Agar Tidak “Buta Tulis” Aktivis Lingkungan di Papua Berlatih Ilmu Jurnalistik

share on:
Lokakarya Menulis, membangun Kapasitas dan Pemberdayaan Mitra dalam Penerapan TIK untuk Penguatan Ragam Jurnalistik di salah satu hotel di Jayapura, 2-5 Maret 2016 - Jubi
Lokakarya Menulis, membangun Kapasitas dan Pemberdayaan Mitra dalam Penerapan TIK untuk Penguatan Ragam Jurnalistik di salah satu hotel di Jayapura, 2-5 Maret 2016 – Jubi

Jayapura, Jubi – Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah mengalami perkembangan pesat dan merupakan salah satu hal terpenting di abad ini. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi halangan dalam berkomunikasi. Salah satu trend saat ini adalah penggunaan kegiatan-informasi berbasis internet.

“Penggunaan TIK berguna untuk meluaskan serta memudahkan komunikasi dengan publik atau target audien tertentu. Selain itu penggunaan media TIK sebagai wujud kedaulatan dalam memproduksi informasi yang selama ini didominasi lembaga korporasi besar,” demikian dikatakan Yunus Yumte, Direktur Program Papua Samdhana Institute, Jumat (4/3/2016).

Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Lokakarya Menulis, membangun Kapasitas dan Pemberdayaan Mitra dalam Penerapan TIK untuk Penguatan Ragam Jurnalistik di salah satu hotel di Jayapura, 2-5 Maret 2016.

Menurut Yumte, Lokakaya menulis atau lokatulis merupakan bagian dari program capacity building Samdhana Institute kepada mitra yang selama ini terlibat dan berperan aktif dalam implementasi program di wilayah dampingan. Kegiatan ini dirancang dalam upaya mendukung peningkatan kemampuan menulis sekaligus menyajikan cerita atau tulisan berdasarkan pengalaman, data/informasi dan temuan-temuan penting yang diperoleh dari pekerjaan setiap mitra.

Lokatulis dalam skenario dukungan Samdhana ini sekaligus dikemas sebagai ruang berbagi dan belajar bersama antara mitra terhadap pengalaman, keberhasilan, kendala dan pembelajaran dari pekerjaan yang mereka lakukan selama ini.
“Dalam 3 tahun terakhir perhatian dukungan Samdhana ke wilayah Papua-Papua Barat diberikan pada tiga komponen isu-kegiatan yang selama ini dikerjakan bersama mitra, yaitu 1) pemetaan wilayah adat, pengakuan dan perlindungan terhadap hak serta asset masyarakat adat, 2) integrasi legal atas hak dan ruang partisipasi masyarakat adat dalam kebijakan serta program pembangunan kehutanan dan lahan di tingkat daerah, dan 3) pengelolaan hutan berbasis masyarakat/komunitas secara legal dan lestari,” lanjut Yumte.

Dalam penyelenggaraan, Samdhana Institute menggandeng Mongabay Indonesia, Jubi dan Gerakan Desa Membangun untuk berbagi pengalaman mengelola informasi dan menyebarkannya sebagai praktek jurnalistik. Lokatulis ini diikuti oleh 14 Lembaga Swadaya Masyarakat dari Papua dan Papua Barat. Lembaga-lembaga ini adalah : Rumsram, KPHL Biak Numfor, Yadupa, Jerat, Pt.PPMA, SKP Kame, Mnukwar, Kamuki, LMA Malamoi, AKA Wuon, YBAW, LSPK, Weer dan Belantara.

Ridzki R. Sigit, Program Manager Mongabay Indonesia, salah satu trainer dalam lokatulis ini mengatakan semakin banyak masyarakat, terutama masyarakat adat, yang menulis dan memberitakan, akan membantu warga dunia menyelamatkan lingkungan dan tentunya bumi dari dampak perubahan iklim.
“Jurnalisme berperspektif lingkungan perlu disebarluaskan dan dipraktekkan oleh para aktivis lingkungan. Apalagi teknologi semakin maju saat ini yang memungkinkan kita berbagi informasi dan pengetahuan,” ujar Ridzki.

Sedangkan Victor Mambor, Direktur Perkumpulan Jubi berharap para peserta mempraktekkan ilmu yang didapatnya secara konsisten. Sebab lokalatih seperti yang diselenggarakan ini bukan pertama kali di Papua, namun masih banyak aktivis lingkungan yang belum mempraktekannya usai mendapatkan ilmu jurnalistik.
“Tidak perlu menunggu sampai bekerja di perusahaan media baru mau memberitakan soal lingkungan. Mulai saja menulis informasi yang kita ketahui untuk orang lain. Saat ini menyebarkan informasi dari Papua bukan cuma milik media mainstream saja. Jurnalisme warga sudah berkembang begitu pesat. Jika ditempat lain jurnalisme warga bisa mempengaruhi kebijakan, kenapa di Papua tidak? Kita hanya harus memulainya saja, agar tidak disebut “buta tulis”,” kata Mambor. (Benny Mawel)

Editor : Dominggus Mampioper
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Agar Tidak “Buta Tulis” Aktivis Lingkungan di Papua Berlatih Ilmu Jurnalistik