Sapa Bilang Kitorang Tra Bisa?

share on:
Siswa salah satu SMU di Kota Jayapura - Jubi/Sindung
Siswa salah satu SMU di Kota Jayapura – Jubi/Sindung

Oleh : Son Hane

BERBICARA mengenai Papua, seringkali gambaran  yang muncul adalah, terpencil, udik,  hanya bisa di bidang olah raga saja, tidak mampu dll. Perspektif seperti ini seringkali ada pada orang-orang yang belum pernah menginjakkan kaki  di Bumi Cendrawasih atau orang-orang yang memiliki pemahaman sempit terhadap Papua.

Sapa bilang kitorang tra mampu? kalo kitorang diberi kesemptan, pasti kitorang mampu untuk menorehkan prestasi.Kalimat ini mau menjelaskan bahwa kesempatan merupakan sesuatu hal yang amat berharga bagi seseorang untuk mengexpresikan dan mengungkapkan dirinya. Sepandai apapun seseorang, jika tidak diberi kesempatan, maka kepandaiannya itu tidak berarti apa-apa.

Perspektif luar terhadap masyarakat Papua bahwa kurang mampu, seringkali membuat kesempatan itu terbatas, padahal potensi yang amat luar biasa dapat kita temukan pada anak-anak Papua yang tidak hanya terbatas pada bidang olah raga semata, tetapi juga di berbagai bidang.Tidak ada yang tidak mampu, yang ada hanyalah tidak ada kesempatan.

Mungkin kita masih ingat bahwa pada tahun 2011, anak-anak Papua dapat menorehkan prestasi yang amat luar biasa pada ajang Mathematics Olympiad for Primary School SD se-Asia, mewakili Indonesia. Siswa-siswi yang menorehkan prestasi manis itu adalah, Kristina Murib dari Wamena (medali emas), Merlin Kogoya dari Tolikara (medali emas), Kohoin Marandey dari Sorong (Medali emas), dan Ayu Rogi dari Waropen (medali emas). Mereka yang meraih medali perak, yaitu Syors Srefle (Sorong Selatan), Natalisa Dori (Waropen), Nikolaus Taote (Mimika) dan Emon Wakerwa (Tolikara). Sedangkan mereka yang meraih medali perunggu, yaitu Alex Wanimbo (Lani Jaya), Boni Logo (Wamena) dan Ester Aifufu (Sorong Selatan)(Red. Kompas.com) 18 Nov 2011.

Sudah seharunnya anak-anak Papua diberi kesempatan lebih untuk membuktikan diri bahwa mereka pun mampu memberi sumbangsih kepada bangsa dan tanah air, melalui prestasi-prestasi yang mereka toreh.Tra usahalang-halangi kitorang sudah untuk berprestasi, biar kitorang juga ikut mengharumkan nama bangsa.

Selain prestasi di atas, pada tahun 2006, seorang siswa SMA Negri 5 Jayapura kembali mengukir prestasi di bidang kimia, yaitu Surya Bunay. Ia berhasil meraih medali emas The First Step To Nobel Proze in Chemistry, yang adalah suatu award event kimia internasional yang dilaksanakan di Polandia (Red. Kompasiana 29 September 2013).

Jika hendak dideretkan semua prestasi yang telah ditorehkan oleh anak-anak Papua, maka masih banyak lagi yang belum di sebutkan di sini. Pada dasarnya, kesempatan merupakan peluang dan kepercayaan bagi seseorang untuk membuktikan diri bahwa ia mampu menorehkan sebuah prestasi.

Tidak ada manusia yang statis, kehidupan manusia adalah kehidupan yang dinamis, terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan itu datang olehkarena ada kesempatan untuk merubah diri. Artinya bahwa, dengan kesempatan yang minim, akan menutup kemungkinan seseorang untuk mengalami perubahan, sebaliknya semakin banyak kesempatan yang diberikan, semakin banyak pula peluang untuk menuju suatu perubahan.

Pertanyaannya, siapa yang dapat memberikan kesempatan itu?Sudah jelas bahwa yang dapat memberikan kesempatan itu adalah orang-orang yang memegang kendali, orang-orang penting. Salah satu contoh adalah pemerintah, baik pusat maupun daerah. Kesempatan-kesempatan seperti apa yang mesti diberikan? Dalam berbagai hal, entah pendidikan, olahraga, kesenian dll.

