Kurikulum dan UN Paling Banyak Disorot

share on:

Jakarta, Jubi/Antara – Persoalan penerapan Kurikulum 2013 dan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) menjadi dua hal yang paling banyak disorot dalam setahun kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan era Joko Widodo-Jusuf Kalla.

“Kedua hal itu merupakan persoalan yang paling banyak disorot dalam setahun terakhir,” kata Mendikbud, Anies Baswedan, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (19/10/2015).

Dia menjelaskan saat dia menjabat, Kurikulum 2013 secara keseluruhan baru diterapkan di sekolah dan banyak perdebatan yang terjadi antara guru, orang tua, siswa, maupun pemerhati pendidikan.

Kemudian Kemdikbud membentuk tim yang bertujuan melakukan peninjauan dan evaluasi pada kurikulum tersebut. Rekomendasi dari tim evaluasi yakni menunda penerapan kurikulum 2013 dan melakukan perbaikan.

Penerapan Kurikulum 2013 pada masa itu terkesan mengejar tenggat waktu, bukan kualitas, sehingga ada beberapa hal yang belum matang.

“Idenya sudah baik, tapi proses kedua dan ketiga belum dipersiapkan secara matang, sehingga timbul masalah saat penerapan,” katanya.

Sementara itu, terasi perubahan mendasar pada UN, yakni UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan dan lebih mengutamakan kejujuran pada siswa.

“Negara melakukan terobosan dengan mengukur tindak kecurangan melalui indeks integritas,” kata Anies.

Selain itu, mekanisme UN juga tidak hanya dilakukan secara konvensional melalui ujian berbasis kertas, tetapi juga ujian berbasis komputer atau CBT. Terdapat sekitar 700 sekolah dan 170 ribu siswa melakukan UN CBT. Tahun 2016 sistem UN CBT akan bertambah.

Terdapat tiga strategi utama program Kemdikbud, yakni penguatan pelaku pendidikan dan kebudayaan, peningkatan mutu dan akses pendidikan dan kebudayaan, serta peningkatan efektivitas birokrasi dan pelibatan publik. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Kurikulum dan UN Paling Banyak Disorot