Jalan Trans Papua Dipalang, Warga Nyaris Bentrok dengan Satpol PP

share on:
Satpol PP Kabupaten Boven Digoel ketika membuka pemalangan yang dilakukan warga – Jubi/Frans L. Kobun
Satpol PP Kabupaten Boven Digoel ketika membuka pemalangan yang dilakukan warga – Jubi/Frans L. Kobun

Boven Digoel, Jubi – Masyarakat yang tinggal di Jalan Trans Papua tepatnya di Kilometer Satu dari Titik Nol, Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel memalang ruas jalan tersebut.

Pemalangan yang sudah setahun itu dipicu tak adanya respons positif setempat untuk mengaspal jalan tersebut.

Setelah ruas jalan utama yang menghubungkan ke Kantor Bupati Boven Digoel tak dilalui kendaraan baik roda dua maupun roda empat, maka Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Boven Digoel di-back up beberapa anggota TNI membongkar tumpukan balok di jalan. Sayangnya pembongkaran nyaris berujung bentrok fisik karena warga setempat yang didominasi ibu-ibu tetap ngotot agar tidak palang tidak dibongkar.

Salah seorang ibu di Jalur Kilometer 1 Tanah Merah, Anita Koweng kepada Jubi Senin (11/4/2016) menuturkan, pemalangan dilakukan karena tidak ada niat pemerintah untuk mengaspal jalan dimaksud.

“Terus terang, kami palang jalan karena debu yang sangat tebal setiap hari setelah dilalui kendaraan roda dua maupun empat,” ujarnya.

Dampak dari debu yang terjadi, demikian Anita, banyak anak terkena penyakit ISPA. “Kami sudah mengadu ke DPRD Kabupaten Boven Digoel selama beberapa kali, namun tidak direspons dengan baik. Sehingga pemalangan terus berlanjut hingga sekarang,” katanya.

Dia mengaku, pemalangan ruas jalan utama tersebut sudah berlangsung kurang lebih satu tahun. Warga setempat berharap agar pemerintah turun tangan, namun tak ada tindak lanjut juga. Padahal, dari waktu ke waktu masyarakat terus berteriak meminta ruas jalan diaspal.

“Kami tidak menginginkan jalan yang telah dipalang  dengan kayu,  dibongkar aparat Satpol PP. Biarkan saja hingga kedatangan Gubernur Papua, Lukas Enembe di sini,” tuturnya.

Kepala Kantor Satpol PP Kabupaten Boven Digoel, Damianus Sabi mengakui pemalangan dilakukan setelah adanya keluhan warga setempat akibat debu hingga berdampak terhadap kenyamanan dan kesehatan masyarakat. Namun demikian, berbagai pendekatan telah dilakukan, tetapi tidak ditanggapi dengan baik.

“Sudah beberapa kali saya datang dan berbicara dari hati ke hati bersama masyarakat dan meminta jalan itu dibuka, agar kendaraan roda dua maupun empat dapat melintas sebagaimana biasa. Tetapi berbagai cara dilakukan, tak  kunjung di tanggapi warga,” katanya.

Sehingga, demikian Sabi, langkah yang dilakukan hari ini adalah membawa staf agar melakukan pembongkaran. Karena bertepatan juga kedatangan Gubernur Papua.

“Ya, aspirasi dari warga tetap direspons, hanya saja tidak bisa langsung dikerjakan. Karena masih disesuaikan dengan anggaran pemerintah. Jadi, pemalangan bukan alasan satu-satunya, karena masih ada cara lain yang bisa kita bicarakan dan cari jalan keluar penyelesaian,” katanya. (Frans L. Kobun)

Editor : TIMOTEUS MARTEN
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Jalan Trans Papua Dipalang, Warga Nyaris Bentrok dengan Satpol PP