Uskup Papua Diminta Berefleksi, Atas Kunjungan Para Uskup PNG dan Solomon

share on:
Markus Haluk - Dok/Jubi
Markus Haluk – Dok/Jubi

Jayapura, Jubi – Tokoh Pemuda Gereja Katolik Papua, Markus Haluk mengatakan kunjungan konfrensi para uskup se Papua New Guinea (PNG) dan Kepulauan Salomon (KS) harus menjadi bahan perenungan bagi para uskup di Tanah Papua.

“Para uskup di Papua perlu bertanya, mengapa para uskup ini merasa penting datang ke Papua? Ini menjadi bahan refleksi para uskup di tanah Papua,”ungkap pria mantan ketua Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur Abepura ini kepada Jubi di Jayapura, Papua, Sabtu (9/4/2016).

Kata dia, kunjungan para uskup ini menjadi jelas bahwa pergumulan orang Papua. Perjuangan penentuan nasib sendiri menjadi doa dan harapan para uskup gereja katolik di Kepulauan Salomon dan PNG.

“Pergumulan orang Papua menjadi doa para uskup Kepulauan Salomon dan PNG,”ungkap pria yang kini menjadi anggota tim kerja United Liberation Momevent for West Papua (ULMWP) dalam negeri wilayah West Papua ini.

Pergumulan itu, kata Haluk terungkap jelas dalam dialog terbuka dengan para Uskup Papua yang diwakili Uskup Jayapura, Leo Labaladjar dan Aloisius Murwito yang berlangsung di Aula Paroki Kristus Raja Katedral Jayapura pada Sabtu (9/4/2016).

“Pernyataan-pertanyaan yang mereka tanyakan kepada para uskup di Papua sangat jelas dan sangat tajam. Mereka terlihat memahami dan betul prihatin dengan masalah Papua,termasuk perjuangan masalah perjuangan nasib sendiri,”ungkapnya serius.

Kata dia, kalau para uskup di luar sana saja sudah prihatin, bagaimana dengan para uskup di Papua. Para Uskup di Papua mestinya harus menjadi benteng perlidungan orang Papua yang tersisa, yang hampir punah ini.

“Para uskup di Papua harus membawa masalah Papua ke dalam mimbar gereja. Tidak bisa lagi melihat masalah Papua itu sebagai hal tabu lalu menghindarinya,”ujar mantan Sekretaris Jenderal Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tegah Papua se Indonesia ini.

Kini, masalah Papua harus dibawa ke dalam mimbar gereja supaya, kata Haluk, orang asli Papua merasa menjadi bagian dari gereja. Supaya, gereja menjadi ada bagi perlindungan orang asli Papua dari ancaman penangkapan, penyiksaan dan pembunuhan dalam memperjuangkan nasib sendiri.

Uskup Jayapura Leo Labajadjar mengatakan sikap gereja sudah jelas dalam memperjuankan hak asasi manusia. Gereja tidak tinggal diam ketika ada pelanggaran HAM, hanya gereja tidak bicara secara terbuka dan frontal dalam merespon situasi di Papua.

Kata dia, gereja tidak hanya bergerak secara institusional tetapi juga melalui individu para pastor. Perjuangan para John Djongga dan Neles Tebay tidak lain bagian dari perjuangan gereja.

“Suara pastor John Djongga itu suara kenabian gereja. Pastor John itu suara resmi gereja karena dia imam tetapi kalau perjuangan mereka dikaitkan dengan politik saya tidak tahu,”ungkapnya beberapa waktu lalu. (*)

Editor : dominggus
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Uskup Papua Diminta Berefleksi, Atas Kunjungan Para Uskup PNG dan Solomon