Pengrajin Noken Keluhkan Pembeli Berkurang

share on:
Ilustrasi Mama-mama pengrajin noken Papua dari suku Dani di Lembah Baliem - Jubi/IST
Ilustrasi Mama-mama pengrajin noken Papua dari suku Dani di Lembah Baliem – Jubi/IST

Jayapura, Jubi – Pengrajin noken asli Papua mengeluhkan pembeli yang belakangan mulai menurun. Salah seorang pengrajin dan penjual noken, Natalia Kayame ketika ditemui Jubi di sekitar pasar Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Jumat (4/12/2015) mengatakan, makin banyak pengrajin, makin berkurang pula pembelinya.

Meski demikian perempuan yang merajut noken sejak tahun 1999 itu terus merajut noken. Merajut noken baginya merupakan kegiatan rutin, selain menjaga sayuran yang dijual pasar tersebut.

“Anyaman noken itu bagi perempuan gunung itu sudah biasa. Sejak kecil saya mulai anyam,” katanya sambil merajut noken.

Noken adalah tas tradisional orang Papua yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya benda milik Indonesia, 6 Desember 2012. Noken terbuat dari kulit kayu atau serat pohon Manduam, pohon Nawa atau Anggrek hutan yang dianyam atau dirajut. Ada yang berbentuk jaring net dan berbagai model lainnya. Biasanya untuk membawa sayuran atau hasil kebun dan hasil buruan di hutan bagi orang Papua.

Pembuatannya pun secara tradisional; kulit kayu kayu diolah, dikeringkan dan dipintal menjadi benang. Biasanya, dibuat selama sekitar satu hingga dua minggu untuk noken berukuran besar. Noken juga dibuat oleh perempuan atau mama-mama Papua. Perempuan Papua biasanya dianggap sudah dewasa jika bisa merajut noken. Dan jika sudah dewasa bisa menikah.

Pada perayaan HUT ke-68 TNI, di Makodam XVII/Cenderawasih, Sabtu, 5 Oktober 2013, noken mendapat penghargaan dan tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Natalia mengakui, merajut noken untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Saya beli benang, jahit, jual beli makan. Begitu saja,” katanya.

Ia bahkan bisa merajut tiga noken ukuran kecil dalam sehari dan menghasilkan noken berukuran besar selama tiga hari. Itu pun tergantung kesibukan yang dilakukannya. Noken berukuran besar dijualnya seharga Rp 150 ribu sampai Rp 500 ribu, sedangkan noken berukuran kecil dijual seharga Rp 50 ribu.

“Orang lebih banyak beli yang kecil saja kalau mau jalan, mungkin oleh-oleh,” katanya.

Sekretaris Dewan Adat Papua wilayah Baliem, Engelbertus Surabut menduga penurunan pembeli noken bukan karena banyaknya pedagang noken, melainkan minat terhadap noken makin berkurang.

“Orang Papua sudah tidak lagi mencintai noken. Mereka lebih memilih tas dan plastik,” katanya. (Mawel Beny)

Editor : Timoteus Marten
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Pengrajin Noken Keluhkan Pembeli Berkurang