Kepercayaan Agama Suku-suku di Tanah Papua

share on:
Raja ampat -jubi-ist
Raja ampat -jubi-ist

Jayapura, Jubi- Jauh sebelum masuknya ajaran Kristen dan Islam masuk ke Tanah Papua tiap suku bangsa di Tanah Papua mempunyai system kepercayaan tradisi. Masing-masing suku memiliki kepercayaan tradisi yang percaya akan adanya satu dewa atau Tuhan yang berkuasa atas dewa-dewa.

 

Begitulah pendapat yang dikutip Jubi dari buku berjudul Perspektif Budaya Papua yang disunting oleh antropolog Dr Agapitus Ezebio Dumatubun dari jurusan antorpologi FISIP Universitas Cenderawasih.

Lebih lanjut Dumatubun menjelaskan misalnya pada orang Biak Numfor, menyebut dewa tertinggi mereka, Manseren Nanggi. Tak heran kalau jaman dulu orang Biak melakukan upacara bagi Manseren Nanggi agar panen dan hasil tangkapan ikan terus melimpah.

Begitupula dengan orang Moi di Kepala Burung, Papua Barat menyebut Fun Nah, orang Seget memanggil dan menyebut Naninggi. Orang-orang Wandamen di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat menyebut Tuhan mereka dengan nama Syen Allah. Orang Malind Anim di Selatan Papua memanggil Dema sedangkan orang Asmat menyebut Alawi.

Semua suku di Tanah Papua memiliki sebutan masing-masing tentang dewa di atas dewa-dewa termasuk masyarakat Suku Mee di Pegunungan Tengah Papua memanggil nama Ugatame.

Semua dewa atau Tuhan diakui dan dihormati karena dianggap dewa pencipta yang mempunyai kekuasaan mutlak atas nasib kehidupan manusia. Sebagai makhluk yang tidak kelihatan, juga dalam unsur alam seperti, angin, hujan, petir, pohon besar, sungai, pusaran air, dasar laut, tanjung tertentu termasuk gunung dan lembah.

Kekuatan-kekuatan alam itu diajak dan dibujuk untuk melindungi manusia dengan pemberian sesaji dan upacara-upacara sesaji. Misalnya orang Biak jaman dulu memberikan makan pada Nanggi atau Wor Befan faro Nanggi. Upacara ini dilakukan saat panen dan hasil tangkapan yang melimpah termasuk meminta agar warga mendapat perlindungan dari keganasan alam seperti gempa atau angin rebut.

Upacara-upacara adat dalam suku-suku dan system kepercayaan tradisi sudah tidak lagi berlangsung secara rutin sejak orang Papua mulai memeluk agama Islam dan Kristen, Katolik. Walau demikian dalam menghadapi persoalan maupun tantangan yang menimpa manusia di Papua seperti kecelakaan, sakit dan mati ternyata masih ada orang Papua yang mencari jawabannya melalui kepercayaan tradisi mereka masing-masing.

Antropolog Dr JR Mansoben yang mengambil doctor dari Universitas Leiden, Negeri Belanda menyebut agama besar seperti Islam dan Kristen masuk ke tanah Papua dengan periode yang berbeda-beda. Agama besar pertama yang masuk di Papua yaitu agama Islam di daerah Raja Ampat dan Fakfak, Papua Barat. Agama Islam berasal dari kepulauan Maluku dan disebarkan melalui hubungan perdagangan yang terjadi di kedua daerah tersebut.

Menurut peneliti dan antropolog Belanda Van der Leeden(1980-22), agama Islam masuk di daerah Raja Ampat ketika daerah itu mendapat pengaruh dari Kesultanan Tidore pada abad ke 13. Agama Islam tidak menyebar secara nyata dan meluas, hanya dianut oleh golongan-golongan penguasa tertentu di kalangan raja-raja. Penyebaran agama Islam baru berlangsung bagi orang-orang Dani di daerah Walesi, Lembah Baliem sejak 1990 an.

Agama besar lainnya yang datang dari luar adalah agama Kristen pada pertengahan abad ke 19, jadi sekitar enam abad sesudah masuknya agama Islam di Raja Ampat dan Fakfak. Pada 5 Februari 1855 tepatnya di Pulau Mansinam pada zending menginjak kakinya Ottow dan Geissler dari Jerman datang ke Tanah Papua. Geisler selama 14 tahun di Mansinam Kabupaten Manokwari, Papua Barat sejak 1855 sampai dengan 1870. Kemudian dilanjutkan oleh Utrechtshe Zendings Vereninging(UZV) yang tiba di Mansinam pada 1862. Selanjutnya aliran Pantekosta Betel di Sorong (1950), 1930 Christian and Missionarry Alliance(CMA) di Enarotali Paniai, Ajamaru 1952 dan Gereja Protestan Maluku di Fakfak.

Sedangkan agama Katolik pertama kali agama Roma Katolik melakukan missi pekabarannya di Selatan Papua. Missi ini ditandai dengan datangnya pastor Le Cocq d Armandville SJ dari ordo Yesuit yang tiba di Kapaur, Fak-fak pada 1894. Ia tidak bekerja lama dan kemudian tenggelam dalam perjalanan ke Mimika akibatnya terhenti sementara waktu.

Selanjutnya kegiatan missi Katolik pada 1902 dari ordo Misi Hati Kudus(Missionarisen van het Hlige Hart) dari Negeri Belanda dari perwakilan yang berkedudukan di Langgur Kepulauan Kei, mendapat mandate untuk penyebaran agama Katolik di Selatan Papua. Setelah mengalami perkembangan pesat di Selatan Papua, pada 1950 dibangung vikariat Merauke dan Hollandia pada 1954.

Masulknya agama-agama di Papua menunjukan bahwa aspek ini menambah kemajemukan orang Papua yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Studi Summer International Linguage(SIL) menyebutkan terdapat sekitar 250 suku bangsa di Tanah Papua. Di sisi lain masuknya agama-agamadi tanah Papua membuat kekerabatan dan golongan suku semakin majemuk dalam umat kepercayaan yang semakin beragam.(Dominggus Mampioper)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Kepercayaan Agama Suku-suku di Tanah Papua