Siapa Penembak Empat Siswa dan Satu Warga Sipil di Paniai?

share on:
Psokoh natal di kampung Ipakiye yang merupakan TPK pertama, (08/12/2014) - Jubi/Abeth You
Psokoh natal di kampung Ipakiye yang merupakan TPK pertama, (08/12/2014) – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Pelaku penembakan empat siswa dan seorang warga sipil dan melukai 18 orang lainnya pada 8 Desember 2014 di Enarotali, Paniai, Papua belum menemukan titik terang.

Penembakan itu terjadi siang hari, sekitar pukul 10.30 waktu setempat di lapangan Karel Gobai Enarotali dalam kerumunan warga. Kejadian itu bermula adanya kesalahpahaman antara sejumlah warga Paniai dengan aparat TNI dan Polri. Hingga akhirnya empat siswa SMA dan satu warga sipil tewas tertembak, serta belasan terluka.

Sebenarnya apa yang terjadi ketika itu? Anak-anak SD berkumpul di sebuah pondok natal di kampung Ipakiye, Distrik Paniai Timur, Paniai, Minggu malam, 7 Desember 2014 menghias dan menjaga pondok natal dengan salib, kadang bayi Yesus dilahirkan sambil mendendangkan lagu-lagu natal karena semenjak 6 Desember 2014 tim penilai pondok natal sudah bergerak mengambil data guna memberikan hadiah bagi pondok yang juara nantinya sesuai kriteria.

Anak-anak itu adalah sebagai berikut, Viktor Yeimo, Amison Mote, Yeri Gobai, Benyamin Giyai, Aniken Pigai, Aten Mote, Abimelek Pigai, Pelian Gobai, Oktopince Yeimo dan Aten Gobai.

 

Inilah anak-anak yang dapat penganiayaan pertama di pondok natal kampung Ipakiyee - Jubi/Abeth
Inilah anak-anak yang dapat penganiayaan pertama di pondok natal kampung Ipakiyee – Jubi/Abeth

Mereka sedang bersemangat dalam pondok natal itu antara satu sama lain meluapkan kegembiraan karena hari raya natal bagi umat kristen akan segera tiba. Pukul 00:15 WP, tiba-tiba mobil Mitsubisi Pajero melintasi jalan dari arah Enarotali ke Madi tanpa menyalahkan lampu di mobil tersebut. Sontak saja, anak-anak yang masih belia itu berteriak, “Weiiiiiiii, nyalakan lampu. Ini bukan siang, tapi sudah tengah malam.”

“Sekitar pukul 00:15 malam itu ada mobil Pajero lewat tapi tidak menyalahkan lampu. Setelah kami berteriak supaya nyalakan lampu, tiba-tiba muncul tiga orang di depan pondok natal ini setelah mereka atret mobil itu. Jadi, kami sebut itu Tentara Nasional Indonesia (TNI),” kata Amison Mote di hadapan Bupati Paniai dan perwakilan dari Kodam XVII/Cenderawaih serta Polda Papua juga ribuan warga Paniai yang lakukan olah TKP di depan pondok natal Ipakiye, 9 Desember 2014.

Pihaknya curiga dan mendekati mobil tersebut setelah ditegur. Mobil itu pun berlalu. Namun 30 menit kemudian muncul mobil itu. Lanjutnya, mobil itu mirip kendaraan Tim Khusus 753 milik TNI. “Mereka datang dan serang pondok serta pukul mereka,” katanya.

“Luka pukulan senjata yang berat itu tiga orang anak, dipukul oleh oknum TNI itu hingga babak belur. Laki-laki itu pun pingsan,” ujarnya.

Melihat kejadian yang tidak manusiawi itu, salah satu dari anak itu segera menuju ke rumah dan memberi tahu bahwa sedang terjadi pemukulan dari aparat.

Malam itu juga warga palang jalan raya. Hingga pukul 07:00 keesokan paginya, mereka turun dari pondok dan mencari mobil itu dan kemudian mereka merusaki.

Bagi warga barangkali bukan hanya kejadian itu saja, namun masih trauma dengan kejadian sebelumnya, sehingga tak puas dengan kondisi ini. Pada pukul 09:00 pagi, warga berbondong-bondong menuju ke lapangan Karel Gobay Enarotali dengan berjalan kaki guna menuntut pertanggungjawaban pihak TNI di Komando Distrik Militer (Kodim) setempat.

Nah, warga begitu tiba di lapangan Karel Gobay yang kebetulan berhadapan dengan kantor Koramil, tidak tanya banyak oleh pihak TNI. Di sinilah terjadi penembakan terhadap empat warga.

