Manangsang Tidak Pantas Disebut Dokter

share on:
Kepala Ruangan Kebidanan RSUD Abepura, dr. Lili Wanane – Jubi/Roy Ratumakin.
Kepala Ruangan Kebidanan RSUD Abepura, dr. Lili Wanane – Jubi/Roy Ratumakin.

Jayapura, Jubi – Bola panas terus bergulir pasca aksi demo yang dilakukan sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) RSUD Abepura yang menuntut kejelasan status ASN dari Direktur RSUD Abepura, dr. Yohanis Manangsang. Tuntutan tersebut ditanggapi Manangsang dengan mempersilahkan staf dan dokter yang berseberangan dengan dirinya untuk angkat kaki dari rumah sakit tersebut.

Menanggapi komentar sang direktur, Kepala Ruangan Kebidanan RSUD Abepura, dr. Lili Wanane usai pertemuan dengan Ombusdman RI Perwakilan Papua, Jumat (4/3/2016) mengatakan pernyataan tersebut tidak pantas dilontarkan seorang direktur apalagi statusnya sebagai seorang dokter yang berpegang tegus pada prinsip (IDI) Ikatan Dokter Indonesia.

“Seharusnya dia bisa bermurah hati untuk menerima keluhan dari stafnya, bukan kembali memperkeruh suasana dengan membuat pernyataan seperti itu. Itu namanya bukan sosok pimpinan yang patut menjadi teladan,” katanya.

Untuk angkat kaki dari RSUD Abepura, khususnya dokter spesialis bukan menjadi masalah besar. “Khususnya dokter spesialis untuk pindah tempat tugas bukan masalah karena walaupun kami tidak menjadi ASN kami bisa praktek dimana saja. Apalagi kami mempunya kompetensi yang sangat dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.

Selain status ASN dari Manangsang, ada beberapa hal yang membuat pihaknya sudah tidak sabar dengan gaya kepemimpinan Manangsang yang tidak peka dengan fasilitas penunjang di rumah sakit tersebut.

“Salah satu contohnya, ruang persalinan. Rumah sakit itu harus mempunyai standar minimal pelayanan. Standar minimal itu sudah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan dimana berapa kebutuhan tempat tidur, dokternya berapa tetapi kami bekerja di bawah standar minimal khususnya di ruang bersalin. Di sini (RSUD Abepura-red) saja tidak ada alat incubator, padahal alat tersebut merupakan standar minimal,” katanya.

Hal ini sudah berulang-ulang dimintakan ke Direktur untuk memecahkan persoalan tersebut namun jawaban dari Direktur selalu akan diurus.

“Sampai saat ini saja tidak diurus. Selain itu, di ruang bersalin cuma ada satu dokter kandungan, seharusnya rumah sakit ini sudah memiliki minimal dua dokter bersalin. Nah, kalau hanya satu dokter terus dokter tersebut berhalangan sakit bagaimana? Kasihan kan pasien,” ujarnya.

Wanane mengatakan rumah sakit itu tidak ada sangkut paut dengan politik. “Ini pelayanan kepada masyarakat bukan politik. Jadi kalau mau berpolitik silahkan angkat kaki dari rumah sakit. kami juga meminta kepada Gubernur dan Sekda Papua untuk lebih tegas melihat persoalan ini. Apabila berlarut-larut, akan berimbas pada pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, Manangsang mempersilahkan stafnya yang sudah tak sejalan dengan dirinya mencari tempat kerja baru. Baik itu dokter, perawat maupun penunjang. “Saya berpikir begitu saja, biar tujuan dari rumah sakit ini tidak terhalang. Apakah itu dokter, perawat dan penunjang silahkan cari jalan, dari pada bikin permusuhan,” katanya. (Roy Ratumakin)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Manangsang Tidak Pantas Disebut Dokter