Milka Wally, Mengabdi Sampai Akhir

share on:
Jenazah Milka Wihelmina Wally saat Disemayamkan di Aula Asrama Putri GKI 'Yanmo" Padang Bulan, Jayapura - Jubi/ Angela Flassy
Jenazah Milka Wihelmina Wally saat Disemayamkan di Aula Asrama Putri GKI ‘Yanmo” Padang Bulan, Jayapura – Jubi/ Angela Flassy

Jayapura, Jubi – Awan duka kembali menyelimuti Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua. Pimpinan dan pengasuh Asrama Dorkas, Milka Wihelmina Wally meninggal dunia di RSUD Abepura, Pukul 10.15 WIT pada Kamis (27/8/2015).

Jenazah disemayamkan di Aula Asrama Yan Mamoribo, Padang Bulan, Jayapura. Ratusan pelayat hadir pada acara pemakaman pada hari Jumat (28/8/2015) di Pekuburan Umum Kristen Abepura. Setelah sebelumnya disembayangkan di Gereja Sion Padang Bulan, Jayapura.

“Ini perempuan yang setia yang sampai mati. Keinginannya hanya ingin mendidik perempuan Papua. Hasilnya sudah banyak. Ada yg ibu pendeta. Ada yang jadi PNS,” kata Pdt. Malowali yang ditemui saat melayat, Kamis (27/8/2015).

Tak banyak warga GKI yang tahu letak asrama Dorkas, apalagi masyarakat umum. Asrama Dorkas, adalah asrama putri yang terletak di belakang asrama Putri Yan Mamoribo, Padang Bulan Jayapura. Asrama milik GKI di Tanah Papua ini dikhususkan bagi pelajar putri tingkat SMP bagi anak-anak dari guru jemaat, guru injil atau warga jemaat yang berasal dari pedalaman dan tempat terisolir di Tanah Papua.

Milka Wally, pemimpin, pembina dan juga satu-satunya instruktur bagi para penghuni asrama tersebut. Milka Wally, bukan pendeta, bukan pula guru jemaat. Ia adalah pekerja sosial yang bekerja untuk membina perempuan Papua menjadi Perempuan Kristen.

“Dia selalu rajin dan tekun. Betul-betul pekerja sosial yang baik, Bekerja selalu riang gembira dan mengasihi anak anak. Dia setia dalam pelayanan hingga meninggal dalam tugas,” ujar pengajar senior Pembinaan dan Pengembangan Wanita (P3W), Marijke Werimon-Bakker yang mengenal Milka Wally sejak 1971.

Pada usia yang sangat belia, perempuan kelahiran Simporo Babrongko, 29 Juni 1946 mengabdi pada GKI di Tanah Papua sebagai pelayan sosial. Anak kedua dari pasangan Amos Wally dan Costhanthina Sokoy lulus dari Meisyes Vervolg (MVVS) Genyem pada tahun 1959, Milka lalu melanjutkan ke Nyverheids Cursus di Sentani. Tahun berikutnya ia mengikuti pelatihan di Pusat Pendidikan Sosial (P2S) yang kini menjadi P3W GKI di Padang Bulan dan kemudian menjadi pekerja sosial Gereja tingkat jemaat di Sentani.

Pada 1963, Milka dipanggil kembali ke P2S untuk menjadi guru pembantu dan pengasuh asrama P2S. Ia membantu melatih perempuan yang berasal dari kampung-kampung tentang segala keterampilan juga agama.

Ia juga menjadi perempuan pekerja sosial gereja pertama yang dikirimkan GKI di Tanah Papua untuk menempuh pendidikan di Sekolah Pekerja Wanita Kristen (SPWK) selama dua tahun di Magelang dan tamat 1969.

Selepas dari Magelang, ia kembali bekerja di P3W dan bekerja sebagai pekerja sosial gereja di beberapa komunitas. Milka membina kelompok remaja di Polomo Sentani (1974-1977), membina kelompok WTS di Jayapura (1980).

“Ia perempuan setia. Dia pu ketulusan penuh kesucian hatinya. Bertemu Milka kita melihat ada kekuatan dalam dirinya, yang terpancar ke kita sehingga kita selalu ingat tujuan dan arti dari apa yang kita kerjakan. Tidak banyak bicara, tapi Ia adalah cermin untuk kami intropeksi diri,” kata wakil ketua sinode GKI di Tanah, Pdt. Yemima Krey Mirino yang juga pernah bersama-sama Milka Wally bekerja di P3W.

Hampir sebelas tahun lamanya Milka meninggalkan P3W dan bekerja sebagai koordinator program wanita, budaya dan kaum muda/i pada Yayasan Bina Desa, menolong perempuan dan pemudi di kampung-kampung hingga pada 1996, Milka diangkat menjadi pimpinan dan pengasuh Asrama Putri GKI ‘Dorkas’ di Padang Bulan hingga ia menghebuskan nafas terakhirnya.

“Ibu benar-benar teladan. Sikap yang setia dan berkomitmen serta betul-betul melayani. Ia Benar benar pelayan sosial. Pelayan sosial yang sejati. Ibu Milka suka mengingatkan saya dengan hal hal yang dasar. Seperti tujuan gereja melakukan pembinaan jemaat. Dia berpegang teguh pada nilai nilai gereja dan tujuan pelayanan dan pendidik Kristen yang seharusnya dilaksanakan,” kata Hermin Rumbarar yang kini menjadi pimpinan P3W GKI di Tanah Papua.

Menjadi pimpinan dan pengasuh Asrama Putri GKI ‘Dorkas’ jauh dari kemewahan dan fasilitas yang memadai. Asrama Dorkas yang sederhana, mungil dan terletak belakang dan pojokan kompleks Asrama Putri GKI ‘Yan Mamoribo’ adalah rumah dan tempat pengabdian Milka hingga akhir. Meski sudah dipesiunkan pada 29 Juni 2012, Milka tetap mengabdi sebagai disana.

Saya sayang sama Ibu. Jika kami melanggar aturan, ibu kasi hukuman dengan menasihati. Ibu selalu kasih motivasi untuk sekolah. Tapi akhirnya saya jadi displin,” tutur Ochi Murib yang pernah tinggal di asrama Putri GKI ‘Dorkas’..

Selama 43 tahun bekerja sebagai pelayan sosial pada GKI di Tanah Papua, Milka membina jemaat khususnya perempuan tanpa menutut haknya. Semua kesulitan dan tantangan ia anggap sebagai bagian dari pengabdian dan tanggung jawab dia sebagai perempuan kristen.

Ibu Milka mengajar saya untuk sabar dan setia. Ibu juga selalu kasih semangat dan kasih jalan keluar jika kami menemui kesulitan. Ibu guru, teman dan juga rekan sekerja yang sangat baik,” kata pengajar P3W, Louisa Mirino.

Selamat jalan, Ibu Milka Wihelmina Wally. Perjalanan hidup ibu akan selau jadi menginspirasi semua anak asuh, semua teman sekerja dan juga semua perempuan Kristen. (*)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Milka Wally, Mengabdi Sampai Akhir