Adipura untuk Kota Jayapura : Prestasi dan Motivasi

share on:

piala adipuraOleh David Dapi

MANUSIA dan lingkungan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Manusia ada, hidup dan berkembang dalam suatu ruang lingkup tertentu di alam ini. Seorang tokoh pemerhati lingkungan, Aldo Leopold melontarkan teori etika lingkungan yang disebutnya dengan The Land Ethic atau Etika Bumi. Etika ini muncul sebagai akibat dari krisis lingkungan yang terjadi dalam masyarakat modern sekarang ini.

Menurutnya, konservasi adalah suatu cara pandang dan sikap tertentu terhadap alam, terhadap bumi atau tanah. Berdasarkan konsepnya tentang konservasi itu maka praksis konservasi yang benar dalam pandangan Leopold adalah perwujudan dari cara pandang dan sikap yang melihat bumi atau alam semesta sebagai subyek moral, sebagai sebuah komunitas moral. Ini adalah perwujudan dari cara pandang dan sikap yang tidak lagi melihat manusia sebagai satu-satunya yang bernilai dan menjadi pusat dari segala sesuatu di alam.

Manusia tidak lagi memandang dirinya sebagai penguasa, atau sebagai anggota yang lebih unggul, paling superior dari makhluk hidup lain. Manusia tidak lebih dilihat sebagai salah satu anggota komunitas biotis yang memiliki ketergantungan terhadap makhluk hidup lain termasuk lingungannya. Atas dasar prinsip ini, Leopold mengklaim bahwa segala sesuatu di alam semesta ini mempunyai nilai pada dirinya sendiri terlepas dari apakah bernilai untuk manusia atau tidak. Bumi dan segala isinya tidak dilihat sebagai sekedar “harta milik” (property) sama seperti budak pada zaman Yunani kuno dan masyarakat primitif. Bumi dan segala isinya adalah subyek moral sama seperti manusia sehingga tidak bisa dimanipulasi sesuka hati manusia. Bumi dan segala isinya adalah subyek moral yang harus dihargai sebagai yang bernilai pada dirinya sendiri.

Kesadaran dan penghargaan terhadap lingkungan secara nyata ditunjukkan oleh pihak Pemerintah Kota Jayapura khususnya pada masa kepemimpinan walikota Drs. Benhur Tomi Mano, M.M. Sejak masa kepimpinannya sebagai Walikota Jayapura, sudah tiga kali berturut-turut Kota Jayapura mendapat perhargaan Adipura dari Pemerintah RI (2013, 2014, 2105). Penghargaan Adupura yang diterima Kota Jayapura tiga kali berturut-turut bukan merupakan sebuah isapan jempol semata. Kenyataan membuktikan bahwa sampah-sampah hampir tidak kita jumpai lagi di pinggir jalan dan tempat-tempat umum. Para petugas kebersihan sudah menyapu dan mengangkat sampah sejak subuh. Ada peraturan yang melarang membuang sampah pada siang hari dan denda yang diberikan kepada mereka yang tidak mengindahkannya. Banyak taman yang dibuat di sepanjang jalan Abepura-Jayapura oleh suku-suku atau kelompok-kelompok ketegoral tertentu dan juga instansi-instansi pemerintah dan swasta. Semua itu menunjukkan tanggung jawab dan kerja sama setiap warga kota Jayapura terhadap alam ini.

Di hadapan penghargaan Adipura itu kita lalu bertanya, apakah Adipura hanyalah sebuah prestasi yang diterima lantaran kota Jayapura dinilai bersih? Tentu saja setiap orang tidak menghendaki prestasi yang diperoleh itu membuat warga Jayapura menjadi puas lalu semangat untuk menjaga kebersihan di kota Jayapura mulai luntur. Adipura merupakan sebuah prestasi yang harus memotivasi setiap warga untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan. Semangat ekologis untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hendaknya meresap dan mendarah daging dalam diri setiap warga kota Jayapura. Tanggungjawab moral dari warga kota Jayapura terhadap Adipura ialah memelihara lingkungan seperti dia merawat dirinya sendiri. Adipura hendaknya dilihat dan dimaknai sebagai sebuah panggilan etis bagi setiap warga kota Jayapura untuk menjaga dan merawat alam dan lingkungannya.

Tentu saja setiap warga kota Jayapura berbangga karena 7 Maret 2016 kota Jayapura memasuki usianya yang ke 106 tahun. Ibarat usia seorang anak manusia, usia 106 tahun adalah usia yang uzur. Usia yang uzur itu lantas tidak membuat semangat setiap warga kota Jayapura menjadi uzur pula. Dengan berbekalkan spirit Adipura itu, setiap warga kota Jayapura hendaknya bahu membahu dan bekerja sama untuk mewujudkan kota Jayapura yang bersih, aman dan nyaman. Prestasi yang ada bukan hanya tinggal sebagai sejarah yang lekang di makan waktu. Prestasi yang ada harus menjadi motivasi setiap warga kota Jayapura untuk memelihara alam dan lingkungan di sekitarnya.

Lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman mengindikasikan bahwa setiap orang yang mendiami wilayah itu adalah orang-orang yang bersih, sehat dan nyaman. Untuk itu maka konsekuensi dari lingkungan yang bersih, aman dan nyaman itu juga harus terwujud dalam kehidupan pribadi, keluarga, kantor, agama dan masyarakat.

Diharapkan pada tahun-tahun mendatang, di tengah usianya yang semakin tua, kota Jayapura terus melahirkan orang-orang yang mempunyai tanggung jawab moral terhadap lingkungan hidupnya. Sikap tersebut secara tidak langsung menjadi perwujudan dari semboyan kota Jayapura “HEN TECAHI YO ONOMI T’MAR NI HANASED”/SATU HATI MEMBANGUN KOTA UNTUK KEMULIAAN TUHAN. (*)

Penulis adalah Mahasiswa Program Pasca Sarjana STFT Fajar Timur, Abepura

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Adipura untuk Kota Jayapura : Prestasi dan Motivasi