“Lalu terjadilah bentrok yang tak bisa dikendalikan lagi. Selain 5 orang yang tertembak dan tewas, ada 14 warga lainnya terluka, tiga di antaranya koma, dan empat di antaranya perempuan,” kata pemerhati HAM di wilayah Meepago, Yones Douw saat itu.

Padahal, polisi atau TNI telah mengetahui bahwa jika warga datang dengan berdansa atau Waita berarti hendak meminta sesuatu yang bagi mereka adalah masih ada kekurangan.

“Kita kan tahu semua. Kalau warga datang dengan cara Waita bukan berarti mau baku pukul tapi mau meminta atau memberi sesuatu,” katanya.

Situasi pagi itu lain dari biasanya. Hampir saja kepala Wakil Bupati Paniai, Yohanes You ditembak oknum polisi yang sedang siaga di halaman Polsek Paniai Timur, karena Wabup Paniai juga turut hadir untuk merendahkan kondisi itu. Untung saja, Wabup ini tunduk kepalanya.

Warga tidak melakukan perlawanan, hanya saja seketika warga tiba sempat melakukan pelemparan batu ke arah kantor Polsek Paniai Timur dan kantor Koramil Paniai Timur yang mengakibatkan beberapa kaca jendela terpecah.

Semua warga yang luka dilarikan ke Rumah Sakit Daerah Paniai di Madi. Sementara empat warga yang tewas antara lain, Alpius Youw (17) siswa SMA YPPK Epouto, Yulian Yeimo (17) siswa SMA YPPGI Enarotali, Simon Degei (18) siswa SMA N1 Enarotali, Alpius Gobai (17) siswa SMA N1 Enarotali, dan Abia Gobai (28), petani dari Enarotali, meninggal di RSUD Madi, Paniai Kronologi versi Polisi

Dua pejabat militer dari Jayapura bersama bupati Paniai sedang bertatap muka dengan masyarakat - Jubi/Abeth
Dua pejabat militer dari Jayapura bersama bupati Paniai sedang bertatap muka dengan masyarakat – Jubi/Abeth

Kepala Bidang Humas Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Pudjo Sulistiyo saat itu mengatakan, bahwa penembakan di Paniai masih misterius. Polisi bahkan mengungkap versi yang berbeda dengan warga.

Kombes Pudjo mengatakan, Minggu (7/12) tengah malam, oknum yang menggunakan sepeda motor melintas di Paniai, melewati pondok-pondok natal yang didirikan warga. “Tapi sepeda motor itu tidak pakai lampu. Karena itu ditegur oleh masyarakat,” katanya.

Oknum yang mengendarai motor itu pun marah. Ia malah mengancam warga, “Nanti saya datang lagi,” katanya. Lalu, menurut Kombes Pudjo, oknum tersebut pun kembali membawa ‘tujuh pasukan’. Terjadilah baku pukul.

Terkait identitas oknum yang dimaksud, Polisi masih belum bisa memastikan. “Kami tidak tahu mereka dari kelompok mana. Apakah masyarakat? Sedang kami lacak,” akunya.

Selang baku hantam itu, kata Kombes Pudjo, pukul 02:30 Senin (8/12/2014) dini hari peristiwa rusuh juga terjadi di kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Paniai. “Kantor KPUD dibakar,” katanya.

Menjelang pagi hari, juga masih terjadi ribut-ribut warga. Menurut Kombes Pudji, warga di distrik Madi, Paniai menutup akses jalan umum dengan kayu. Masyarakat pun makin resah.

“Mereka komplain ke polisi. Polisi dikomplain masyarakat, langsung datang ke lokasi, dan meminta warga untuk membuka pemalangan,” katanya.

Lalu tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah Gunung Merah. “Tar-tar-tar,” begitu tirunya. Polisi langsung menarik personilnya.

“Ini sudah tidak bagus. Kami hendak membuka jalan saja, sudah ada tembakan dari arah gunung,” katanya.

Tak lama kemudian, ratusan warga langsung menuju ke arah Koramil di depan lapangan Karel Gobay. “Ada yang pakai tanah, ada yang pakai tombak,” katanya. Setelah menyerbu Koramil, kerumunan itu menggeruduk Polsek yang hanya berjarak 200 meter. Empat mobil ringsek, tiga di antaranya milik warga. Dan tiga personil TNI luka-luka.

Di situlah, kata Kombes Pudjo, terjadi peristiwa tertembaknya empat warga Paniai. “Jelas ada yang tertembak,” katanya. Tapi polisi masih belum bisa memastikan, siapa penembak warga tersebut.

