Jubelina Wally : Jadi Pemimpin Itu Datang Kerja Duluan, Pulang Terlambat

share on:
AKP Jubelina Wally SH. MH. (Dok Pribadi)
AKP Jubelina Wally SH. MH. (Dok Pribadi)

Jayapura, Jubi- Menjadi pimpinan itu selalu harus menjadi panutan, segala gerak-gerik dipantau anak buah dan masyarakat sebab tak mungkin harus menilai diri sendiri. Pasalnya pemimpin juga harus mendengar masukan dan pendapat dari bawahan.

“Saya sadari menjadi pemimpin itu datang kerja duluan dan pulang kerja terlambat. Pemimpin itu tidak bisa menilai diri sendiri. Pemimpin harus menerima masukan dari siapapun, kordinasi dengan bawahan,” kata AKP Jubelina Wally kepada Jubi belum lama ini.

Awalnya, dia tidak pernah bertemu tatap muka selain melihat jarak jauh saat melaksanakan tugas. Tubuhnya langsing. Hitam manis, keriting rambut. Saat Jubi mengirim pesan singkat guna meminta kesempatan mewawancarainya. Responnya sangat cepat dan langsung menjawab. “Kapan?”ungkapnya merespon sms.

Jubi langsung menuju Bandara Sentani sesuai janji wawancara. Kurang 10 menit jam 9:00, nada dering pesan singkat di HP berbunyi. SMS itu tertulis “Sudah sampai di mana,”tanya Kapolsek Bandara Udara Sentani itu.

“Perempuan  ini rupanya orang yang disiplin dan tepat janji,”pikir Jubi mengingat janji waktu wawancara pukul 9:00. Jubi tiba di Kantor Polsek KP3 Udara pukul 9:4.  Kemudian memarkir  motor dan melapor ke piket Polsek Bandara Udara Sentani. “Ibu baru saja keluar. Tidak lama ibu akan tiba,”kata petugas piket hari itu.

Tak lama berselang, perempuan bertubuh langsing itu mengendarai motor tiba di halaman Polsek. Kesepatan Jubi menghampirinya untuk mewawancara di ruang kerja Kapolsek KP3 Udara Sentani. “Saya anak ke tiga dari tujuh bersaudara,”kata perempuan itu, bernama lengkap Jubelina Wally, buah hati dari pasangan Demas Wally dengan Amelia Pulanda ini mengawali bincang-bincang selama 44 menit :23 detik itu.

Dari tujuh  bersaudara itu, orang tua mengharapkan semua menjadi guru. Orang tua bersusah paya untuk mewujudkan itu dalam diri buah hati, namun cita-cita orang tua itu mulai terkikis dalam diri perempuan yang sejak kecil berada dalam perhatian khusus ayah karena kesehatan fisiknya terganggu karena kurang fit.

“Saya lari tes polisi. Saya diam-diam tes mengunakan uang semester empat yang orang tua berikan. Saya tahu lulus dan bapa yang dengar dari kampung lewat radio. Bapa bilang saya ‘kamu buat apa sampai polisi panggil’. Saya bilang bapa kemarin itu saya ikut tes polisi,”kata perempuan yang ikut test polisi pada 1991 ini.

Kata Yubelina, ayahnya, tidak setuju dengan pilihannya. Ayahnya masih mengharapkan dirinya menjadi seorang pendidik namun apa daya Jubelina sudah lolos tes. Suka atau tidak, orang tua harus memberikan dukungan untuk mengikuti pendidikan Polisi di Ciputat, Jakarta Selatan.

“Saya tidak pernah perintah kalian menjadi polisi. Kalau itu pilihanmu, itu mau kamu, apa yang terjadi itulah pilihanmu,”ungkap perempuan yang akrab dengan sapaan Jube ini, mengingat nasehat ayah tercinta kepadanya.

Pesan orang tua itu, menurut perempuan alumni SMA YPPK Taruna Darma Kota Raja pada 1989 ini, menjadi kekuatan utama dalam mengikuti pendidikan polisi yang cukup keras. “Saya kuat menghadapi tindakan dan hukuman. Saya selalu pikir harus tunjukan kepada bapa, saya bisa,”ungkap ibunda dari Willy dan Agelly ini.

