Merangkai Ingatan Oktober di Wamena, 15 Tahun Lalu

share on:
Tentara Indonesia berpatroli di Wamena - Reuters
Ilustrasi Tentara Indonesia berpatroli – Reuters/Yamin Muhammad

Jayapura, Jubi – Saya ingat baik, pagi itu, 6 Oktober 2000, 15 tahun lalu, Lembah Huwulama, Lembah Baliem, cerah walau hujan semalam. Pria brewok itu tancap gas motor GL Max melaju dari jantung kota Wamena menuju Wouma. Ia menghentikan motornya di depan saya dengan teman-teman yang sedang melangkah ke sekolah di SMP YPPK St. Thomas Wamena. Waktu itu saya SMP kelas I.

Ia matikan mesin motornya. Katanya, “Adik-adik pulang saja. Kamu tidak usah ke sekolah karena situasi sudah tidak aman lagi,” kepada saya dan teman-teman. Yosep Siep adalah salah satu teman yang masih dalam ada dalam ingatan saya.

Kami beradu pandang, binggung, tidak percaya, entah apa maksud pria brewok itu. Pria misterius itu kembali tancap gas motornya. Ia melaju ke arah pasar Wouma. Kami saksikan, ia belok kiri, ke arah panti asuhan Pelangi Dua, melewati depan rumah ketua Panel Jayawijaya, Obeth Tabuni.

Saya dan teman-teman bimbang ke sekolah atau pulang ke rumah. Kami terpaksa ke sekolah karena tidak ada kata “libur” dalam kamus kepala sekolah SMP YPPK St. Thomas, Stefanus Ngadimin. Ia selalu katakan anak-anak sekolah urus belajar,bukan ikut-ikutan atau libur fakultatif karena situasi. Situasi tidak boleh menghalanggi aktivitas belajar mengajar.

Kata kepala sekolah, mereka yang tidak datang dengan alasan apapun alpa, kecuali ada surat yang ditandatagani orang tua atau wali yang sah, yang sudah diketahui pihak sekolah. Kalau yang tidak jelas, alpa dan sanksinya bisa bawa kayu buah sesuai ukuran yang diminta atau pasir satu kubik atau isi air di WC sekolah dan bersihkan WC. Sanksi itu sangat berat untuk ukuran anak-anak SMP. Karena itu,selalu diusahakan tidak terlmabat atau alpa.

Ingatan beban sanksi itu membuat kami mengubur ketakutan dan ke sekolah. Wajah orang-orang sepanjang perjalanan nampak tegang dan mulut komat kamit mediskusikan isu. Cerita-cerita mulai berkembang hingga situasi betul –betul tegang.

“Io teman-teman benar. Tadi polisi,TNI dan Brimob bersenjata lengkap jaga di depan posko Induk Satgas Papua. Katanya, mereka akan melaksanakan perintah wakil presiden RI, mace Megawati Soekarno Putri untuk turunkan bendera Bintang Fajar di seluruh tanah Papua,” kata beberapa teman saya.

Saya dalam perjalanan tadi melihat polisi seragam abu-abu dan hijau. Mereka sudah mengunakan truk ke arah Honelama. Satu bendera di posko Honelama sudah diturunkan. Mereka potong tiang bendera dengan gergaji listrik. Satgas Papua yang melawan sudah ditangkap dan dibawa ke Polres.

Kaka saya bilang posko yang belum didatangi polisi menyatakan tolak turunkan bendera. Mereka bilang tidak akan mundur dan akan maju lawan polisi. Mereka sudah siap. Orang-orang dari seluruh penjuru kampung (kini wilayah pemekaran dari Jayawijaya) sudah menduduki empat sudut jalan keluar masuk kota, Wouma, Pikhe, Hom-hom dan Sinakma.

“Mereka akan mengepung kota. Mereka sudah siap tempur. Kita menghadapi situasi buruk tetapi kawan-kawan sudah lonceng di sekolah. Mari masuk,” ungkap Yosep sambil berlari masuk ke halaman sekolah.

