Oktovianus Pogau, Wartawan Muda Yang Kritis dan Tajam

share on:

Sejak tahun 2014, Okto memulai jatuh sakit dan sembuh pada bulan Mei 2015 setelah melalukan pengobatan secara medis di rumah sakit Dian Harapan. Walaupun masih sakit, ia tekun dan fokus pada pekerjaannya yakni terus menyuarakan berbagai hal melalui tulisannya yang dijadikan berupa berita di media yang dia pimpin.

Walaupun bandannya masih lemas, bulan November 2015, Okto mengikuti Festival Media di Indonesia yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independent (AJI) di Jakarta bersama Arnold Belau, wartawan tabloidjubi.com dan Koran Jubi dan Indrayadi TH dari cendananews.com mewakili AJI Papua.

Meski butuh waktu untuk istrahat, pada akhir 2015, dia mendapat International Visitor Program di Amerika Serikat. Dia berjalan selama sebulan termasuk berkunjung ke Washington DC. Dia sempat ingin menulis kenangan dari perjalanan tersebut namun sakit membatalkan keinginan tersebut. Ini sebuah kehilangan besar buat masyarakat Papua.

Oktovianus Pogau (kedua dari kanan) saat mengikuti program International Visitor di AS - facebook
Oktovianus Pogau (kedua dari kanan) saat mengikuti program International Visitor di AS – facebook

Tidaklah terlalu mengherankan jika dia sangat marah dengan Komnas HAM karena sangat lambat bekerja dalam menindaklanjuti kasus pembantaian di Paniai pada Desember 2014. Ia mendokumentasikan perkembangan advokasi kasus ini di Jakarta dan Papua dengan sangat rinci. Dia juga mendorong kelompok-kelompok mahasiswa Papua untuk mengawal advokasi ini. “Kapan kalian aksi Paniai lagi di Jakarta?” demikian selalu pesan singkatnya. Seringkali datang tiba-tiba.

Pada tanggal 23 Desember 2015, Okto kembali dari AS. Setelah kembali, Okto sakit lagi. Terakhir Okto masuk di RS Dian Harapan Waena, Jayapura pada 17 Januari 2016. Setelah dua minggu lamanya opname di RS milik Katolik itu, tepat Minggu, 31 Januari 2016, pukul 21.00 WP Okto dipanggil Tuhan.

Sesaat kabar meninggalnya Okto tersebat, dalam waktu 3 menit berbagai kalangan yang dikenal Okto datang penuhi rumah sakit ini. Entah wartawan, LSM, aktivis kemanusiaan, tokoh agama, mahasiswa hingga mama-mama Papua.

Okto akhirnya dimakamkan di Yokatapa, Sugapa, Intan Jaya, hari Rabu, 04 Februari 2016. Sebelum dibawa ke kampug halamannya, sempat tawar mewar antara pihak keluarga dan para jurnalis serta aktivis HAM di Jayapura yang mengininkan ia dimakamkan di Jayapura. Namun, karena menghargai keinginan keluarga, kahirnya semua sepakat almarhum dimakamkan di  kampungnya.

Almarhum Okto adalah sosok pemuda Papua yang dikenal kritis, berani, cerdas dan sangat dikenal serta disegani oleh berbagai kalangan, entah lembaga pers, lembaga agama, LSM dan lainnya. Terutama dalam melihat dan mengkritisi hal-hal mendasar yang dihadapi oleh orang Papua seperti persoalan pelanggaran HAM dan dunia jurnalistik. Keberanian dan kecerdasannya Okto dalam hal ini menghantarkan mepa Pogai dikenal oleh masyarakat luas. Baik di Papua, secara nasional di Jakarta dan Indonesia maupun dunia internasional. Hingga Okto meninggal ia sangat tekun dan setia pada pekerjaannya sebagai jurnalis muda yang sangat krtitis dalam kondisi apapun. Okto terus mengadvokasi persoalan pelanggaran HAM dan jurnalistik dengan tekun dan setia hingga Okto meninggal dunia.

Kalau kita membuka arsip tulisan-tulisan Okto Pogau, kita seperti menemukan harta karun pemikiran anak-anak muda Papua kontemporer. Tulisan-tulisan yang datang dari pikiran jujur seorang anak muda yang bersemangat itu seakan membuka lebar-lebar jendela pemahaman bagi orang-orang non Papua akan kegelisahan dan keinginan untuk merdeka. Sebagian besar orang mungkin mengenal Okto hanya sebagai seorang jurnalis. Namun sesungguhnya lebih dari itu. Ia adalah penulis dan pejuang progresif Papua merdeka.

***

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Oktovianus Pogau, Wartawan Muda Yang Kritis dan Tajam