Usai pendidikan, dirinya mendapat tugas pertama di Polres Fak-fak namun itu batal. Dirinya masih di Polda Papua dan kemudian bertugas Polres Biak Numfor. Beberapa tahun kemudian, dirinya kembali bertugas ke Polda Papua pada 2001 untuk persiapan personil kapolres kabupaten Jayapura. Rencana itu batal dan gabung dengan Polres Kota Jayapura.

“Saya menjadi intel Polresta. Saya belajar menjadi intel. Sambil menjalankan tugas selama tujuh tahun, saya kuliah. Saya selesai dan ikut secaba pada 2008,”kata perempuan yang sudah menyelesaikan studi Strata Satu hingga Starta dua di bidang hukum di Universitas Cendrawasih ini.

Usai mengikuti pendidikan, kariernya beranjak cepat dari satu bidang ke bidang lain hingga menjabat Kanit Lantas Polsek Abepura selama empat tahun. Dari tugas memimpin pengaturan lalulitas itu, katanya, banyak pendidikan yang dipelajri. Pelajaran menangani kasus kecelakaan, menghadapi demontrasi dan negosiasi dengan masyarakat.

Kata dia mulai menjabat Kapolsek Bandara Sentani, sejak September 2014. Menurut dia tugas memimpin Kanit Lantas Polsek Abepura itu lebih berat dari tugas sebelum dan setelahnya. Tugas barunya sebagai kapolsek Bandara tidak terlalu berat karena situasi yang ada di wilayah kerja sangat datar. “Saya sudah belajar banyak selama empat tahun di Abepura. Saya pikir tugas selanjutnya saya bisa memimpin dengan baik,”kata perempuan berpangkat pangkat Ajun Komisari Polisi (AKP) ini.

Perempuan kelairan kampung Ayapo, 27 Januari 1971 ini percaya diri memimpin tugasnya karena, sudah memiliki konsep kepemimpin. Katanya, pemimpin yang baik, pemimpin yang mau mendengar dan memberikan teladan kepada bawahan maupun publik. Publik dan bawahan pasti belajar dan mau mendengarkannya dalam melaksanakan tugas.

“Saya sadari menjadi pemimpin itu datang kerja duluan dan pulang kerja terlambat. Pemimpin itu tidak bisa menilai diri sendiri. Pemimpin harus menerima masukan dari siapapun, kordinasi dengan bawahan,”ungkap Kapolsek Bandara Sentani ini.

Kepada perempuan Papua, Wally berpesan, perempuan Papua harus membangun satu motivasi menjadi pemimpin dari dalam diri. Rasa percaya diri harus ditumbuh kembangkan supaya tidak merasa tertinggal dan tidak menjauh dari tugas-tugas.

“Stop merasa minder. Tuhan memberikan kelebihan kepada orang Papua. Sudah percaya diri berarti segala sesuatu akan berjalan. Saya sendiri tidak pernah mau kalah. Kalau orang bilang tidak bisa, saya berfikir dan selalu maju dua langkah ke depan,”katanya.

Kepada komunitasnya, terutama Polisi Wanita, yang masih muda tidak pernah puas dengan tugas yang ada. Ia berharap semua bergerak dengan satu rasa inggin tahun dan inggin maju yang lebih supaya tidak tertinggal dalam perkambangan dunia yang begitu cepat. “Kita yang sudah ini saja mau belajar. Mereka yang masih mudah harus lebih,”katanya.

Kemudian kepada semua pihak, pemerintah daerah harus mendorong dan membicarakan perekrutan polisi wanita asli Papua. Kuota penerima orang asli Papua harus lebih dari yang lain. Regulasi Otonomi khusus harus menjadi rujukannya supaya ada regenerasi polisi wanita asli Papua. “Saya mau harus ada Yubelina-Yubelina lain tetapi ini harus menjadi perhatian semua pihak,”katanya. (Mawel Benny)

Editor : dominggus
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Jubelina Wally : Jadi Pemimpin Itu Datang Kerja Duluan, Pulang Terlambat