Kami berlarian mengikuti Yosep. Kepala sekolah sudah berdiri di depan podium memperhatikan anak-anak berlari, mempersiapkan apel pagi seperti biasa. Ia mulai menasehati. “Kita tidak usah terpengaruh dengan keributan di luar. Urusan kita belajar ilmu yang akan menjadi senjata perjuangan hidup politik dan ekonomi kita,” jelas Stevanus Ngadimin, sang kepala sekolah.

Tiba-tiba, kekerasan meletus. Rententan tembakan mulai terdengar dari jantung kota. Kabar angin mulai tersebar. Pasukan gabungan sedang berusaha menurunkan bendera di posko Induk. Rentetan tembakan dan kabar yang tersebar itu mengundang reaksi. Warga kota mulai bangkit menebang pohon, menghaburkan batu, bakar ban di jalan di sudut sudut kota, memutuskan sambungan telepon, dan listrik.

Nonton Video Wamena Berdarah

Kepala menyenangkan anak-anak yang mulai panik. Ia memastikan semua anak aman di sekolah. Orang tua murid mulai membanjiri halaman sekolah. Ada yang bawa busur dan anak panah. Siswa mulai panik menghadapi situasi yang semakin memanas itu. Kepala sekolah tidak gegabah mengambil keputusan untuk memulangkan anak-anak. Ia terus berusaha memastikan setiap orang tua datang menjemput anak-anak. Ia tidak mau melepaskan anak-anak dalam desakan sekelompok orang tua. Anak-anak yang orang tua tidak dijemput dipastikan aman, pulang bersama teman lainnya.

“Kalau pulang, kalian harus saling melindungi, memastikan teman aman dari ketakutan dan gangguan orang di jalanan,” pesan sang kepala sekolah.

Saya berutung. Rumah hanya 200 meter dari sekolah. Saya bersama teman-teman keluar ke jalan menuju rumah. Jalanan menjadi sunyi sepi. Komunikasi antara teman-teman terputus. Kebiasaan wa (salam) dan pegang tangan sambil merangkul lenyap. Kebiasaan itu dianggap akan menjadi pelukan pengkhianatan dan pembantaian. Orang hanya berlalu lalang mencari keselamatan diri sendiri.

Saya dengar makin ramai letupan tembakan peringatan terhadap satgas Papua. Satgas tidak peduli dengan tembakan. Mereka berhias diri, mengelilingi dan menjaga tiang bendera Bintang Fajar yang berkibar di posko Induk. Negosiasi Kapolres Jayawijaya Daniel Suripatty berlangsung alot. Suripatty mendesak satgas Papua menurunkan bendera atas perintah Megawati Soekarno Putri. Satgas tidak menerima desakan itu dengan alasan pengibaran itu atas perintah presiden Gusdur.

Dualisme keputusan tidak menyelesaikan persoalan dan menyebabkan pertumpahan darah. Kapolres, Suripati memerintahkan pasukan gabungan menurunkan bendera secara paksa. Pasukan gabungan masuk lokasi posko Induk sambil melepaskan tembakan. Polisi melepaskan tali bendera dan turunkan bendera Bintang Fajar. Eliaser Alua yang bertugas pagi lari menahan tali bendera dan memeluk tiang bendera. Polisi mengarahkan tembakan. Alua jatuh berlumuran darah di bawah Bintang Fajar.

“Sensor saja tiangnya, biarkan oranya supaya mereka yang lain tahun sama nasibnya nanti,” teriak salah seorang aparat .

Kematian itu mengawali hujan batu dan panah dari masyarakat, satgas Papua ke aparat kemanan. Ada satgas Papua yang berusaha menghentikan aksi namun tidak ada yang mendengar. Polisi terus melepaskan tembakan memukul mundur warga dan satgas Papua. Polisi mengusai lapangan bersama TNI.

