Oktovianus Pogau, Wartawan Muda Yang Kritis dan Tajam

share on:

Sejak di bangku SMA kelas 1, Okto aktif dalam dunia jurnalistik dan dia selalu menang (juara) dalam lomba tulis menulis, seperti mengarang dan sejenisnya yang dilakukan Pemda setempat antar sekolah di Nabire. Pada saat itu, tulisannya bahkan sering dimuat di beberapa media lokal, seperti Papuapos Nabire, Majalah Selangkah, Suara Perempuan dan di sejumlah media nasional di bawah asuhan Markus You, salah satu wartawan senior yang bekerja di Papuapos Nabire dan Tablod Jubi Papua. Oleh karena melalui tulisannya itu, Pogau mulai dikenal oleh media-media di Indonesia dan dunia.

Oktovianus Pogau (jongkok, kedua dari kiri) saat merayakan kelulusannya dari SMA di Nabire - facebook
Oktovianus Pogau (jongkok, kedua dari kiri) saat merayakan kelulusannya dari SMA di Nabire – facebook

Untuk mencurahkan kegelihannya tentang keadaan sosial di Nabire dan Papua umumnya, pada umur 16 tahun, Okto sudah membuat sebuah blog pribadinya, (https://pogauokto.wordpress.com). Selain ia menulis artikel di media cetak loka, di sanalah dia mengasah bakatnya. Lalu, ia juga mencetak bulletin milik SMA Kristen Anak Panah yang diterbitkan dua kali dalam sebulan. Karena tulisannya yang menggugah hati para pembaca, ia bahkan menjadi siswa Papua pertama yang diwawancarai Metro Papua TV yang kala itu baru hadir di Jayapura dan ditayangkan dalam bentuk feauture. Di situlah nama Oktovianus Pogau naik hingga Gubernur Papua, Barnabas Suebu menjanjikannya untuk kuliah di luar negeri. Namun, hal itu kandas entah apa alasannya.

Seusai menyelesaikan SMA tahun 2010 ia berangkat ke Jakarta guna melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Ketika itu Okto mendapatkan beasiswa untuk beajar di kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI). Di kampus ini dia memilih jurusan Hubungan Internasional (HI). Padahal, bidang yang ia tekuni semenjak masih remaja adalah jurnalistik, rupanya dia punya pertimbangan khusus memilih bidang ini. Sekalipun sangat mencintai dunia jurnalistik, Okto memikirkan masa depan bangsanya. Untuk dia, masa depan Papua ada pada diplomasi internasional. Perkuliahannya sampai semester III dan dia tidak melanjutkan pendidikannya hingga selesai, karena dia sangat sibuk dalam kerja dunia jurnalistik sehingga harus balik ke Jayapura dalam mengadvokasi berbagai hal.

Pogau pernah mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan kemudian mendapat undangan untuk mengikuti kursus Jurnalisme Sastrawi yang diadakan oleh Yayasan Pantau. Disanalah dia bertemu dengan Andreas Harsono, seorang jurnalis dan peneliti Human Rights Watch (HRW), yang sekaligus juga menjadi wali muridnya di Jakarta.

***

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Oktovianus Pogau, Wartawan Muda Yang Kritis dan Tajam