Harga Pinang Fluktuatif, Mama Ludia Tetap Berjualan Puluhan Tahun

share on:
Mama Ludia, pedagang pinang di Pasar Yotefa - Jubi/Enrico Karubuy
Mama Ludia, pedagang pinang di Pasar Yotefa – Jubi/Enrico Karubuy

Jayapura, Jubi – Mama Ludia (66), warga kampung Nafri terlihat sibuk merajut topi di pinggiran jalan tengah Pasar Induk Youtefa, distrik Abepura, Jayapura, Papua. Ia sedang menjaga meja yang berisi buah pinang yang biasa dikonsumsi masyarakat Papua. Hujan atau panas ia tetap berusaha mencari uang untuk kebutuhan keluarganya, juga membantu pembangunan gereja di kampung Nafri.

“Cari-cari harga sayur to, daripada tinggal di rumah bikin apa. Jadi sibuk dengan jualan begini sudah,” terang Mama Ludia saat Jubi mengajak ngobrol, Jumat (25/9/2015) kemarin.

Ia menuturkan, sejak sekitar tahun 1990an ia sudah berjualan pinang di pasar Youtefa. Meja ia letakan di perempatan bagian dalam pasar. Bersama belasan penjual pinang lainnya, dagangannya digelar untuk mencari uang guna kebutuhan rumah dan jajan cucu-cucunya. Terkadang ia mendapatkan untung apabila pinang sedang sedikit, dan bisa rugi saat pinang sedang banyak di pasaran.

Satu tumpuk pinang yang berisi sekitar 15-20 butir pinang dihargai Rp. 10 ribu sampai Rp 20 ribu tergantung bagus tidaknya pinangnya. Ada juga pinang ojek seharga dua ribu rupiah. Selain pinang, mama Ludia juga menjual Kapur untuk makan pinang seharga tiga ribu rupiah hingga Rp 10 ribu.

“Ada yang kita dapat lumayan untung, ada yang rugi juga. Namanya jual beli to. Begitulah cari hidup, untuk anak-anak sekolah, cucu-cucu dong pu uang jajan,” imbuhnya.

Pinang mama Ludia berasal dari rumahnya sendiri, beli dari tetanggaatau beli di pasar dari pengumpul pinang. Harganya satu karung (25 kilogram) sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Saat pinang sedang kosong di pasar, ia bisa mendapatkan untung sampai Rp 600 ribu, jika pinang sedang ‘banjir’ ia hanya mendapatkan untung sekitar Rp. 200 ribu. Sebagian keuntungan jualan pinang ia sumbangkan ke gereja Nafri yang sedang membangun ruang konsistori dan ruang serba guna.

“Pasar lagi sepi, sore baru ramai. Tapi sore tuh ramai dong cuma mondar-mandir saja,” terangnya.

Sejak pukul 07.00 pagi mama Ludia sudah berjualan di pasar sampai pukul 05.00 sore. Jika pasar sedang ramai ia membeli ke pengumpul, sebaliknya jika pasar sepi dan pengumpul menjual dengan harga terlalu tinggi ia tidak berjualan karena takut merugi.

Tong tau pasar to, jadi kalau pas tong pu harga tong beli kalau tidak tong tra beli,” kata Mama Ludia.

Sejak dulu, imbuhnya, ia hanya berjualan pinang saja. Tidak pernah ia berjualan dagangan lain seperti sayur karena tidak tahan. Ia memilih untuk berjualan daripada duduk-duduk saja di rumah. Saat panas dan hujan, ia berteduh di bawah payung besar bantuan Wali Kota Jayapura. Payungnya baru saja ia betulkan karena rusak hingga ia harus mengocek Rp 500 ribu.

“Kita harus berusaha, tinggal duduk saja tra mungkin mau datang sendiri to. Kita manusia semua sama harapannya hanya Tuhan. Segala sesuatu datang dari Tuhan, bukan kita manusia berusaha,” ujar Mama Ludia dengan yakin. (Enrico Karubuy)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Harga Pinang Fluktuatif, Mama Ludia Tetap Berjualan Puluhan Tahun