Yowong Gerbang Keerom Dilupakan Selama 23 Tahun

share on:
Pustu di Kampung Yowong - Jubi
Pustu di Kampung Yowong – Jubi

“Jangan pernah pikir rumah-rumah tembok itu bantuan pemerintah. Itu hasil belas kasihan orang lain yang kenal dengan saya. Dia juga curi-curi bantu, kalau tidak, warga ini tidak akan nikmati,” ungkap Tavor sambil sejumlah rumah tembok di sekitar rumahnya.

Karena perumahan dipinggiran jalan, sangat kelihat, siapa yang menjadi penghuni. Semua penduduknya asli Papua dari berbagai wilayah. Kepala kampung mengakui bahwa ada yang dari Merauke, Boven Digoel, Sorong, Biak, Serui, Pegunungan Bintang, Koroway dan Orang Keerom.

Kata Tavor, jumlah Warga di sini ada 60 KK dan 300 Jiwa. Puluhan kepala keluarga ini mengantungkan hidup kepada alam. Mereka bekerja sebagai petani dan pemburu. Mereka berburu tikus dan ikan yang ada di rawa-rawa sekitar kampung. Kemudian kebun. Mereka ada yang bekerja sebagai petani coklat dan pinang dan buah-buahan lain, pisang dan nangka. Warga ini menjadi petani coklat lantaran program pemerintah kabupaten bersamaan dengan program Transmigrasi Nasional pada awal 1990an yang tersebar di Wilayah Arso 1-14. Coklat yang ditanam warga trans dan Yowong sama-sama tumbuh hanya perawatannya menjadi masalah.

Warga Kampung Yowong tidak pernah mendapatkan pendidikan khusus dan modal awal seperti kaum trans yang memiliki modal sebelum berhijrah dari kampung halaman. Pendidikan dan modal tidak akan ada masalah kalau ada pendampingan langsung dari pemerintah di lapangan tetapi pendampingan pun tidak pernah ada. Warga dibiarkan mengurus coklat tanpa ada pengetahuan sedikit pun. Karenanya, warga terkesan dipaksa menanam coklat. Warga dipaksa mengikuti kehendak penguasa yang berfikir subjek atas kondisi warga. Akibatnya, warga menjadi binggung harus mulai dari mana dan berakhir di mana. Warga merasa beban mengurus coklat yang prosesnya agak ribet. Bersihkan kebun, petik, belah pisahkan kulit dan biji dan mengeringkan dalam waktu seminggu atau dua minggu. Inilah yang menjadi masalah.

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Yowong Gerbang Keerom Dilupakan Selama 23 Tahun