Anak-anak Papua butuh kesempatan untuk membuktikan diri akan bakat dan kemampuan yang secara tidak langsung telah dikubur oleh para pemegang kendali.Kasi kitorang kesempatan untuk belajar, untuk mengembangkan diri, jangan kubur kitorang punya bakat, kemampuan.

Bukti bahwa anak-anak Papua mampu memberikan yang terbaik apabila diberi kesempatan, adalah pada prestasi-prestasi yang mereka toreh, bahkan sampai pada prestasi dalam ajang-ajang internasional. Jika anak-anak Papua di anggap tidak mampu, maka tidak mungkin mereka dapat menorehkan banyak prestasi yang mengharumkan nama bangsa!

Bagaimana mungkin anak-anak yang kurang mendapat kesempatan belajar olehkarena berbagai macam alasan, entah karena guru jarang masuk ataupun karena kurannya biaya pendidikan, hendak disandingkan dengan anak-anak yang mendapat kesempatan belajar pada sekolah-sekolah berkualitas dengan tingkat kehadiran guru yang tinggi? Secara logis tidak mungkin anak-anak yang kurang mendapatkan kesempatanbelajar mampu bersaing dengan mereka yang mendapatkan kesempatan belajar lebih. Jelas bahwa mereka yang mendapatkan kesempatan belajar yang layak akan memiliki kemampuan lebih dibanding yang kurang dan bahkan tidak sama sekali mendapatkan kesempatan itu.

Memang benar bahwa kesempatan itu datang dari dalam maupun luar diri seseorang, namun tidak dapat dipungkiri bahwa faktor dari luar diripun amat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang. Walaupun dari dalam diri seseorang ada kemauan dan kemampuan, namun jika tidak ada peluang bagi dirinya, maka orang tersebut tidak akan banyak berkembang.

Jangan berpikir bahwa Amerika mampu menjadi bangsa pertama yang mendaratkan para astronotnya di bulan,dilakukan dengan mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan kesempatan terus menerus untuk mengadakan studi dan penelitian yang pada akhirnya mendatangkan hasil yang memuaskan. Jangan bermimpi untuk menjadi astronot jika anda tidak pernah mendapat kesempatan utuk belajar menjadi seorang astronot.

Keadaan semacam inilah yang sering kita jumpai pada anak-anak Papua yang terkadang masa depannya dikubur oleh para pemegang kendali karena kurang diberi kesempatan yang sewajarnya untuk meraih cita-cita yang mereka impi-impikan dalam hidup mereka. Padahal, masa depan suatu bangsa juga terletak pada generasi-generasi muda.

Tidaklah mungkin para pemimpin yang ada saat ini akan terus memimpin, sebab suatu masa kepemimpinan akan berlalu dan kepemimpinan berikutnya akan tumbuh. Perlu ada persiapan yang matang bagicalon-calon pemimpin yang baru, sehingga kesempatan belajar menjadi hal yang utama yang mestinya diberikan kepada generasi muda, sehingga kelak generasi-generasi muda itu dapat menjadi penerus masa depan bangsa.

Beberapa fakta yang boleh kita ambil sebagai bukti bahwa karena kurangnya kesempatan yang diberikan oleh para pemegang kendali kemudian menguburkan masa depan dan cita-cita, adalah minimnya pendidikan yang diberikan kepada anak-anak Papua khususnya di pedalaman-pedalaman dan bahkan di daerah perkotaan. Padahal pendidikan merupakan modal dasar bagi kehidupan sesorang untuk meraih cita-citanya. Bagaimana mungkin seseorang dapat bersaing di dunia modern sekarang ini jika tidak memiliki pendidikan yang memadai?Bahkan hanya untuk melamar kerja di toko pun, minimal seseorang mesti memiliki ijazah SMA atau ijazah setara. Mana mungkin bahwa seseorang yang hanya tamatan SD hendak menjadi gubernur?

Kesempatan studi adalah poin utama yang mestinya diprioritaskan bagi kemajuan suatu bangsa, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya bagi generasi-generasi penerus, merupakan investasi bagi perkembangan menuju suatu bangsa yang besar. Tidak ada tawar-menawar bagi sebuah pendidikan, sebab itu merupakan kewajiban dan suatu keharusan bagi suatu perubahan. Anak-anak Papua adalah anak-anak yang memiliki banyak potensi, tinggal bagaimana kesempatan itu diberikan, sehingga potensi itu dapat dikembang luaskan bagi suatu kemajuan yang diidam-idamkan selama ini.

Penulis adalah mahasiswa S1 STFT Fajar Timur

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sapa Bilang Kitorang Tra Bisa?