Dari Kerk der Hoop di Mansinam Hingga GKI Harapan Abepura

share on:
Gereja Pengharapan Abepura pada tahun 2006 - IST
Gereja Pengharapan Abepura pada tahun 2006 – IST

Jayapura, Jubi – Proses sejarah lahirnya Gereja Kristen Injili GKI) di Tanah Papua sebagai gereja peninggalan Zending Protestan Belanda ternyata punya fase tersendiri hingga di usianya yang ke 59 tahun (26 Oktober 2015). Dimulai dari sebuah perkumpulan kecil di Belanda bernama ‘Utusan Tukang’ yang didirikan oleh seorang bernama Gosner.

Dia punya misi besar mengutus para utusan tukang yang dididik juga sebagai misionaris Protestan ke daerah-daerah yang dianggap kafir dan belum tersentuh misionaris Eropa kala itu. Gosner dalam wadah utusan tukang, awalnya merekrut sejumlah orang muda Eropa (terutama Belanda) yang punya tekad kuat meninggalkan tradisi sekulerisme Eropa dan memilih mengabdikan diri sepenuhnya menjadi misionaris militan.

Setelah para utusan tukang itu direkrut dan dilatih selama beberapa waktu, mereka akhirnya mendapat undian yang dipilih secara acak. Undian inilah yang akan membawa mereka menginjili wilayah-wilayah yang dianggap gelap, penduduknya masih punya tradisi tribalisme yang kuat, menyembah berhala dan roh kegelapan, punya tradisi perang suku, pengayau kepala dan pemakan daging manusia.

Diantara para utusan tukang Gosner, dari undian yang dipilih juga menghantarkan beberapa orang menginjil di Afrika dan sejumlah tempat lain yang belum mengenal Injil Kristen. Adalah Carl Willian Ottow dan Johan Gotlieb Geissler, dua pemuda Jerman yang pemalu dan saat itu masih minim pengalaman. Mereka berdua diutus ke wilayah di Pasifik Selatan, yakni ke Nieuw Guinea atau Guinea Baru.

Nama Nieuw Guinea berasal dari catatan beberapa pelaut Belanda, salah satunya Jan Carztens yang pernah mengunjungi wilayah tersebut dan memberi nama puncak gunung Jayawijaya yang tertutup salju dengan namanya. Nama dalam bahasa Belanda itu dipilih untuk membedakan nama wilayah ‘Guinea’ di Afrika. Meski demikian, sejumlah pelaut tangguh asal Portugis dan Spanyol, salah satunya Ynigo Ortiz de Retes juga pernah memberi nama “Ilhas dos Papuas’ sebagai nama yang berbeda untuk Papua sebagai daerah penginjilan yang akan dituju dua misionaris Jerman itu.

Dari narasi singkat sejarah yang berhasil dihimpun, diketahui nama Jemaat GKI Harapan Abepura atau dalam bahasa Belanda kata Harapan yang disebut ‘der Hoop’ diambil dari nama Gereja Harapan (Kerk der Hoop) yang mula-mula didirikan di Pulau Mansinam (Maokwari). Gereja Harapan ini merupakan gereja awal yang dirintis dua misionaris Jerman, C.W. Ottow dan J.G. Geissler beberapa waktu setelah tiba di Nieuw Guinea pada 5 Februari 1855.

Setelah misi penginjilan Zending Belanda yang dirintis dua misionaris Jerman itu mengalami perkembangan, misi penginjilan pun diperluas ke sejumlah wilayah Nieuw Guinea hingga mencapai wilayah Tabi dan akhirnya ke Holandia Binnen atau yang saat ini disebut Abepura. Sekitar tahun 1940-an wilayah Holandia Binnen lamban laun menjadi wilayah pusat pemerintahan Netherland Nieuw Guinea.

Di daerah Holandia Binnen ini pun dibangun sejumlah pusat pendidikan dan kesehatan oleh Pemerintah Belanda. Diantaranya, Lagere Administative School (LAS) yang berlokasi di Kotaraja Dalam, Sekolah Theologi I.S. Kijne di Abepura, Sekolah Pamong Praja yang berlokasi di Kampung Yoka dan Rumah Sakit Sentral Holandia Binnen Hospital di Abepura.

Meskipun misi Zending telah berhasil mencapai wilayah Holandia Binnen, namun upaya penyebaran injil secara luas ke beberapa wilayah sekitar masih menemui kendala. Hal ini disebabkan minimnya fasilitas gedung dan personil yang memadai untuk menunjang aktivitas pekarababaran injil. Karena kendala inilah, lahir kelompok kecil yang dibentuk untuk melayani, bersekutu, beribadah dan berdoa.
Persekutuan itu diberi nama ‘Ebenhaezer’ yang dalam Alkitab berarti ‘sampai disini Tuhan. Anggotanya terdiri dari beberapa suku seperti; orang Papua, Manado-Sangihe dan Maluku. Mereka yang tergabung dalam persekutuan ini merupakan para pegawai Pemerintahan Belanda dan masyarakat setempat.
Karena Holandia Binnen saat itu belum memiliki gedung gereja permanen sebagai tempat ibadah sehingga untuk beribadah harus dilakukan berpindah-pindah, maka perkumpulan Ebenhaezer lalu menjadikan sebuah bangunan eks peninggalan Pasukan Sekutu saat PD II sebagai tempat ibadah. Bangunan itu berlokasi di persimpangan Jalan Biak dan Jalan Sekolah Abepura sekarang.