Jazad Alua dievakuasi. Entah kemana? Kepala pasukan menyiram besin ke atas darah dan posko Papua Merdeka. Nyala api membakar darah dan posko induk. Asap hitam membumbung ke langit biru pukul 11:00. Teriakan dan tangisan ibu-ibu Biak dari kompleks DPU sekitar lokasi terdengar jelas. Air mata dan darah mengalir. Duka menyelimuti tanah Huwulama.

Situasinya menjadi tegang, kira-kira pukul 13:00, tidak ada yang lalu lalang. Orang-orang duduk di persimpangan jalan dan terkurung di dalam rumah dan ada yang mengungsi. Pihak keamanan kembali ke markas. Jalanan menjadi sunyi sepi. Kabar korban penembakan, pemukulan, pemanahan, penombakan masyarakat sipil dan anggota polisi tersebar luas. Katanya, korban-korban dilarikan ke rumah sakit.

Saya penasaran dan ingin tahu. Ambil pisau panjang sekedar melindungi diri. Sisip di dalam baju dan menuju ke RSUD Wamena. Sampai di persimpangan pasar Wouma. Ada ribuan orang berhias diri, peralatan perang lengkap duduk berdiam diri. Sambil berbisik satu dengan yang lain. Bulu kuduk berdiri ketakutan. Rasanya berada di depan mulut serigala yang siap terkam.

Saya membiarkan perasaan itu menghantui diri. Saya melangkah hati-hati. Akhirnya tiba di rumah sakit. Ada beberapa perawat mendorong dua korban, berbadan telanjang, mengenakan celana polisi dari UGD menuju ruang operasi. Lengan mereka terikat kasa putih berlumuran darah. Kata orang kena panah dan tombak. Saya melihat sepintas lalu.

Saya terus menuju UGD. Pintu UGD tertutup rapat. Korban luka berserakkan di dalam UDG. Satu pria berbaring tengkurap di atas meja. Paha kanannya berlubang mengeluarkan darah. Perawat sangat sibuk menangani para korban. Saya tidak bisa berlama-lama. Saya ketakutan dan ingin cepat pulang. Perjalanan pulang siang itu menegangkan ketika menyaksikan asap sisa-sisa pembakaran posko Induk membumbung bersatu dengan langit biru. Orang-orang mengunci pintu-pintu rumah, memantau situasi lewat telpon dan lewat jendela dan cela-cela pintu rumah .

Saya tiba rumah. Alas karpet hijau, meletakan pisau di bawah bantal dan mendengarkan siaran Radio Republik Indonesia dari Jakarta pukul 15:00. Ada laporan langsung dari Wamena. Laporan itu menyebutkan Daguhe Mawel dan seorang guru SMP Kurulu, Odi menjadi korban pemukulan. Pembakaran dan pembunuhan Eliaser Alua tidak dilaporkan. Katanya, pasukan tambahan dari Brimob Polda Papua sudah diterbangkan dari Jayapura ke Wamena.

Sementera mendengar siaran radio, sebuah truk melaju dari kota, Polres Jayawijaya ke Wouma. Saya mendengar ada yang kokang senjata. Saya bergegas melihat lewat jendela. Benar ada dua truk kuning membawa pasukan Brimob. Saya keluar jalan raya dan memperhatikan dua truk itu dari belakang. Dua truk itu berhenti di turunan jalan jembatan Wouma. Pasukan lompat turun dari truk dan mengarahkan tembakan ke arah Wouma tanpa ada kekacuan di sana.

Penembakan itu memancing warga. Selang dua menit, terdengar teriakan, lonceng dan peluit komando dari posko Tolikara dan depan Asrama Pelanggi II dan Kampung Wouma. Ada seorang membawa panah bergerak lari ke kiri dan kanan, dari Arah Tolikara berada di belakang truk pasukan. Ia melepaskan anak panah mengenai leher seorang anggota. Pasukan itu tumbang ke jalan. Rombongan pasukan panik melihat rekan mereka jatuh. Penembakan makin brutal.

