Pendidikan di Papua Masih Memprihatinkan

share on:
Dari Kiri, I Ngurah Suryawan, Max Binur, Dayu Rifanto dan Andy Tagihuma yang hadir sebagai narasumber dalam talkshow Kegiatan Corak Tanah Papua di UGM Yogyakarta. Jubi/Arnold Belau
Dari Kiri, I Ngurah Suryawan, Max Binur, Dayu Rifanto dan Andy Tagihuma yang hadir sebagai narasumber dalam talkshow Kegiatan Corak Tanah Papua di UGM Yogyakarta. Jubi/Arnold Belau

Yogyakarta, Jubi – Andy Tagihuma, penggiat sastra Papua dan pemerhati pendidikan di Papua mengungkapkan, pendidikan di zaman Belanda jauh lebih baik ketimbang mutu pendidikan saat Papua sudah bersama Indonesia.

“Di awal tahun 1930-an, banyak buku-buku tentang papua yang diterbitkan oleh para misionaris dalam bahasa Byak. Lalu kemudian, banyak buku-buku dari bahasa Melayu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Byak. Buku-buku itu kemudian didistribusikan dari Byak hingga Raja Ampat,” ungkap Andy dalam seminar yang diselenggarakan oleh mahasiswa Papua di kampus FISIPOL UGM Yogyakarta, Sabtu (31/10/2015).

Menurut Tagihuma, pada waktu itu para misionaris membuat sekolah untuk mengajar anak-anak Papua pada saat itu. Dan sistem pendidikan yang diterapkan sangat baik sehingga mereka yang didik pada zaman itu jauh lebih pintar.

“Karena sistim pendidikan yang diterapkan sangat tepat. Yaitu menyesuaikan dengan kondisi ril dan kebutuhan yang sangat penting bagi anak-anak papua. Kalau pada saat Papua sudah bersama Indonesia sistim pendidikan rusak. Karena sistim pendidikan menggunakan standar secara merata tanpa melihat kondisi-kondisi yang ada di lapangan, termasuk kondisi sosial dan budaya setempat,” katanya.

Sementara itu, Max Binur, Praktisi pendidikan dari Papua di tempat yang sama mengatakan, sistim pendidikan yang berlaku di Indonesia ini sesungguhnya tidak tepat. Terutama mensamaratakan standar yang harus diikuti.

“Maka, saya bersama beberapa kawan-kawan memulai untuk memberikan pendidikan tentang kearifan lokal, budaya, seni dan apa pun yang bisa memotivasi anak-anak Papua menjadi anak papua yang tahu akan budayanya selain pendidikan. Karena dari situ, setiap anak secara tidak langsung menumbuhkan rasa bangga kepada identitasnya,” katanya.

Dikatakan, persoalan pendidikan bukan saja soal proses belajar mengajarnya. Tetapi persoalan lain yang penting adalah sumber daya manusia.

“Karena sampai saat ini meskipun banyak gedung-gedung sekolah, tenaga guru sangat minim dan begitu pun sebaliknya. Itu yang terjadi saat ini di Papua,” katanya.

Selain itu, dosen Unipa, I Ngurah Suryawan, mengatakan, memang di Papua ada satu fenomena yang menarik. Yaitu penghilangan identitas ke-Papua-an secara rapi dan sistematis.

“Untuk menghindari itu pendidikan berbasis kearifan lokal menjadi sangat penting saat ini. Karena melalui pendidikan-pendidikan itulah seorang anak papua dapat mengenali identitas dan jati dirinya,” jelas Ngurah, calon kandidat doctor dari fakultas Ilmu Budaya di UGM Yogyakarta ini. (Arnold Belau)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Pendidikan di Papua Masih Memprihatinkan