Penjual Noken: Kalau Mahal Buat Sendiri

share on:
Salah seorang penjula Noken - Jubi/Dok.
Salah seorang penjula Noken – Jubi/Dok.

Jayapura, Jubi – Tas rajutan tradisional khas Papua (Noken) sangat digemari oleh masyarakat laus. Dari bentuknya yang simpel. Tas tersebut dapat mengisi apa saja dan terlihat modis bagi yang menggunakannya. Bahan pembuatan Noken tersebut juga bervariasi, ada yang menggunakan serat kulit kayu hingga benang warna-warni keluaran pabrik.

Mama Imel (47) yang biasa menjajakan noken yang terdiri dari beberapa bentuk tas tersebut mengatakan tas tersebut hasil karya tangannya. Satu tas bisa diselesaikan sekitar tiga hari, itupun kalau dilakukan tanpa henti.

“Butuh ketelitian merajut noken. Kalau ukurannya besar, bisa seminggu, tetapi kalau kecil paling lama tiga hari,” katanya kepada Jubi, Jumat (25/9/2015).

Noken menurut Mama Imel adalah tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu. Sama dengan tas pada umumnya, tas ini digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari.

“Kalau di daerah pedalaman, noken terbuat dari serat kayu yang biasa digunakan untuk membawa hasil pertanian dan barang belanjaan dari pasar,” ucapnya.

Tapi Mama Imel tidak membuat noken dengan rajutan serat kayu. Dirinya lebih memilih merajut noken menggunakan benang karena bahannya mudah didapatkan.

“Banyak orang pesan noken dituliskan nama mereka atau coraknya warna-warni. Itu yang paling disukai. Kalau dipesan, baru saya buat. Kalau tidak, saya hanya menjajakan noken dengan motif yang sudah saya buat sebelumnya,” katanya.

Noken diambil dari bahasa Biak dari kata inokson atau inoken. Karena keunikannya dibawa dengan kepala, noken didaftarkan ke Unesco sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia.

Disinggung tantangan yang sering dihadapi saat menjajakan tas rajutan miliknya, Mama Imel mengatakan banyak sekali orang yang datang hanya sekedar melihat noken buatannya. Tidak sedikit menawarkan dengan harga yang tidak pantas.

“Satu noken kecil saya jual Rp 30 sampai Rp 50 ribu. Kalau sedikit besar Rp 100 ribu ke atas. Ada yang bilang, Mama mahal sampe? Saya jawab, kalau mahal buat sendiri to?,” katanya sambil tersenyum.

Mama Briyan, ibu empat, mengatakan dirinya tidak menjual noken namun kalau ada yang memesan akan dibuatkan.

“Saya awalnya belajar dari teman Tapi buatan saya bukan untuk dijual, hanya untuk anak-anak saya, biasa dipakai ke sekolah,” katanya.

Pemesan noken kebanyakan kenalannya dan juga tetangga di sekitar tempat tinggalnya.

“Walaupun saya bukan orang Papua, tetapi saya suka sekali dengan noken. Sekarang ini saya sudah memiliki 67 noken dengan berbagai ukuran. Hitung-hitung untuk koleksi pribadi. Tas ini terlihat simpel namun banyak kegunaannya dan tidak gampang rusak. Kalau kotor bisa dicuci, beda dengan tas yang kita beli di toko-toko. Kalau dipake cepat rusak,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Papua melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua, Elias Wonda, mengatakan untuk melestarikan budaya Papua agar tidak punah, setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup pemerintah provinsi Papua diharuskan memakai noken dan batik Papua setiap hari Kamis.

“Ini salah satu bentuk kepedulian pemerintah untuk melestarikan warisan budaya Papua,” kata Wonda sembari mengatakan hal ini sudah disepakati antara Pemprov Papua dan Kabupaten-Kota. (Roy Ratumakin)

 

Tags:
Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Penjual Noken: Kalau Mahal Buat Sendiri