, aktivis, tokoh agama dan pendidikan Patani, budayawan serta pekerja media berkumpul merayakan acara peringatan 61 tahun wafatnya Haji Sulong. Kru Jubi mengisi buku tamu yang telah disediakan panitia.

Acara peringatan diisi dengan berdoa, pembacaan puisi dan syair Melayu serta dialog yang melibatkan tokoh dan intelektual muda Patani. Pukul 22:00 kru Jubi memutuskan beranjak dari tempat peringatan untuk beristirahat di homestay karena kegiatan esok hari sudah menanti.

Rekan-rekan Wartani telah menyiapkan agenda yang cukup padat untuk kru Jubi selama enam hari di Patani, diantaranya bertemu dengan aktivis-aktivis hak asasi manusia, tokoh agama dan pendidikan Melayu, LSM-LSM lokal, organisasi mahasiswa, organisasi perempuan, dan masyarakat korban kekerasan aparat keamanan Pemerintah Kerajaan Thailand di wilayah Pattani dan Yala.

Hari kedua dan terakhir, kru Jubi berkesempatan berdiskusi dengan rekan-rekan Wartani tentang program laporan warga yang digagas kedua media ini, ketersediaan sumber daya serta pengelolaan media secara profesional untuk melawan media mainstream dengan menghadirkan berita yang aktual dan berimbang, serta berpihak kepada masyarakat untuk mendukung perdamaian di kawasan masing-masing.

Hari terakhir meninggalkan Pattani, kru Jubi menyempatkan menemui seorang kawan yang suaminya ditahan pihak Pemerintah Kerajaan Thailand dengan semena-mena. Setelah itu kru Jubi memanfaatkan waktu mengelilingi kota Pattani. Diantar rekan Wartani menggunakan mobil pinjaman seorang rekan Wartani lain, kru Jubi bertolak dari Pattani menuju Hatyai.

Perjalanan terasa agak lama dari perjalanan semula, karena dalam perjalanan kru Jubi beberapa kali berhenti untuk sekedar mencari oleh-oleh dan makan siang. Pukul 17:00, kru Jubi tiba di Hatyai. Karena bis yang ditumpangi kru Jubi baru akan berangkat pukul 19:00, rekan yang mengantar menyarankan untuk pergi melancong sejenak di ketinggian Kota Hatyai, tempat berdirinya Patung Budha Emas.

Setelah puas melihat pemandangan kota Haiyai dari ketinggian dan berfoto-foto, kru Jubi  kembali ke kota untuk siap-siap meninggalkan Hatyai menuju Kuala Lumpur. Kru Jubi pun bersalaman dan berpamitan dengan rekan Wartani yang mengantar. Pukul 17:10 bis yang ditumpangi kru Jubi bertolak dari Hatyai menuju Kuala Lumpur. Keesokan harinya, tanggal 21 Agustus 2015, kru Jubi bersiap-siap untuk naik pesawat dari Kuala Lumpur menuju Jakarta yang akan membawa mereka kembali ke Jayapura…Tamat. (rom/Arjuna Pademme/Engel Wally)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Jubi Road to Patani II