Kunjungan Dubes AS, Agen Tipu Daya Negara Paman Sam

share on:
Agustinus Kambuaya - Facebook
Agustinus Kambuaya – Facebook

Oleh Agustinus Roby Kambuaya

BEBERAPA tahun lalu, harian Jawa Pos Edisi 5/7/2007 memuat peryataan Ketua Sub Komisi Asia Pasifik Untuk Kongres Amerika Serikat (AS) Eni Faleomavaega yang menyebutkan pemerintah Indonesia tidak berhasil mengurus Papua dengan baik.

Saat itu terjadi desakan rakyat untuk mengevaluasi kontrak karya Freeport bahkan isu penghentian aktivitas freeport secara total. Kondisi ini melebar hingga tuntutan Papua merdeka.

Kedaan ini membuat Perusahaan raksasa asal AS tersebut nyaris stagnan bahkan hampir berhenti berproduksi. Kondisi ini berjalan hingga Tahun 2007. Ditengah2 kedaan ini, Eni Valeo Malvaega berkunjung Ke Indonesia. Ia diagendakan berkunjung langsung ke Papua.

Aktivis dan rakyat Papua meliat kedatangan anggota Kongres AS ini bagaikan malaikat penolong, ratu adil atau mesias yang datang untuk membebaskan rakyat Papua dari neo-kolonialisme. Tapi harapan yang gegap gempita itu akhirnya kandas di Jakarta.

Jakarta, dengan berbagai tipu dayanya, berhasil menahan Faleomavaega di Jakarta dan Gubernur Papua dan Papua Barat diberangkatkan ke Jakarta. Alhasil aspirasi rakyat yang gegap gempita itu diwakili oleh kedua gubernur di Tanah Papua kepada Faleomavaega di Jakarta. Tentu aspirasi ini tidak lagi relevan dengan konteks dan keinginan rakyat Papua, melainkan aspirasi menjadi milik pemerintah.

Adagium atau slogan bahwa sejarah akan berulang kembali pada masa yang terpisah itu ada benarnya. Ditengah kegaduhan politik nasional yang disebabkan oleh rekaman Jim Bob atau James Moffett bersama Ketua DPR RI setya Novanto yang mengajukan permintaan saham, desakan isu nasionalisasi Freeport pun dinyalakan kembali.

Presiden Jokowi semakin lantang menentang Freeport. Bahkan mengancam menutup Freeport atau mengakhiri masa kontrak freeport. Sebelumnya, gubernur Papua, Lukas Enembe lebih keras menentang Freeport bahkan memboyong 9 Bupati di wilayah tambang Freeport Indonesia berkunjung ke AS untuk membicarakan kejelasannya. Desakan ini semakin diperkuat dengan rekaman heboh yang diberi judul “papa minta saham”.

Sesuai kontrak karya sebelumnya, dua tahun sebelum berakhirnya kontrak karya, pemerintah dan Freeport sudah harus membicarakan perpanjangan kontrak selanjutnya. Namun proses ini tidak berjalan, nasib Freeport di Bumi Amungsa, makin tak pasti. Freeportpun semakin gelisah sebab belum mengantongi surat perpanjang kontrak sebagai legitimasi hukum dari pemerintah.

Ditengah ketidakjelasan status kontrak karya ini, Duta Besar AS untuk Indonesia Robert Blake tiba-tiba berkunjung ke Papua. Kedatangan ini menimbulkan pertanyaan “Apa Urgensi Kepentingan AS di Papua sehingga Dubes As harus berkunjung ke Papua? Sudah jelas dan pasti bahwa kepentingan investasi (kontrak karya Freeport) adalah alasan mengapa Dubes AS datang ke Papua.

Jika alasan kedatangan ini adalah untuk memantau keadaan ekonomi, pembangunan dan pelanggaran Hak Asasi Manusi di era Otonomi Khusus, maka kita bisa bertanya, “Selama ini Pak Dubes dimana? Kok baru sekarang mau pantau kedaan Papua?”

Watak AS sebenarnya telah ditunjukkan oleh Eni Faleomavaega pada tahun 2007. Saat itu isu HAM Papua dimunculkan sebagai alat untuk menegosiasikan kontrak karya Freeport. Maka, kedatangan Dubes As memantau keadaan Papua boleh jadi akan menjadi senjata ampuh untuk memaksa Indonesia menyetujui kontrak karya jilid selanjutnya. Ancaman Papua merdeka menjadi senjata terakhir. Rakyat dan aktivis Papua tidak perlu gegap gempita menyambut kedatangan ini. Sikap curiga bahkan menolak kedatangannya, itu penting.

Sebab selama ini As tidak pernah menyampaikan aspirasi dan laporan tentang situasi Hak Asasi Manusia di Papua kepada pemerintahnya. Kalaupun disampaikan, tentunya kita bisa mempertanyakan sikap AS di PBB yang lebih mendukung Otonomi Khusus daripada mendukung Isu Papua Merdeka atau pelanggaran HAM. Di sisi lain, kita bisa berkesimpulan perjuangan rakyat Papualah yang membuat Duta Besar AS, PBB dan lembaga internasional lainnya datang ke Papua, bukan atas inisiatif sendiri.

Kehadiran As dimana-mana selalu diselubungi kepentingan apa, dimana, dan berapa banyak.

AS akan selalu mengambil keuntungan dari situasi di Tanah Papua. Itulah sebabnya, mengapa Dubes AS pantas disebut agen tipu daya negara Paman Sam ini. (*)

Penulis adalah aktivis sosial

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Kunjungan Dubes AS, Agen Tipu Daya Negara Paman Sam