Januari-September 2015, Peredaran Uang Palsu di Papua Minim

share on:
Pelaku dan uang palsu yang diamankan. Jubi/Ans
Pelaku dan uang palsu yang diamankan. Jubi/Ans

Jayapura, Jubi – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Papua mencatat jumlah temuan uang palsu yang beredar di wilayah Papua sepanjang Januari sampai September 2015, mencapai Rp 1, 4 Juta.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua, Joko Supratikto, mengemukakan tingkat pemalsuan uang di Papua terbilang minim dibanding daerah lain di Indonesia.

“Di Jayapura, Papua, tingkat pemalsuan uang tidak terlalu tinggi. Kapasitasnya hanya sedikit sekali,” kata Joko Supratikto, melalui siaran pers yang diterima Jubi, Selasa (13/10/2015).

Supratikto mengatakan hingga triwulan ketiga 2015 ini hanya ditemukan satu pecahan 100 ribu dan tiga pecahan uang 50 ribu di akhir bulan September.

“Pada bulan Juli-September kita temukan upal satu lembar uang pecahan lima puluh ribu dan September kita temukan lagi seratus ribu,” katanya.

Untuk mengantisipasi beredarnya uang palsu, pihaknya rutin mengadakan sosialisasi ciri-ciri keasliaan rupiah. Hal ini menjadi penting dilakukan dalam rangka meredam semakin signifikannya peredaran uang palsu.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kehati-hatiannya dalam bertransaksi tunai. Ciri-ciri fisik untuk memastikan keaslian uang harus diperhatikan.

“Khususnya uang pecahan besar, juga periksa secara teliti setiap menerima uang,” katanya.

Joko Supratikto mengimbau masyarakat lebih baik menggunakan transaksi elektronik untuk menghindari peredaran uang palsu.

Sebelumnya, Bank Indonesia mengakui kesadaran masyarakat terhadap akses perbankan masih sangat rendah. Tahun 2014, data Bank Sentral menunjukkan hanya 36 persen warga masyarakat memiliki akses bank. Tahun 2015 Bank Indonesia menargetkan porsi masyarakat melek bank mencapai 50 persen.

“Saat ini masyarakat kita cenderung memiliki pola pikir cash minded economy. Karenanya, transaksi di Tanah Air masih lebih banyak menggunakan uang tunai,” kata Deputi Direktur Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusi Bank Indonesia, Rahmi Artati, dikutip dari Tempo .co

Menurut Rahmi, Layanan Keuangan Digital diharapkan dapat memperluas layanan sistem keuangan yang selama ini terbatas. Selain itu, LKD merupakan program yang dijalankan bank bagi masyarakat unbankable. (Sindung Sukoco)

 

Editor : Dewi Wulandari
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Januari-September 2015, Peredaran Uang Palsu di Papua Minim