Terkait kejadian penembakan itu, katanya, pihaknya sedang melakukan investigasi. “Kalau oknum polisi penembaknya, kami pasti bilang polisi. Kalau TNI, ya TNI. Kalau masyarakat, ya masyarakat,” katanya memastikan aparat tak pandang bulu.

Namun, dalam keadaan terjepit, katanya, ia mengaku penembakan mungkin dilakukan oknum aparat. “Itu manusiawi, saat mau dibunuh ya bela diri. Itu namanya pembelaan darurat,” katanya. Pilihannya hidup atau mati. “Aku yang mati atau dia yang mati,” imbuhnya.

Korban meninggal dunnia karena ditembak mati sedang ditangisi keluarga - Jubi/Abeth
Korban meninggal dunnia karena ditembak mati sedang ditangisi keluarga – Jubi/Abeth

Ketua DAD Paniai, John NR. Gobai mengatakan, dari hasil penembakan di salah satu tubuh korban sempat terjadi pelurunya tembus badan, sehingga dianggap terjadi penembakan vertikal dari arah tower di bandara Enarotali ke lapangan Karel Gobay.

“Ya memang, ade Yulain punya tubuh ini pelurunya tembus dari bahu ke belakang. Ini berart terjadi penembakan vertikal. Tembak dari atas ke bawah. Kalau dari atas berarti yakin dari tower di bandara itu. Karena di tower itu yang ada hanya polisi KP3 Udara. Bukan orang dari dinas perhubungan,” katanya.

Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa mengatakan, di hari Hak Asasi Manusia (HAM) tahun 2016 ini negara Indonesia melalui lembaga terkait yakni Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM RI) agar segera menetapkan pelaku kejahatan kemanusiaan yang selalu mencabut nyawa manusia dengan sewenang-wenangnya di Papua.

“Ini pesan hari HAM se dunia untuk Papua dan Indonesia. Bahwa, Pemerintah Provinsi Papua, entah Gubernur, para Bupati, Walikota, DPR Papua dan DPRD Kabupaten/Kota juga MRP segera mengambil tindakan nyata untuk hentikan kinerja pemerintahan sampai negara bertanggung jawab dan selesaikan semua kasus pelanggaran HAM masa lalu hingga sekarang,” kata Kadepa Kepada Jubi di kantor DPRP usai menerima massa aksi yang tergabung dalam SKP HAM Papua, Kamis (10/12).

Kantor KPUD Paniai yang berdekatan dengan kantor Polres Paniai dibakar dini hari, namun oleh siapa dibakar belum diketahui hingga kini - Jubi/Abeth
Kantor KPUD Paniai yang berdekatan dengan kantor Polres Paniai dibakar dini hari, namun oleh siapa dibakar belum diketahui hingga kini – Jubi/Abeth

Pastor Paroki St.Yohanes dan Petrus, Argapura, Keuskupan Jayapura, Papua, Pater Paulus Tumayong, OFM  menceritakan, ketika Natal Nasional yang dipusatkan di Stadion Mandala, Jayapura (27/12/2014) lalu, Presiden Jokowi hadir dan dirinya nonton acara perayaan natal tersebut. Dalam sambutan, Jokowi mengatakan, kasus Paniai ini dirinya akan selesaikan sampai tuntas secara sebaik-baiknya. “Seorang Presiden, orang nomor satu di negara Republik Indonesia ini sudah bersuara demikian, maka seharusnya para kaki tangan dari pak Presiden tersebut harus menindaklanjuti,”tegas Pater Paulus Tumayang, OFM kepada Jubi.

Komisioner Komnas HAM RI Natalius Pigai, yang dihubungi Jubi via telepon seluler mengatakan, pihaknya sebagai lembaga independen masih konsisten dengan keputusan bahwa peristiwa Paniai Berdarah adalah pelanggaran HAM berat.

“Kita berkomitmen untuk melakukan penyelidikan pro justisia tahun 2016. Kasus Paniai adalah salah satu peristiwa kejahatan negara di Paniai, potret kekejaman negara di Papua dan negara cenderung menghalangi serta tidak ingin menuntaskannya,” kata Natalius Pigai.

Selama satu tahun kepemimpinan Presiden Jokowi tidak ada upaya untuk mengungkap tragedi Paniai Berdarah. Peristiwa Paniai sesungguhnya telah menyatakan kepada dunia internasional tentang kekejaman negeri ini di Papua. “Maka tidak heran jika pemerintah tidak pro aktif mengungkapnya. Tapi, tugas kami tetap jalankan,” katanya. (Abeth You)

Editor : TIMOTEUS MARTEN
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Siapa Penembak Empat Siswa dan Satu Warga Sipil di Paniai?