Seiring dengan perkembangan waktu, lokasi tempat ibadah Jemaat Ebenhaezer ini kemudian berpindah ke bangunan eks barak tentara Amerika (Pasukan Sekutu) yang berlokasi dekat SD Negeri 3 Abepura. Tempat ibadah itu lalu berpindah lagi ke eks barak Pasukan Sekutu lain yang terletak di jalan Ayapo Wisma Salahuda Camp China sekarang. Perjalanan peribadatan Jemaat Ebenhaezer ini berlangsung dari tahun 1942 hingga 1952.

Ditengah perjalanan pekabaran injil Jemaat Ebenhaezer, maka pada tahun 1942 hadir jemaat kecil yang pertama kali dipimpin oleh seorang pendeta asal Ambon, yakni Pdt. A. Watimena. Dia menjadi pelayan jemaat pertama. Di tengah kondisi terbatasnya gedung gereja saat itu, pada tahun 1947 dilakukan peneguhan Sidi pertama di wilayah Holandia Binnen.

Akhirnya pada sekitar tahun 1951-1952, tercetus rencana untuk membangun sebuah gedung gereja yang kemudian diberinama dalam bahasa Belanda ‘Kerk der Hoop’ yang artinya ‘Gereja Harapan’. Lokasinya terletak di Jalan Biak, dekat Lingkaran Abepura sekarang. Nama ini diambil karena terinspirasi dari nama Jemaat Harapan sebagai mula-mula di pulau Mansinam.

Proses pembangunan Gereja Harapan Holandia Binnen saat itu dilakukan dengan dukungan para murid dari sekolah teknik rendah atau Lagerre Technic School (LTS) yang berlokasi di Kotaraja Dalam (sekarang SMA Diaspora) yang dipimpin tuan Henk Heinz.

Pembangunan gedung gereja tersebut berlangsung hingga tahun 1953 hingga akhirnya diresmikan tuan DR. Jan Van Baal selaku Gubernur Jenderal Netherland Nieuw Guinea saat itu. Sejak diresmikan, gereja ini berkapasitas 200 orang. Dari gereja inilah nasib dan masa depan pekerjaan pekabaran injil di tanah Nieuw Guinea akan ditentukan. Sebab gereja ini nantinya terpilih sebagai tempat penyelenggaraan Sidang Sinode Zending Pertama yang berlangsung dari tanggal 19-29 Oktober 1956.

Sidang Sinode Pertama itu kemudian menetapkan sejumlah keputusan penting diantaranya; ketetapan Gereja Kristen Injili (GKI) di Nieuw Guinea, tata gereja sebagai landasan hukum pelaksanaan gereja dan penetapan pemimpin gereja. Diputuskan juga perubahan nama dari Gereja Zending di Tanah Nieuw Guinea menjadi Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Nieuw Guinea dan dipilih seorang pendeta putera Papua asal suku Biak yang bernama Pdt. F.J.S. Rumainum sebagai ketua sinode pertama untuk periode beberapa tahun.

Garis historis inilah yang menghantarkan Jemaat Harapan (Kerk de Hoop) yang juga disebut sebagai Jemaat Mama dalam menghadirkan 8 jemaat mandiri di sekitar wilayah Abepura. Misalnya Jemaat Sion Padang Bulan, Jemaat Pniel Kotaraja, Jemaat Filadelfia Abe Pantai, Jemaat Bukit Zaitun, Jemaat Diaspora Kota Raja Dalam, Jemaat Marthen Luther Kamkey, Jemaat Moses Kali Acai, Jemaat Kairos Kampung Tiba-Tiba, Jemaat Kanaan Koya Barat dan Jemaat Eklesia Arso Delapan.

Gereja ini pun sepanjang sejarahnya telah mengalami 19 kali periodesasi kemajelisan. Sebagai gereja pionir yang missioner, Jemaat GKI Harapan Abepura tidak hanya menghadirkan sejumlah jemaat mandiri, tapi juga telah melahirkan para pemimpin gereja, pemimpin pemerintahan dan pemimpin organisasi lainnya.

Dalam periode sejarahnya hingga saat ini, Jemaat GKI Harapan Abepura terus mengembangkan pelayanan yang terdiri dari pos pelayanan RSUD Abepura, pos pelayanan kilo meter 9 Kampung Nafri dan pos pelayanan Jemaat Emaus yang berlokasi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Abepura. (Julian Howay)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Dari Kerk der Hoop di Mansinam Hingga GKI Harapan Abepura