Minggu Palma, Mengenang Sengsara Yesus

share on:
Pastor saat berkat daun palem dengan air berkat - ist
Pastor saat berkat daun palem dengan air berkat – Jubi/ist

Jayapura, Jubi – Dalam kalender liturgi Gereja Katolik Minggu Palma merupakan hari pertama memasuki pekan suci atau pekan Paskah.

Perayaan ini merujuk pada peristiwa yang dicatat pada empat Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19. Dalam perayaan ini dikenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem sebelum Ia disalibkan.

Masuknya Yesus Kristus ke kota suci Yerusalem adalah hal yang istimewa, sebab terjadinya sebelum Yesus mati dan bangkit dari kematian. Itulah sebabnya Minggu Palma disebut pembuka pekan suci, yang berfokus pada pekan terakhir Yesus di kota Yerusalem. Dalam liturgi Minggu Palem, umat dibagikan daun palem dan ruang gereja dipenuhi ornamen palem.

Pastor Paroki Gembala Baik Abepura, RD. Andreas Trismadi dalam kotbah mengatakan, pada hari Minggu Palma ini, umat kristiani bersukacita untuk merayakan peristiwa penting, Yesus memasuki kota Yerusalem dengan jaya.

“Minggu Palma menjadi tanda dimulainya pekan Suci, yaitu pekan yang penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan. Arak-arakan Yesus memasuki kota Yerusalem hanyalah bagian kecil yang mengawali kisah sengsara-Nya,” katanya, Minggu (20/03).

Dikatakan, daun palem adalah simbol dari kemenangan. Daun palem ini membawa arti ke arah simbol Kristen. Daun palem digunakan untuk menyatakan kemenangan martir atas kematian.

“Pada Minggu Palma, khalayak mengelu-elukan Yesus sebagai Raja ketika masuk ke Yerusalem. Tangan mereka mengacung-acungkan daun palma, mulut mereka menyerukan ‘Hosana Raja Daud. Pakaian mereka tanggalkan dan dijadikan alas keledai tunggangan Yesus, langkah mereka seiring mengiring Yesus sang raja,” tuturnya.

Namun sebentar kemudian khalayak mengelu-elukan Yesus sebagai pesakitan. Tangan mereka mengepalkan tinju dan mengacungkan pedang dan cemeti. Mulut mereka menyerukan hujatan, ‘Salibkan Dia, salibkan Dia’. Pakaian Yesus pun mereka lucuti dan bagi-bagi, langkah mereka kompak menolak Yesus sang raja.

“Memang Yesus adalah raja, raja damai. Demi cinta kasih-Nya, Ia rela berkorban agar dapat membawa manusia memasuki kedamaian-Nya. Kasih-Nya tetap untuk selama-lamanya, tidak berubah karena alasan atau syarat tertentu. Ia hanya memiliki cinta, damai, dan penebusan. Oleh karena itu, mari kita mengikuti-Nya,” katanya.

Ribuan umat hadir dalam misa di Gereja Katolik Gembala Baik, Abepura itu. Salah seorang umat Gembala Baik Abepura, Christo mengatakan, saat Minggu Palma, umat melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi. Hal ini menyatakan keikutsertaan umat bersama Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem.

“Ini menyatakan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang: kota Allah, di mana ada kedamaian,” katanya.

Pada Minggu Palma, gereja tidak hanya mengenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem melainkan juga mengenang akan kesengsaraan Yesus. Oleh karena itu, Minggu Palma juga disebut sebagai Minggu Sengsara. (Abeth You)

 

 

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Minggu Palma, Mengenang Sengsara Yesus