Yowong Gerbang Keerom Dilupakan Selama 23 Tahun

share on:
Kantor Distrik Skanto, Kabupaten Keerom (Jubi/Indrayadi TH)
Kantor Distrik Skanto, Kabupaten Keerom (Jubi/Indrayadi TH)

Kata Tavor, pemerintah akan berhasil kalau pemerintah membaca kebiasaan masyarakat. Kalau masyarakat menanam pinang, makan pinang, pisang dan ikan, kasih saja pendampingan supaya masyarakat menjadi petani pinang, ikan dan pisang.

“Jangan kasih mereka sesuatu yang mereka tidak bisa urus. Kasih saja program yang masyarakat biasa urus dan itu memungkinkan masyarat berhasil mengejarkannya,” ungkap purnawiarawan TNI ini.

Pdt. Agust Bulukay ketua Badan Musywarah Kampung mengatakan pemerintah melupakan warganya. Kata dia, anggapan itu memang dapat dikatakan, karena kampung ini tidak pernah mendapat perhatian walaupun berada di pinggir jalan. Warga kampung hanya bisa bertahan dengan kemampuannya sendiri daripada pemerintah yang mengakui keberadaan dan wilayah itu bagian dari Keerom.

“Warga kampung ini tidak tahu yang namanya Otonomi Khusus. Dana satu kampung satu miliar program pemerintah Keerom kepemimpinan bupati Yusuf Wally itu sejak program itu bergulir,” ungkap pria asal Koroway ini.

Kata dia, kampung 99 persen warganya asli Papua ini baru merasakan pembangunan ketika ada pemekaran pemerintahan kampung pada pertegahan tahun 2015.

“1 Oktober kampung ini diresmikan sebagai kampung administratif dari Arso Kota. Setelah itu baru ada berkat pada bulan November lalu. Kami langsung belanja kebutuhan warga. Kami belanja tangki air tetapi sebagian warga belum dapat,” ungkapnya sambil mendampingi kepala kampung berbincang-bincang dengan Jubi.

Kata kepala kampung, bantuan melalui pemekaran itu bukan kehendak pemerintah membangun kampung melainkan desakan warga yang dilupakan sejak kabupaten ini diresmikan pada 2002.

“Kami dilupakan 23 tahun sejak kabupaten ini dan 26 tahun lalu sejak kampung ini ada,” ungkap Tavor.

Karena dilupakan, kampung ini tidak ada lembaga pendidikan tingkat dasar hingga menengah. Anak-anak harus mengandalkan belas kasihan kendaraan yang lewat untuk menempuh pendidikan ke Koya Kota Jayapura dan ke Arso. Sementara, fasilitas kesehatan ada satu Pembantu Puskesmas hanya tidak ada tenaga medis.

“Suster kemarin ada tetapi sudah beberapa bulan terakhir ini tidak ada. Kami belum tahu kapan suster datang bertugas. Kami menanti saja,” ungkapnya. (Mawel Benny)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Yowong Gerbang Keerom Dilupakan Selama 23 Tahun