Anyaman Rambut Papua, SMP Muntilan dan Popda Magelang

share on:
Ilustrasi - len-diary.com
Ilustrasi – len-diary.com

Anak-anak putri di tim basket itupun, setelah selesai bertanding, menyempatkan diri berjalan-jalan bersama di beberapa bagian kompleks sekolah tersebut.

Mereka seakan menikmati suasana luas dengan berbagai pepohonan, melewati jalan penghubung antargedung sekolah, dan halaman berumput hijau kompleks SMA Taruna Nusantara, hingga dekat Balairung Pancasila, dengan semua masih berpacak anyaman rambut ala Papua.

Kebersamaan mereka siang itu boleh jadi bisa dipandang sebagai sedang menikmati secara alamiah keindonesiaan yang memang multikultur atau plural.

Tentang keberagaman Indonesia masih saja menjadi bahan diskusi berbagai kalangan hingga saat ini.

Usaha-usaha memperkuat bangunan keindonesiaan memang harus terus menerus dilakukan oleh seluruh komponen Bangsa Indonesia. Apalagi dalam era kesejagatan saat ini, disebut-sebut bahwa ancaman, baik dari dalam maupun luar, oleh kelompok tertentu untuk memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetap saja mendera.

Dalam suatu sarasehan kebangsaan diselenggarakan Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Kevikepan Kedu di Kota Magelang beberapa waktu lalu, Sekretaris Eksekutif Konferensi Wali Gereja Indonesia Romo Yohanes Rasul Edi Purwanto mengemukakan pentingnya sejak dini anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang inklusif atau terbuka.

Pendidikan anak secara inklusif sesuai dengan keberagamaan Indonesia dan tentunya sesuai dengan cita-cita mulia para pendiri bangsa.

“Bukan malah pendidikan secara eksklusif yang membuat orang berpandangan sempit. Pendidikan yang inklusif itu juga untuk mencegah berkembangnya radikalisme,” ujarnya.

Pendidikan secara inklusif memberi kesempatan terbaik bagi anak-anak Indonesia untuk mengenal sejak dini dan mengalami betapa keragaman mereka yang sesama bangsa, sebagai keniscayaan Indonesia.

Pengalaman tim basket putri sekolah itu berdandan anyaman rambut model Papua, hanyalah contoh kecil keindonesiaan yang mewujud, karena dipastikan telah terkuak pula cerita segudang lainnya tentang pengalaman riil keindonesiaan. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Anyaman Rambut Papua, SMP Muntilan dan Popda Magelang