Guru Garis Depan Dinilai Bukan Solusi Mengatasi Buta Aksara di Papua

share on:
Natan Pahabol - Doc/Jubi
Natan Pahabol – Doc/Jubi

Jayapura, Jubi – Rencana Kementerian Pendidikan mengirim sejumlah guru ke Papua lewat program guru garis depan untuk memberantas buta aksara di wilayah itu disikapi anggota Komisi V DPR Papua, Natan Pahabol. Ia menilai itu bukan solusi.

Menurutnya, kebanyakan yang tergolong buta aksara di Papua adalah mereka yang berada di wilayah pedalaman dan tak mengerti berbahasa Indonesia. Jika pemerintah mengirim guru dari luar Papua, bagaimana akan berkomunikasi dengan mereka yang tak paham bahasa Indonesia.

“Kalau guru garis depan hanya ditempatkan di salah satu sekolah dasar, mungkin tak masalah. Tapi kalau di seluruh wilayah Papua, saya tak yakin. Itu bukan solusi. Harusnya sebelum membuat program, pemerintah pusat berkoordinasi dengan pihak yang ada di Papua. Mereka lebih tahu kondisi daerahnya,” kata Natan via teleponnya, Selasa (1/12/2015).

Katanya, penempatan guru terdepan di Papua perlu kajian. Setiap wilayah dan di Papua memiliki tradisi yang berbeda. Penempatan guru terdepan di Papua perlu kajian. Setiap wilayah dan di Papua memiliki tradisi yang berbeda. Untuk itu para guru tersebut dituntut bisa menyesuaikan dengan budaya masyarakat sekitar.

“Untuk mengatasi buta aksara di Papua pemerintah perlu memikirkan terobosan baru. Sebaiknya pemerintah menyiapkan anggaran dan mempercayakan hal itu kepihak gereja dan LSM. Untuk mengatasi buta aksara di Papua hanya orang Papua sendiri,” ucapnya.

Dikatakan, sejak dulu menulis dan membaca adalah hal baru untuk orang asli Papua. Budaya orang asli Papua adalah berbicara.

“Dari awal pekabaran injil di Papua, para misionaris mengunakan buku-buku kontekstual dengan bahasa daerah setiap wilayah. Dalam jangka waktu dua minggu masyarakat dapat membaca dan menulis,” katanya.

Ketika berkunjung ke Papua beberapa pekan lalu, Menteri Pendidikan Republik Indonesia, Anis Baswedan mengatakan, pihaknya sudah memulai program mendatangkan guru-guru yang memiliki komitmen untuk bekerja di daerah pedalaman yang ada di Indonesia, termasuk Papua.

“Mereka guru-guru yang sudah terlatih dan berkomit untuk berada di garis depan atau Guru Garis Depan (GGD), yang akan ditempakan di tempat-tempat yang jauh,” katanya usai mengikuti Peringatan Hari Aksara Sedunia (HAI) di Auditorium Uncen, Kamis (12/11/2015). (Arjuna Pademme)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Guru Garis Depan Dinilai Bukan Solusi Mengatasi Buta Aksara di Papua