Pembekuan Industri Sawit Ancam Jutaan Pengangguran

share on:

Jakarta, Jubi/Antara – Kebijakan pemerintah membekukan atau menutup industri sawit maupun hutan tanaman industri (HTI) secara sembarangan dinilai kalangan pengamat memunculkan ancaman pengangguran bagi jutaan orang tenaga kerja yang terlibat selama ini.

Pengamat kehutanan IPB, Ricky Avenzora, di Jakarta, Minggu (8/11/2015), mengatakan saat ini yang terkait secara langsung baik sebagai petani, pekerja, maupun mereka yang ikut dalam mata rantai industri kelapa sawit sudah hampir 6 juta orang.

“Kalau per orang menghidupi tiga anggota keluarga, berarti lebih dari 20 juta jiwa hidup dari sektor kelapa sawit. Belum kita hitung yang dari sektor HTI,” katanya.

Karenanya, pemerintah harus berhati-hati dalam melakukan penegakan hukum terkait kebakaran lahan dan hutan, karena membekukan dan menutup usaha HTI dan kelapa sawit secara sembarangan bisa memicu masalah baru yaitu pengangguran.

Ricky menyataka nsaat ini korporasi menjadi pihak yang paling sering disalahkan dalam kasus kebakaran lahan, padahal mereka sudah melakukan upaya terbaik untuk mencegah terjadinya kebakaran dan mengikuti aturan perundangan dengan melakukan pembukaan lahan tanpa pembakaran.

“Kebakaran hutan ini menyebabkan persaingan bisnis yang tidak sehat. Belum tahu pelakunya sudah ada ancaman pencabutan izin. Ini persaingan bisnisnya sudah sangat keras,” katanya.

Menurutnya, yang harus dilakukan saat ini adalah tidak saling menyalahkan, tetapi mencari penyebabnya dan akar masalah kebakaran lahan ini, karena pada kenyataannya ribuan hektare areal konservasi seperti taman nasional yang dikelola pemerintah juga terbakar.

Sementara itu pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri, mengatakan kebakaran hutan yang terjadi akan berdampak pada target pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Penyumbang devisa ekspor yaitu industri pulp dan kertas serta sawit kinerja usahanya terdampak kasus kebakaran lahan ini.

“Kebakaran ini berdampak pada industri pulp dan kertas. Target perekonomian saya ragu bisa 4,7 persen. Ekspornya juga bakal di bawah target,” katanya.

Turunnya ekspor diperparah dengan adanya boikot dari Singapura terhadap 12 produk kertas Indonesia.
Dia juga menyayangkan penyataan pemerintah yang mengatakan ada ratusan perusahaan yang menjadi tersangka, tapi sampai saat ini belum dibuka siapa saja pelakunya.

Dengan kondisi yang tidak pasti ini, kata Faisal, membuat persaingan perusahaan pulp dan kertas di lapangan saling menghancurkan dengan kampanye negatif menuding sebagai pelaku kebakaran hutan.

Seharusnya terkait hukum jangan disebut jika belum pasti. Dia juga menyayangkat masyarakat juga jadi tersangka kebakaran hutan padahal mereka membakar hutan dibolehkan oleh undang-undang lingkungan hidup.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha hutan Indonesia, Purwadi, mengatakan, akibat kebakaran hutan ini pasokan kayu hutan tanaman industri (HTI) kuartal III turun 29 persen menjadi 6,56 juta meter kubik (M3) dibanding kuartal II sebesar 9,26 juta M3.

Pasokan yang berkurang berasal dari daerah bencana kebakaran hutan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Akibat terhambatnya kegiatan operasional ini terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja dari jumlah 1 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Termasuk terhentinya kegiatan oleh mitra kerja HTI.

“Devisa ekspor pulp dan kertas turun dari saat ini USD 5,6 miliar per tahun,” katanya.

Kondisi ini juga berdampak kepercayaan perbankan akibat publikasi masif yang menuding HTI sebagai pelaku pembakaran hutan.
“Harusnya mafia yang ditangkap, bukan kami perusahaan yang justru dirugikan juga,” ucapnya. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Pembekuan Industri Sawit Ancam Jutaan Pengangguran