FKUB Kota Jayapura Lakukan Kunjungan Kerukunan di Kota Surabaya

share on:
FKUB Kota Jayapura dan FKUB Kota Surabaya usai pertemuan - Jubi/IST
FKUB Kota Jayapura dan FKUB Kota Surabaya usai pertemuan – Jubi/IST

Jayapura, Jubi – Sebagai miniatur Indonesia, Kota Jayapura telah membuktikan diri sebagai kota pluralis yang mampu menjadi barometer kerukunan di Papua, terutama dengan semboyan Hen Tecahi yo Onomi T’mar Ni Hanased (Satu Hati Membangun Kota untuk Kemuliaan Tuhan).

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Jayapura, Papua, Pdt. Willem Itaar dalam kunjungan balasan ke FKUB Kota Surabaya (14-17/2015) menegaskan, kehidupan kerukunan umat beragama di Jayapura aman dan kondusif.

“Sebagai kota pelabuhan dan menjadi destinasi penduduk dari luar Papua, kota Jayapura menikmati lonjakan penduduk tertinggi di dunia,” kata Ketua FKUB Kota Jayapura, Pdt. Willem Itaar kepada Jubi, Minggu (25/10).

Sementara itu, tokoh Nadlatul Ulama (NU) Papua, Dr. H.Toni Wanggai memberikan klarifikasi tentang kasus Tolikara yang sering disalahpahami warga Surabaya, karena termakan pemberitaan media yang menyesatkan.

“Insiden Tolikara bukan konflik agama. Hanya masalah komunikasi. Kerukunan telah tercipta selama 200 tahun antara Islam dan Kristen di Tanah Papua. Ada kearifan lokal, Satu Batu Tiga tungku, ada agama keluarga, bahkan komunikasi dan kerja sama pemeluk agama mendirikan gereja dan masjid serta menjaga kerukunan pada Natal dan Idul Fitri di kota Jayapura adalah bukti toleransi yang baik,” tegas Dr. H. Toni Wanggai.

Menurut Wanggai, Kota Jayapura cukup berhasil mengelak dari konflik komunal serta ketegangan antara pemeluk agama, karena memiliki beberapa faktor positif.

Staf Khusus FKUB Papua, Ridawan al-Makassary yang pernah mengikuti studi resolusi konflik di Amerika Serikat dan Thailand mengatakan, faktor positif yang menjaga kota Jayapura adalah peranan dari FKUB dan FKPPA. “Selain itu ada beberapa faktor yang mengikat kohesivitas, pertama, perayaan hari besar keagamaan seperti natal berfungsi sebagai ‘semen sosial’ bagi masyarakat luas,” kata Ridwan.

Dikatakan Ridwan yang juga adalah dosen Hubungan Internasional di kampus USTJ Papua, perayaan hari perdamaian internasional juga menyadarkan masyarakat pentingnya hidup damai secara bersama. “Selain itu, bencana alam seperti banjir, kelaparan, gempa bumi sanggup menyatukan umat manusia untuk saling membantu. Tapi tidak berarti kita berharap selalu ada bencana untuk kita menyatu, laksana Aceh yang menyatu setelah Tsunami tahun 2004,” terangnya.

“Juga tim Persipura adalah fakor pemersatu warga Papua dan non Papua. Ini tim juara perlu dijaga terus. Singkatnya, perdamaian melalui olahraga. Terakhir, visi Papua Tanah Damai yang selalu dihidupkan pada 5 Februari sebagai hari Pekabaran Injil atau hari Papua Tanah Damai adalah perekat sosial untuk hidup damai di antara semua penganut iman dan etnik/sub etnik yang puspa ragam,” bebernya.

Kunjungan ini difasilitasi oleh Walikota Jayapura, Dr. Benhur Tommy Mano yang memiliki kepedulian tinggi terhadap promosi kota Jayapura sebagai pusat percontohan toleransi di Tanah Papua.

“Sebelumnya, di bulan April 2015 lalu, FKUB Kota Surabaya melakukan kunjungan ke FKUB Kota Jayapura. Jadi ini kunjungan balik,” ujarnya.

Bupati Caretaker Pemkot Surabaya, Jawa Timur, Sunardi yang menerima tim FKUB Kota Surabaya mengatakan, satu keunggulan nyata dari Pemkot setempat kepada FKUB Kota Surabaya adalah dukungan dana yang besar terhadap upaya menciptakan kerukunan.

“Rp. 2,5 Milyar pertahun dana diberikan kepada FKUB kota Surabaya sehingga tidak hanya kegiatan-kegiatan ril untuk kerukunan mereka juga bisa kunjungan ke Vatikan dan negara-negara lainnya di dunia,” kata Bupati Sunardi. (Abeth You)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  FKUB Kota Jayapura Lakukan Kunjungan Kerukunan di Kota Surabaya