Inilah Fakta Persidangan Aktivis KNPB di Manokwari

share on:

Sorong, Jubi – Terdakwa Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Mnukwar, Alexander Nekenem dan aktivis KNPB lainnya tidak ditemukan melakukan aksi anarkistis.

Hal itu diketahui dari fakta hukum persidangan perkara pidana nomor:107/Pid.B/2015/PN.Mkw dengan terdakwa Alexander Nekenem, Yoram Magay, Maikel Aso dan Narko Murib, Senin (5/10/2015) yang menyebutkan, demo yang diprakarsai aktivis KNPB, 20 Mei 2015 di Jalan Gunung Salju, Amban, Manokwari berlangsung damai.

Menurut keterangan AKP Suroto, Kasat Bimmas Polres Manokwari yang diajukan sebagai saksi oleh Jaksa Penuntut Umum, Irna Indira R. dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Manokwari, dalam sidang yang dipimpin Majelis Hakim Ketua, Maryono, Ketua Pengadilan Negeri Manokwari dan hakim anggota, Thobias Benggian dan V.S.Wattimena, sepanjang saksi menjadi negosiator dengan pendemo kala itu tidak terjadi perlawanan terhadap kepolisian dari Polres Manokwari.

Suroto sebagai saksi menjelaskan bahwa pendemo dan terdakwa dalam perkara ini tidak melakukan tindakan kekerasan atau mengeluarkan kata hinaan terhadap petugas keamanan kala itu.

Negosiasi pihak Polres Manokwari dengan pendemo di bawah pimpinan Alexander Nekenem, Ketua KNPB Mnukwar guna meminta massa membubarkan diri karena alasan demo terebut tidak diizinkan oleh Polres Manokwari. Namun tidak menemukan hasil.

Selanjutnya atas perintah Wakapolres Manokwari, pasukan pengendalian massa Polres Manokwari mendekati pendemo untuk mengambil sejumlah atribut demo, seperti spanduk, pamflet dan megafon.

Menurut keterangan saksi, kala itu terjadi lemparan batu. Namun ia tidak mengetahui dari mana arahnya. Lalu petugas keamanan mengeluarkan tembakan gas air mata ke arah massa.

Dari keterangan saksi Suroto, tim penasihat hukum terdakwa Alexander Nekenem, dkk. mendapat gambaran bahwa fakta persidangan menunjukkan tidak ada kekerasan atau perlawanan secara fisik dan nonfisik oleh pendemo terhadap personil Polres Manokwari.

Direktur LP3BH Manokwari, Yan Cristian Warinusi, Selasa (6/10/2015) mengatakan, tidak ada fakta hukum yang menunjukkan bahwa para terdakwa melakukan perbuatan penghasutan kepada orang lain, karena menurut keterangan saksi Suroto, orator yang berorasi sering meneriakkan kata ‘Papua’ dan dijawab massa, ‘merdeka’.

Sidang perkara ini akhirnya ditunda Senin pekan depan dengan agenda mendengar saksi-saksi lain yang diajukan JPU.

Dalam sidang Senin kemarin, Olga Helena Hamadi, Kooordinator Kontras Papua dan Latifah Anum Siregar, Direktris Aliansi Demorasi Rakyat Papua sebagai penasihat hukum terdakwa.

“Tidak ada fakta persidangan yang membuktikan jika mereka melakukan kericuhan. Mereka hanya berorasi secara wajar,” kata Anum. (Niko MB)

Editor : Timoteus Marten
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Inilah Fakta Persidangan Aktivis KNPB di Manokwari