KNPB: Setiap Tahun Kekerasan Adalah “Kado Natal” Bagi Rakyat Papua

share on:
Simon Degei, salah satu korban yang juga siswa SMA Negeri 1 Paniai Timur, Enarotali ketika ditangisi keluarganya di lapangan sepak bola Karel Gobai Enarotali, Paniai (08/12/2014) - Jubi/Abeth You
Simon Degei, salah satu korban yang juga siswa SMA Negeri 1 Paniai Timur, Enarotali ketika ditangisi keluarganya di lapangan sepak bola Karel Gobai Enarotali, Paniai (08/12/2014) – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Perayaan Natal di Papua pada setiap tahun menjadi sandiwara bagi umat kristen tanpa sebuah makna dan tradisi. Natal menjadi kebiasaan orang Kristen berpesta pora di atas duka dan air mata orang lain.

Sekretaris Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat, Ones Suhuniap mengatakan setiap tahun perayaan Natal selalu bicara damai, tapi kedamaian itu belum juga terwujud.

“Masih ada pembunuhan, masih ada penindasan, masih ada pembantaian terhadap umat Tuhan. Padahal, kelahiran Yesus itu visi dan misinya satu, yaitu menyelamatkan semua umat manusia di muka bumi supaya tidak ada yang binasa,” jelas Ones Suhuniap kepada Jubi di Jayapura, Senin (07/12).

Ditegaskan Suhuniap, setiap menjelang Natal, aparat keamanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di tanah Papua selalu menggelar sandiwara.
“Ada sandiwara dibalik perayaan natal yang digunakan oleh aparat kolonial Indonesia. Pada tanggal 2 Desember 2015 ada karnaval natal untuk menyambut natal dilaksanakan di Manokwari oleh Kodim Manokwari,” jelasnya.

Selain itu, tanggal 1 Desember 2015, Kodam Cendrawasih juga mengadakan natal bersama dengan masyarakat Jayawijaya di Wamena.
“Itu hanyalah sandiwara politik kolonial,” ujar Ones.

Karena pada saat anggota TNI di Wamena dan di Manokwari sedang pawai karnaval natal dan pembukaan natal di Wamena, anggota TNI dari Kodim Kepulauan Yapen (Serui) dan Kapolres Serui membunuh dan mambantai rakyat sipil dengan stigma OPM.

Juru Bicara KNPB Pusat, Bazoka Logo mengungkapkan, setiap tahun ada “kado natal” yang diberikan oleh pemerintah kolonial Indonesia kepada rakyat Papua. Setiap memasuki perayaan natal ada saja kekerasan yang berujung pembunuhan.

“Pada tanggal 16 Desember 2009, Jendral Kelly Kwalik dibunuh di Kali Kopi, Timika atas nama keamanan NKRI. Bulan Desember 2011, markas TPN/OPM Paniai di Eduda dibakar secara brutal menggunakan helikopter,” kata Logo.

Lanjutnya, tanggal 16 Desember 2012, Hubertus Mabel dibunuh di Wamena. Pada tanggal 8 Desember 2014,  4 siswa dan satu warga tewas ditembak aparat keamanan. Tahun ini, tanggal 1 Desember 2015 aparat kepolisian dan TNI menembak warga sipil di Serui hingga seorang meninggal dunia dan 7 orang lainya kritis. Di Jakarta ada penangkapan dan penembakan terhadap mahasiswa Papua.

“Bangsa Papua harus sadar, bahwa tidak ada kedamaian di tanah ini. Kita menentang penindasan penjajahan dan pembunuhan yang dilakukan oleh kolonial Indonesia terhadap manusia Papua melalui natal tahun ini, agar tidak ada “kado natal” bagi rakyat Papua tahun 2016 mendatang,” harap Logo. (Abeth You)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  KNPB: Setiap Tahun Kekerasan Adalah “Kado Natal” Bagi Rakyat Papua