Berikut Adalah Kronologis Versi Warga Yongsu

share on:
2 pucuk sentaja rakitan yang diambil di gunung ketika berada di atas lantai - Jubi/Ist
Dua pucuk sentaja rakitan yang diambil di gunung ketika berada di atas lantai – Jubi/Ist

Jayapura, Jubi — Pada  Sabtu tanggal, 19 September 2015, jam 17:00 WIT, keluarga Apaseray mengantar makanan   kepada saudara Yohan Okoseray yang sedang berkabung selama 40 hari di rumah karena istrinya meninggal dunia.

 

Sesudah 40 hari, keesokan harinya yaitu Minggu tanggal 20 September 2015 masuk ibadah sebagai satu tanda masa berkabung telah selesai (acara ini bersifat adat yaitu keluarga om-om/apaseray antar makanan kepada keponakannya/Yohan yang sedang berduka).

 

Rencana acara ini rupanya sudah diketahui oleh Kepala Kampung, Wilson Sorondanya dan kelompok pendukungnya, bahwa saudara Adrianus Apaseray alias Raja Syclop dan saudara Oktovianus Sorondanya akan hadir dalam acara tersebut.   Dalam acara tersebut saudara Yohan menjamu keluarga Apaseray   makan bersama sebagaimana biasanya, dan hadir pula saudara Oktovianus Sorondanya.

Sesudah acara makan minum dari jam 18:00 sampai dengan selesai jam 19:00 WIT. Dari jam 19:00 – 20:00 WIT; mereka duduk santai sambil makan pinang dan ngobrol-ngobrol sambil tutup pintu rumah. Menjelang jam 20:30 WIT tiba-tiba saudara Yehuda Serontouw bersama Kepala Kampung dan pengikutnya bersama empat  orang anggota TNI dari Kodim 1701 Jayapura dengan seragam lengkap dan topi baret merah menyergap rumah dan menendang pintu dan langsung menodong saudara Adrianus Apaseray dan saudara Oktovianus Sorondanya dan seorang anggota TNI mengatakan “tidak ada yang lari, kalau lari dapat tembak”.

Sesudah menyergap saudara Wilson Sorondanya (kepala kampung), Yehuda Serontouw, Otniel Yomilena, Yoni Yomilena, Oktovianus Yomilena, Sakeus Sorondanya, Elisa Sorondanya, dan Yohanes Okoseray mereka melakukan pemukulan kepada kedua saudara (Adrianus dan Oktvianus) sangat tidak manusiawi alias main hakim sendiri, terlebih Yehuda Serontouw memukul saudara Adrianus Apaseray dengan sangkur di bagian kepala dan bagian dahi dan mengeluarkan darah yang sangat banyak. Sesudah kedua tangan saudara berdua diikat masih dilakukan pemukulan oleh kelompok Yehuda sesudah itu mereka berdua diantar ke rumah ibu janda, Penina Norotouw/Yomilena beristirat sampai hari Minggu pagi.

Jam 06:30 WIT, kedua saudara (Adrianus dan Octovianus) dibawah ke hutan untuk mengambil senjata rakitan dari tempat persembunyian. Sesudah kembali dari hutan Jam 10:00 WIT pagi, diantar dari Kampung Yongsu ke Doromena, jam 12:00 WIT siang, dari Doromena diantar ke Doyo, jam 14:00 WIT tiba di Doyo.

Istirahat di Doyo kurang lebih dua jam, pada saat itu dua buah senjata rakitan dan semua amunisi diletakan di atas lantai rumah dan publikasikan oleh masyarakat sekitarnya tanpa perlindungan dari pihak TNI yang mengambil barang bukti tersebut. Ini merupakan salah satu bentuk pelecehan.

Selanjutnya pukul 16:00 WIT, dari Doyo diantar ke Kodam XVII/Cenderawasih dan tiba jam 17:00 WIT. Perjalanan dari Yongsu-Doromena-Doyo-Kodam didampingi istri dari kedua saudara tersebut dan saudara Wilson Sorondanya (Kepala Kampung).

Selanjutnya dari pukul 17:30-18:00 WIT, kedua saudara diinterogasi. Sesudah itu istri dari kedua saudara berpamitan dan diantar kembali ke Sentani. Pada hari Selasa pagi (22/09), kedua saudara dari Kodim diserahkan ke Polres Jayapura di Doyo.

Setelah peristiwa penyergapan saudara Adrianus Apaseray dan saudara Oktovianus Sorondanya (19/9/2015), mulai tanggal (20-25/9/2015), melalui berbagai media massa Kepala kampung Yongsu Wilson Sorondanya, Humas Polda Papua, Dandim 1701, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih mengeluarkan berbagai tangapan yang beragam yang tidak sesuai dengan bukti dan fakta lapangan serta turut memperpara kebohongan publik dan meresahkan warga masyarakat. (Abeth You)

 

Editor : dominggus
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Berikut Adalah Kronologis Versi Warga Yongsu