Pemkot Jayapura Canangkan Gerakan Minum Obat Filariasis

share on:
Penyakit filariasis(pembesaran kantong zakar) tampak terlihat pada pria dewasa di Distrik Kirihi Kabupaten Waropen(foto:ist/jubi)
Penyakit filariasis(pembesaran kantong zakar) tampak terlihat pada pria dewasa di Distrik Kirihi Kabupaten Waropen(foto:ist/jubi)

Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Arif Dwi Darmanto, mengatakan pencanangan pelaksanaan bulan eliminasi filariasis Kota Jayapura akan dilaksanakan pada 19 Oktober 2015.

“Obat telah kami siapkan sesuai jumlah penduduk Kota Jayapura sekitar 491.800,” kata Arif, kepada Jubi, Selasa (13/10/2015).

Arif minta masyarakat bisa langsung menghubungi petugas medis di lingkungan terdekatnya, guna mendapatkan obat filarisiasis tersebut.

Pelaksanaan bulan eliminasi filariasis akan dilakukan secara bertahap selama lima tahun.

“Satu tahun satu kali. Setiap bulan Oktober masyarakat diwajibkan minum obat filariasis. Ini dilakukan selama lima tahun berturut-turut,” kata Arif.

Sosialisasi dan pembagian obat akan dilakukan di seluruh wilayah Kota Jayapura melalui puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), dan posyandu (pos pelayanan terpadu).

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua, Aloysius Giyai, mengatakan pihaknya menggelar minum obat Filariasis atau Kaki Gajah secara serentak pada 1 Oktober 2015, silam.

Kegiatan tersebut melibatkan 3.000 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Jayapura, bertempat di halaman Kantor Gubernur Papua setelah apel pagi, serta dilanjutkan ke seluruh kabupaten/kota di Papua.

“Seluruh masyarakat di masing-masing kabupaten/kota di Papua harus minum obat filariasis. Kita sudah mendahului pencanangan minum obat filariasis di Kabupaten Nduga, setelah acara peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit tipe D pratama di Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga pada Rabu (16/9) lalu,” katanya.

Aloysius menjelaskan, penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis) adalah golongan penyakit menular yang disebabkan cacing Filaria yang ditularkan melalui gigtan nyamuk.

“Penyakit ini menahun (kronis). Bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin, baik perempuan maupun laki-laki,” katanya. (Sindung Sukoco)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Pemkot Jayapura Canangkan Gerakan Minum Obat Filariasis