Kunjungan Luhut Hanya Omong Kosong, kata Marinus Yaung

share on:
Pengamat Hukum Internasional, Marinus Yaung - Jubi/Abeth
Pengamat Hukum Internasional, Marinus Yaung – Jubi/Abeth

Jayapura, Jubi – Tujuan kunjungan Menteri Kordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Luhut Binsar Pandjaitan ke Papua adalah mendorong audit penggunaan dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua dan dan menyelesaikan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang pernah terjadi di Papua.

Namun pengamat Hukum Internasional dari Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Marinus Yaung mengatakan kehadiran Luhut Binsar Pandjaitan di hadapan para pejabat di Papua seperti macan ompong.

“Di hadapan kami (waktu lalu di Jakarta) beliau sampaikan kepada kami bahwa nanti beliau akan ke Papua akhir Maret 2016 itu hanya untuk dua tujuan. Yang pertama adalah untuk melakukan audit terhadap penggunaan dana Otsus juga memberikan terapi kepada para kopruptor dan perampas uang rakyat Papua,” kata Marinus Yaung kepada Jubi di Jayapura, Kamis (31/03).

Hal itu dilakukan Luhut untuk ingin memastikan, bahwa di Papua tidak lagi ada para koruptor dan para perampok uang Otsus Papua yang sedang berkeliaran di Papua.

Dikatakan Yaung, tujuan yang kedua adalah menyelesaikan pelanggaran HAM berat yang pernah terjadi di atas tanah Papua.

“Dan itu sudah muncul. Tapi, yang saya minta ke beliau adalah isu Paniai Berdarah, yang pernah dijanjikan polisi akan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Lalu, setahun berlalu tidak selesai juga,” terang dosen Fisip Uncen ini.

Menurutnya, sebelum Menkopolhukam menyelesaikan pelanggaran HAM berat di Papua, ia telah mengatakan agar Menkopolhukam meminta maaf kepada para korban dan keluarga korban terutama mama-mama Papua yang anak-anaknya ditembak mati 08 Desember 2014. Tapi, dirinya mengaku kecewa karena satu kata permohonan maaf pun belum pernah diungkapkan oleh Menkopolhukam, selaku perpanjangan tangan dari Presiden Jokowi.

“Yang saya kecewa kedua adalah beliau tidak minta maaf. Saya melihat bahwa ini sebuah omong kosong, janji yang tidak akan pernah ditepati,” kata Yaung.

Ia bertanya, mengapa negara Indonesia ini sulit sekali meminta maaf kepada rakyat Papua atas kejahatan negara kepada orang Papua.

“Pertanyaan saya adalah, apakah kita orang Papua mau bertahan dengan negara yang tidak pernah merasa bersalah dengan kita. Apakah kita orang Papua mau berharap akan masa depan yang baik bersama negara yang merasa salahnya atas orang papua,” tegasnya bertanya seraya menambahkan, Luhut Binsar Pandjaitan adalah menteri yang mendapat kepercayaan langsung dari Presiden Jokowi untuk urus Papua.

“Cara Luhut mengurus Papua itu sama saja dengan Jokowi mengurus Papua,” bebernya.

Mengenai kunjungan Menkopolhukam ke Pasifik, Yaung mengatakan kunjungan itu tak lebih dari tamasya.

“Bagi saya ke Pasifik itu hanya perjalanan tamasya biasa. Silahkan mereka diskusi untuk merampas hak-hak milik orang Papua,” katanya

Menkopolhukam RI, Luhut Binsar Pandajitan, sebelumnya menjanjikan penyelesaian kasus pelanggaran HAM Papua pada tahun ini. Khusus untuk kasus Paniai, ia merasa yakin bisa diselesaikan tahun ini juga.

“Ya saya jamin,” katanya saat ditanya apakah ia bisa menjamin pengungkapan kasus Paniai Berdarah berjalan hingga terungkap siapa pelakunya.

Menurut Menkopolhukam, ada 16 kasus pelanggaran HAM Papua yang sudah diidentifikasi oleh Pemerintah. Diantara 16 kasus itu ada kasus Wasior, Wamena Berdarah dan Paniai Berdarah. (Abeth You)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Kunjungan Luhut Hanya Omong Kosong, kata Marinus Yaung