Kisah Sekolah Jihad Wittaya Bagian 1

share on:
Prev1 of 3
Use your ← → (arrow) keys to browse
‘Pondok Jihad’ telah menjadi bagian dari situasi kekerasan sepanjang waktu untuk rakyat dan bangsa Patani - Arqom Ahmad
‘Pondok Jihad’ telah menjadi bagian dari situasi kekerasan sepanjang waktu untuk rakyat dan bangsa Patani – Arqom Ahmad

Wartani – Sejak peristiwa kekerasan di wilayah paling selatan Thailand terjadi –baik di masa lalu dan kini—, ‘Pondok Jihad’ telah menjadi bagian dari situasi kekerasan sepanjang waktu, puncaknya perintah penutupan ‘Pondok Jihad atau Sekolah Jihad Wittaya’ yang terletak di M.4 Ban Thadan, Talokapo, Yaring, Pattani, oleh pihak militer Thailand pada tanggal 21 Maret 2015.

Pasca perintah penutupan oleh pihak militer Thailand, meskipun sebenarnya institusi ini merupakan pusat pengajaran Islam dan budaya Melayu bagi komunitas Patani, negara dan masyarakat Thailand memberi stigma pada institusi ini sebagai lembaga yang menumbuhkan ide-ide yang merusak stabilitas nasional. Pondok Jihad bagi masyarakat Muslim diibaratkan seperti garam di laut. Kadar air garam tidak akan menyebabkan pembusukan, sebaliknya mencegah pembusukan itu sendiri. Pondok Jihad bagi masyarakat Muslim Patani serupa obat yang menyembuhkan dari berbagai keburukan.

Pondok Jihad didirikan di tahun 1968 oleh ‘Babo Heng’, guru agama di masa itu. Sekembalinya dari pendidikan, masyarakat meminta beliau mendirikan sekolah. Beliau pun akhirnya mendirikan pondok pesantren dan membangun Tadika (sekolah kanak-kanak). Sejak saat itu, Pondok Jihad memainkan peranan penting di masyarakat melalui pengajaran agama. Nama Pondok Jihad sendiri diartikan sebagai ‘terus mengembangkan dan memperbaiki diri’ bukan ‘berperang’ seperti arti ‘Jihad’ yang dipahami selama ini.

Situasi Tak Terduga

Pondok Jihad kehilangan pemimpin setelah Babo Heng ditembak mati pada 1977. Masyarakat lalu menunjuk Dullah Waemano, putra dari Imam Thadan, yang merupakan murid kesayangan dan terpercaya Babo Heng. Beliau adalah orang yang paling dapat diterima dan dipercaya masyarakat. Dullah Waemano diangkat menjadi kepala sekolah Jihad Wittaya pada 1978, kelak ia menikahi Jawahir Waemano, putri dari Babo Heng di tahun 1980.

Sebagai kepala sekolah, Dullah Waemano harus mengintegrasikan sekolah yang semula berbasis pesantren (mempelajari Al-quran) menjadi sekolah dengan kurikulum pendidikan non-formal. Sejak saat itu Pondok Jihad berubah nama menjadi Sekolah Jihad Wittaya.

12 Peristiwa Kekerasan dan 12 Penggeledahan oleh Tentara Thailand

Peristiwa pencurian besar-besaran terhadap 413 kontainer senjata milik Batalion 4 Kerajaan Thailand di Marubi-oak, Chohi-rong, Narathiwat atau dikenal dengan peristiwa ‘Kai-pileng’ pecah pada 4 Januari 2004. Pada akhir tahun itu, tentara Thailand memblokade dan menggeledah pondok tersebut, namun mereka tidak mengajukan tuntutan apapun karena tidak menemukan sesuatu yang dinyatakan terlarang.

Prev1 of 3
Use your ← → (arrow) keys to browse

Editor : Pipit Maizier
Sumber : wartani.com
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Kisah Sekolah Jihad Wittaya Bagian 1