Komandan pasukan perintahkan anak buahnya kembali naik truk. Ketika truk mundur, saya lari masuk ke dalam rumah. Menutup semua pintu. Truk yang membawa pasukan itu berhenti di depan rumah, depan gereja Katolik Kristus Jaya Wamena. Jantungku berdebar kuat. Saya berjalan ke depan, ke belakang, mengitip keluar lewat jendela memastikan tidak ada yang masuk ke rumah.

Pasukan berpakaian preman mengarahkan tembakan ke pasar Wouma, dimana warga Papua diserang sebelumnya. Teriakan-teriakan warga Papua terdengar di pasar Wouma. Warga yang berani maju berguguran di jalanan. Kalau tidak salah, John Tabuni jatuh tertembak di depan Rumah Niko Lokobal, anggota DPRD Jayawijaya. Penyerang mengetahui ada yang melepaskan tembakan dari salah satu lokasi pasar. Lokasi itu menjadi sasaran massa. Pembunuhan, penembakan, pembakaran tanpa pelaku yang jelas terjadi sore itu.

Asap gelap menutupi kompleks misi. Cuaca pukul empat menjadi gelap. Hujan gerimis mulai menutupi kota. Teriakan korban terdengar jelas. “Tolong-tolong, anak isteri saya ditombak, dipanah,” teriak salah seorang pedagang. “Cepat lari, cepat lari,” jawab aparat yang mengarahkan tembakan ke kelompok penyerang. Teriakan minta tolong tadi berganti sirene ambulans.

Saya mengintip lewat jendela, petugas kesehatan mengunakan ambulans mengevakuasi korban dan keluarga-keluarga mengungsi dari lokasi kejadian ke Polres Jayawijaya dan Kodim Jayawijaya . Pastor Imam Katolik, Mikael Tege bediri mengepulkan asap rokok Kansas di depan pastoran, menyaksikan semua yang sedang terjadi. Saya masuk ke kamar memberitahu mama yang sedang memeluk adik yang baru dua bulan.

“Mama Pastor ada berdiri di depan pastoran. Mama ke pastor,” pintaku memohon.

Mama menyerahkan adikku. Mama berlari menuju pastoran dan pastor minta mama jemput semua orang yang ada di rumah. Mama menjemput kami. Mama membungkus adik dengan kain panas. Kami menuju pastoran ketika hari mulai gelap. Pastor memberi kami salah satu kamar dan bermalam di sana. Malam itu kami tidak mendapatkan aliran listrik. Lilin-lilin sisa misa hari Minggu dan hari raya menerangi gelapnya malam yang mencekam itu.

Di malam gelap, malam yang sunyi itu, telepon pastoran terus berdering. Pastor sibuk menerima telepon. Saat tidak ada yang telpon, pastor mengunjungi kami. Pastor hanya bertanya “aman to” dan tersenyum. “Kami semua tidak apa-apa,” jawab mama. “Aman tidur saja,” kata Pastor.

Pastor memberikan kenyaman, hendak tidur tetapi ketakutan mengusai. Kalau tidur takut, ngorok, kentut didengar musuh dan terlelap dalam tidur kemudian ada serangan lagi. Lucunya, kalau ada yang ngorok, bukan saya, nenek yang trauma dengan peristiwa Operasi 1977 terus tampar hidung yang ngorok dengan sandal jepit karet. Lama-lama hidung memar dan kesakitan.

“Aduh sialan tidak bisa tidur malam ini dengan nyenyak. Kenyamanan hidupku lenyap malam ini. Hidupku tidak aman dan damai. Saya ingin hidup tanpa tekanan dan ketakutan,” harapku.

Ada harapan lain yang lebih besar, agar malam itu cepat berlalu. Dan kini telah lebih dari 15 tahun sejak malam itu berlalu. (Mawel)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Merangkai Ingatan Oktober di Wamena, 15 Tahun Lalu