Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah, Tak Bisa Dicapai di Papua

share on:
Socrates Sofyan Yoman saat tiba di Bandara Kobakma, Mamteng - Jubi/Wesai
Socrates Sofyan Yoman saat tiba di Bandara Kobakma, Mamteng – Jubi/Wesai

Kobakma , Jubi -Tema Natal Nasional tahun 2015 adalah “Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah”, tapi melihat fakta yang ada khususnya di Papua, tema tersebut sulit diterapkan karena setiap bulan Desember ada saja orang Papua yang mati ditembak aparat keamanan.

Hal tersebut disampaikan Pdt. Socrates Sofyan Yoman dalam khotbah perayaan Natal Kabupaten Mamberamo Tengah (Mamteng) di aula Bogo, pekan lalu.
“Kalau kita mau hidup bersama sebagai keluarga Allah, saya pesimis di Papua ini sepertinya sulit. Kita hari ini sedang memuliakan Tuhan tentang kelahiran Yesus Kristus, tapi banyak masyarakat yang menderita. Di Tanah Papua ini ada masyarakat yang masih menderita, masih sakit, masih menangis” ujar Socrates dalam khotbah natal.

Lanjutnya, hal ini bukan tak beralasan tapi berdasarkan fakta yang ada di lapangan.
“Jangan jauh-jauh, di Serui kemarin baru ada 4 orang yang ditembak mati oleh aparat keamanan entah itu TNI atau Polri, tapi itu tidak diusut, padahal penembaknya jelas,” ujar Pendeta Socratez.

Ia memberikan contoh lainnya, yaitu kasus Paniai pada 8 Desember 2014. Dalam kasus ini ada 4 anak ditembak mati, pelakunya jelas aparat keamanan tapi tidak ditahan sampi hari ini.
“Oleh karena Gereja tidak setuju dengan cara itu di tanah Papua. Papua tidak bisa dibangun dengan cara-cara begini. Maaf saya harus bicara ini karena memang tugas saya adalah selamatkan manusia, bukan hanya akhirat tapi sekarang juga. Terserah orang mau bilang apa, atau mau tembak, saya tidak takut,” tegas Socrates Yoman di hadapan ribuan umat di Aula Bogo.

Mendengar khotbah tersebut Markus, warga Mamteng mengatakan, seorang pemimpin agama harus berbicara demikian, terutama tokoh agama di Papua.
“Jangan hanya kampanye pemerintah wakil Allah tapi harus bicara juga selamatkan manusia dari kepunahan yang ada. Jangan hanya pak Socrates yang berani kotbah begitu, kalau bisa pendeta atau pastor yang lainnya juga bisa bicara hal serupa, ini fakta yang harus diangkat oleh pemuka agama di Papua” ujar Markus. (Wesai H)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah, Tak Bisa Dicapai di Papua