Anyaman Rambut Papua, SMP Muntilan dan Popda Magelang

share on:
Ilustrasi - nasirullahsitam.com
Ilustrasi – nasirullahsitam.com

Melalui pacakan rambut ala Papua, barangkali mereka sekadar mengikuti naluri menjalani pengalaman bergaul bersama atau bahkan hanya menikmati sensasi dengan cara rambutnya ditata oleh teman-temannya yang berasal dari Tanah Papua, selagi berlaga basket.

Dan sebaliknya, anak-anak berasal dari Papua yang terampil menganyam rambut kawan-kawannya ala daerah asalnya itu, juga bisa dipastikan tidak berkehendak melakukan papuanisasi terhadap mereka yang berasal dari Jawa.

Namun, melalui pacakan rambut ala Papua, mereka telah secara alamiah menunjukkan semangat keindonesiaannya. Setidaknya, itulah sebagian hasil dari apa yang dibangun dan diusahakan pengelola sekolah berasrama dengan menerima anak-anak dari berbagai daerah di Nusantara untuk menjalani masa pendidikan di sekolah swasta di kota kecamatan terbesar di Kabupaten Magelang tersebut.

Lembaga pendidikan dengan asrama yang disebut juga “Mendut Junior” itu, adalah lanjutan karya pelayanan edukasi yang pernah diusahakan pada masa penjajahan Belanda dan dikenal sebagai “Sekolah Mendut” (1908-1942).

Tim basket putri SMP Marganingsih, terdiri atas Kapnum Serip Seravina, Fernandita Marcela Along, Fenia Grasela Olesopur Tabyon, Kristin Widyar Wakman (keempatnya dari Tanah Papua), dan Theresa Teofila Mutiarani Larasati, Scolastika Didya Fercelanda, Hosea Anggelene Sudiharto, Debora Diana Rahayu Pratiwi, serta Maria Angelmarlin (kelimanya dari beberapa kota di Jawa).

Sebagaimana lazimnya, anak-anak asal Papua itu berambut keriting dan berkulit hitam, sedangkan mereka dari beberapa kota di Jawa berambut lurus dan ikal serta berkulit sawo matang. Pendamping mereka dalam laga basket Popda Kabupaten Magelang 2016 adalah K. Titik Kristiana (guru olahraga) dan Edwin (pelatih basket).

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Anyaman Rambut Papua, SMP Muntilan dan Popda Magelang