Blandina Ongge : Lestarikan Budaya Papua Lewat Batik

share on:

Jayapura, Jubi – Api kompor mini memanaskan lilin batik – orang Jawa menyebutnya malam – menyala perlahan-lahan. Di atas kompor, malam dipanaskan dalam wajan kecil. Mama Blandina Ongge (46) memberi malam pada motif kupu-kupu yang ada di kain katun putih dipangkuannya.

Ia mulai menekuni batik ini  sekitar 2008 lalu, pekerjaan ini terus bertahan sampai sekarang dan terus memroduksi batik terutama motif dan budaya Papua. Mama Ongge  mengerjakan batik-batiknya sendiri saja tanpa dibantu seorang karyawan pun. Hasilnyapun, tak main-main sudah puluhan motif karyanya yang telah dihasilkan.

Mama Ongge mengaku pertama kali belajar membatik saat Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Jayapura mengadakan pelatihan membatik. Usai pelatihan, Disperindag langsung memodalinya  berupa alat-alat dan bahan  membatik yang digunakannya untuk memroduksi batik.

“Tahun 2010 saya pertama kali ikut pameran di Keraton Solo,” kata Mama Ongge.

Setahun kemudian,  ia kembali ikut pameran di Jakarta Convention Centre, 2011. Pernah pula ikut pameran di ajang PON 2012 dan mendapatkan penghargaan dari Yayasan Batik Indonesia dan penghargaan dari Kementerian Perdagangan. Prestasi lainnya pernah juara pertama  nasional lomba desain batik.

“Batik sendiri itu motif atau gambar yang dituangkan ke atas kain, yang dimaksud dengan batik itu gambar yang sudah terkena lilin batik. Kalau batik printing itu sebenarnya sablon tapi menggunakan zat pewarna batik saja,” katanya.

Motif yang sering dipakainya adalah motif khas Sentani. Karena Mama Ongge orang asli sendiri sehingga ia ingin melanjutkan motif dari daerah sendiri. Namun bila ada pesanan motif lainnya, ia dapat mengerjakannya juga sesuai pesanan pembeli. Motif untuk Ondoafi itu namanya Rakakhomo,

Ada motif kura-kura, motif ikan, di dayung itu ada motif khusus untuk laki-laki ada untuk perempuan.

Proses pembuatan batik, kata Mama Ongge menjelaskan, dimulai dengan membuat gambar motif di atas kertas. Gambar yang sudah disediakan di kertas, tuangkan gambar tersebut di kain terus mulai gambar motif di atas kain. Setelah itu dicanting, diberikan malam pada motif yang sudah dibuat.

“Sudah dibatik selesai, kita masuk ke proses pewarnaan,” katanya.

Pewarnaan selesai masuk ke proses pencucian.

“Setelah kain itu dicuci warnanya sudah mantap, kain itu kita rebus untuk melepas lilin yang ada pada kain itu. Kita jemur sampai kering,” katanya.

Nah, kata dia, kain yang digunakan untuk membatik itu harus kain khusus, kain yang 100% itu full katun, tidak boleh ada campuran lainnya seperti nylon atau titrex.

Kain batik yang diproduksi dapat berupa bahan pakaian seperti kemeja atau rok dan blouse dapat juga berupa taplak meja, sapu tangan, kain sprei dan berbagai bahan lainnya. Tapi Mama Ongge menjual hasil karyanya dalam bentuk kain bahan. Ada yang berukuran 2,5 meter dan 3 meter dengan harga yang bervariasi dari Rp 400 ribu hingga Rp 750 ribu.

Untuk batik cap dengan pewarnaan sintetis ukuran 2,5 meter x 2,5 meter, harga jualnya Rp 400 ribu. Jika menggunakan pewarnaan alami harganya Rp 750 ribu. Sedangkan batik tulis dengan pewarnaan sintetis ukuran 2,5 meter x 110 meter harganya Rp 750 ribu. Apabila menggunakan zat pewarnaan alami harganya Rp 800 ribu.

Motif-motif yang ia pakai sudah dipatenkan. Beberapa motif yang hak patennya sudah keluar tapi belum diambil karena kepala dinas bilang masukan semua motif yang baru. Coba mama masukan supaya dipatenkan karena ada dua motif yang diambil oleh Kantor Pos dijadikan filateli prangko. Hal ini menjadi hal yang menyedihkan hatinya.

Mama Ongge mengatakan ia telah menyampaikan keberatannya kepada Kantor Pos di Jayapura namun tidak ada tanggapan. Kantor Pos Jayapura hanya menyarankan Mama Ongge menyampaikan komplainnya ke Kantor Pos Pusat di  Bandung. Alasannya, karena pembuatan perangko itu ditangani Kantor Pos Pusat.

Hal ini sudah dilaporkan juga ke Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan Dinas terkait.

Meski demikian, Mama Ongge masih tetap membatik untuk melestarikan budaya Papua yang ada dari motif-motif asli Papua. Ia bekerja sendiri, membatik saat ada pesanan maupun tidak ada pesanan. Jika ada pesanan, ia bisa mengerjakan dalam dua hari sampai seminggu.

“Saya kagum dan saya suka sesuatu yang unik di Papua. Saya bilang orang Papua itu punya motif itu banyak. Saya ingin supaya orang Papua itu bisa menggunakan motif itu di badan, saya harus belajar batik,” kata Mama Ongge. (Enrico Karubuy)

Editor : dominggus
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Blandina Ongge : Lestarikan Budaya Papua Lewat Batik