Kisah Deyus Salla, Penjual Koran Jadi Sarjana

share on:

3sallaJayapura, Jubi –  Awalnya Deyus Salla tak membayangkan dapat menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar sarjana sosial dari jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih pada Kamis, 3 September 2015 ini. Kematian bapak tercinta 17 tahun lalu dan mama yang hanya seorang ibu rumah tangga hampir saja memupuskan harapan Deyus untuk melanjutkan pendidikan di Kota Jayapura.

Setelah lulus dari SMA PGRI  WAMENA pada 2011, Deyus tidak pernah berpikir untuk melanjutkan stud di Jayapura. Tetapi pesan guru saat di SMA bahwa pendidikan adalah senjata ampuh untuk memerangi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, mendorong Deyus untuk merantau ke Kota Jayapura.

“Pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota Jayapura, hati terasa sedih, Karena harus berpisah dengan mama tercinta. Namun Saya Berusaha Bersabar demi tujuanku yang Termungkinkan saya memajukan daerah saya yang terbelakang,” ujar Deyus saat ditemui Jubi, Kamis (3/9/2015).

Ketika di Jayapura, keinginan Deyus hanya kuliah. Dari mana uangnya, bagaimana caranya, ia sama sekali tak memiliki gambaran. Namun teman-teman di Asrama GIDI Yahukimo tempat ia tinggal selama empat tahun ini memberikan jalan keluarnya.

“Saya diajak menjadi  penjual Koran. Dak akhirnya selama empat tahun saya tinggal dii Kota Jayapura dengan menjual koran,” tututrnya.

Setiap pagi, Deyus dan kawan-kawan menuju ke samping toko Sumber Makmur Abepura  untuk mengambil koran dari bagian pemasaran koran tersebut. Dan ketika dinyatakan diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik (FISIP) jurusan Antropologi, Universitas Cenderawasih Deyus tetap berjualan koran.

Awalnya ketika  menempuh pendidikan di jurusan Ilmu antropologi,  ia tak tahu apa itu  Antropologi, Ia terus berdoa, agar membantunya mengerti mengapa Tuhan menempatkannya pada jurusan itu dan meminta petunjuk dan pemahaman.

“Sebagai penjual koran, sebelum saya ke kampus saya jual koran dulu di sekitar Kotaraja, asrama Haji,” katanya.

Jika dirata-rata setiap harinya, Deyus mampu menjual koran paling banyak 15 examplar dan paling sedikit 10 examplar.  Itupun tidak langsung habis. “Biasanya ada saja sisa 5 hingga 7 examplar koran. Tapi kalau sudah jam 08:25 WIT, saya berangkat kuliah,” lajut Deyus.

Sisa koran ia titipkan di kios kenalan atau dititipkan ke teman yang masih berjualan untuk tolong dijualkan. Untuk setiap examplar, Deyus mendapatkan Rp 4500.

Berjualan koran tak segampang yang dilihat, sebab membutuhkan perjuangan yang serius dan Kesabaran yang tinggi. Berjualan diterik matahari, hujan, debu menjadi bagian dari keseharian penjual koran dan Deyus menyadarinya sebagai bagian dari perjuangan.

“Kadang teman-teman tegur, ade ko jualan koran itu ko dapat untungnya Berapa.? Kasihan ko tahan panas, hujan dan tahan lapar, cari Kerja yang lain Ka…!!! Kayak tidak ada pekerjaan lain saja,” tiru Deyus. Tetapi saya hanya diam dan beripikir, dan saya bangga dengan yang saya lakukan.

Pada masa perkuliahan, meski banyak hambatan dalam biaya kuliah, biaya fotocopy dan biaya-biaya lain, namun Deyus selalu berfikir positif dan optimis. “Jika Tuhan yang suruh saya ke Kota Jayapura, berarti Tuhan punya rencana buat saya kedepannya nanti”, tuturnya.

Puji Tuhan, karena campur tangan Tuhan dan dukungan dari saudara-saudara, teman-teman, adik-adik seperjuangan dan doa seluruh penghuni asrama (GIDI YAHUKIMO) yang selalu menopangnya dalam Doa dan dorongan,semangat, masukan serta saran saat penulisan skripsi. Akhirnya Deyus Salla dapat menyelesaikan kuliahnya pada 3 september 2015.

“Hanya ucapan terima kasih yang dapat saya panjatkan pada Tuhan Yesus, karena bagi Tuhan tak ada yang mustahil,” katanya.

Hari ini, Kamis 9 September 2015 Deyus dipanggil menghadap rektor Uncen dengan menambahkan  S.Sos pada akhir namanya.

Beribu-ribu terima kasih ia sampaikan kepada kedua orang tua,  Almarhum Bapak dan mama yang masih di kampung meski mama dan bapak tak bisa menghadiri acara wisudanya . (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Kisah Deyus Salla, Penjual Koran Jadi Sarjana