Polemik FKIP – FIK, Kampus Uncen Dipalang

share on:
Rektor Uncen, Ones Sahuleka (pegang megafon) ketika berdialog dengan mahasiswa sebelum pemalangan kampus Uncen dibuka Rabu siang, 16 Maret 2016 – Jubi/Timo Marten
Rektor Uncen, Ones Sahuleka (pegang megafon) ketika berdialog dengan mahasiswa sebelum pemalangan kampus Uncen dibuka Rabu siang, 16 Maret 2016 – Jubi/Timo Marten

Jayapura, Jubi – Puluhan mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) memalang kampus yang berada di Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura.

Gapura kampus dipalang sejak Rabu pagi, 16 Maret 2016 hingga dibuka siang hari setelah sejumlah mahasiswa mendengarkan penjelasan Rektor Uncen, Ones Sahuleka.

Dari informasi yang dihimpun Jubi, demo itu ditengarai oleh adanya polemik program studi (Prodi) Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (Penjaskesrek) pada Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP).

Selama ini prodi Penjaskesrek bernaung di bawah FKIP, tetapi diajar para dosen dari Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Namun selama tiga bulan terakhir para dosen disebutkan tidak mengajar lagi karena uang sumbangan pembayaran pendidikan dialihkan ke FKIP.

Menurut Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP, Theofretes Wona masalah itu sejak tahun 2014. Hal itu terjadi sewaktu Ismail Rumbiak menjabat Dekan FKIP.

Pihaknya bahkan sudah menemui Pembantu Rektor III untuk membicarakan mandeknya perkuliahan dan program studi yang tidak jelas. Dari pertemuan tersebut dijelaskan sesuai Surat Keputusan Kementerian Pendidikan Prodi Penjaskesrek di bawah naungan FIK. Namun mahasiswa angkatan 2014 dan 2015 masih mempunyai nomor induk mahasiswa FKIP.

“Administrasinya masih FKIP. Akhirnya dosen FIK tidak mau mengajar karena mahasiswa membayarnya di FKIP tapi dosennya dari FIK,” kata Theofretes.

Berdasarkan rapat senat Uncen satu program studi harus beraktivitas kalau home base-nya minimal enam orang untuk dosen tetap. Karena semua sudah pindah maka senat memutuskan Penjaskesrek dialihkan ke FKIP.

Rektor Uncen Ones Sahuleka kepada Jubi mengatakan, tuntutan mahasiswa bahwa Prodi Penjaskesrek awalnya di FKIP. Setelah itu Penjaskesrek cikal bakal FIK.

“Dengan terbenturnya FIK maka berdasarkan surat dari direktur kelembagaan maka pimpinan universitas melakukan rapat secara rutin tapi hasilnya tidak mencapai kata sepakat,” katanya.

Ia melanjutkan karena tidak adanya kesepakatan maka pimpinan universitas mengambil jalan untuk bawa dalam rapat senat sebab rapat senat merupakan keputusan yang tertinggi di Uncen.

“Setelah melalui rapat senat diputuskan. Rapat senat memutuskan bahwa Penjaskesrek dialihkan dari FKIP ke FIK,” tegasnya.

Dekan FKIP Nomensen Mambraku mengaku sudah mengecek surat tersebut tetapi sangat pribadi dan bakal menjadi pembodohan untuk orang Papua, sebab tidak mungkin seorang mahasiswa memegang ijazah sarjana pendidikan (S.Pd) dan sarjana ilmu keolahragaan.

Ia mengatakan mahasiswa menuntut hak mereka agar dipenuhi pihak universitas. “Tuntutan mahasiswa sudah benar. Mereka minta status yang jelas, orang mau jadi guru tempatnya dimana dan olahragawan murni dimana. Itu harus jelas,” kata Nomensen.

Koordinator demo Yonas Andreas Way mengatakan jika tuntutan mahasiswa tidak dijawab pekan depan maka mahasiswa akan memalang kampus itu dengan mendatangkan massa yang sangat banyak. Selain itu mereka berjanji akan menemui pimpinan universitas untuk melakukan dialog akbar antara FKIP, FIK, mahasiswa dan Uncen.

“Supaya mahasiswa tahu statusnya bagaimana. Karena kami seperti kehilangan induknya,” kata Yonas. (Timo Marten)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Polemik FKIP – FIK, Kampus Uncen Dipalang