Hak Mati Bagi Lansia Jepang Diperbincangkan

share on:
Mahasiswa Jepang - IST
Mahasiswa Jepang – IST

Tokyo, Jubi – Tarou Tanzawa, seorang pensiunan dari perusahaan penerbangan Jepang, sebelumnya tidak banyak berpikir mengenai kematian dirinya sampai saat ibunya –yang berumur 84– meninggal akibat sakit getah bening yang parah dan menentang perawatan mahal untuk memperpanjang hidupnya.

Ia menyaksikan ibunya tutup usia dengan damai di panti jompo, tempat sang ibu mendapat perawatan ringan yang tidak dapat menyembuhkannya, setelah keluar dari rumah sakit.

Segera setelah itu Tanzawa membuat “kehendak hidup” dengan menetapkan bahwa ia tidak bersedia mendapat perawatan “untuk memperpanjang hidup” bila ia terkena penyakit mematikan atau bila mencapai keadaan hidup tanpa guna.

“Saya merasa terlalu cepat (ibu saya meninggal) tetapi saya juga berpikir ‘ini adalah cara menghadapi kematian’,” kata Tanzawa (68) kepada Reuters.

Orang Jepang yang memiliki “kehendak hidup” seperti Tanzawa sangat sedikit.

Dalam tradisi keluarga di Jepang, kewajiban merawat orang tua menjadi penghalang dan penolakan tindakan perawatan perpanjangan hidup.

Banyak keluarga takut dituding tidak berperasaan, apapun permintaan pasien. Para dokter khawatir anggota keluarga akan mengajukan gugatan.

Kementerian Kesehatan mengeluarkan panduan pada 2007 untuk memberitahu pasien dan keluarga mengenai keputusan menghentikan perawatan yang harus diambil oleh tim medis, tetapi panduan itu tidak menghapuskan kekhawatiran para dokter.

Pengesahan peraturan akan hak untuk “meninggal secara terhormat” agaknya akan diajukan menjelang pemilihan nasional pada Juli, sementara banyak pendukung yang mengatatakan penundaan akan memberti kemungkinan perubahan kesepakatan masyarakat yang sulit disatukan. (*)

Editor : Victor Mambor
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Hak Mati Bagi Lansia Jepang Diperbincangkan