Polsek Nabire Kota Olah TKP Kasus Lesbian

share on:
Tersangka OMM (23) bersama petugas saat melakukan olah TKP kasus lesbian di Jalan Kendari, Kelurahan Karang Mulia, Kabupaten Nabire, Papua, Rabu (13/4/2016) – Jubi/Munir
Tersangka OMM (23) bersama petugas saat melakukan olah TKP kasus lesbian di Jalan Kendari, Kelurahan Karang Mulia, Kabupaten Nabire, Papua, Rabu (13/4/2016) – Jubi/Munir

Nabire, Jubi – Polsek Nabire Kota melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur yang di lakukan oleh pasangan lesbian di salah satu kontrakan di Jalan Kendari, Kelurahan Karang Mulia, Kabupaten Nabire, Papua, Rabu (13/4/2015) sore.

Percabulan dengan korban salah seorang siswi pelajar kelas satu pada salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Nabire.

Kasus tersebut digelar oleh Polsek Nabire Kota setelah menerima laporan dari orang tua korban yang tidak terima anak gadisnya, yang masih duduk di bangku kelas X SMA dicabuli oleh pelaku.

Kejadian ini di ketahui orang tua korban setelah selama dua hari anak gadisnya tidak pulang ke rumah, akibat disekap dan dicabuli.

Dari hasil olah TKP tersebut polisi menemukan beberapa barang bukti sebagai pendukung dalam proses penyidikan.

Kapolsek Nabire Kompol Stev Liatpasen, mengatakan kasus pencabulan dengan korban anak di bawah umur dan dilakukan oleh pasangan sama jenis ini merupakan kasus yang pertama kali diproses hukum di Nabire.

“Tersangka berinisial OMM (23) berkerja sebagai freelance, dan korban berinisial JSR (15),” katanya di TKP, Rabu (13/4/2016).

Dijelaskannya antara tersangka dan korban sudah sejak lama saling kenal, tepatnya tahun 2011 dan tepatnya di tahun 2014 kejadian pertama korban tersebut dicabuli.

“Sampai dengan terakhir tertangkap pada 21 April 2016 lalu menurut korban tersangka sudah melakukan perbuatannya tersebut sebanyak 37 kali,” ujarnya.

Korban juga kata dia melakukan hal tersebut karena berada dalam tekanan karena diancam akan dibunuh jika berhubungan atau berpacaran dengan orang lain.

“Tersangka dikenakan Undang-undang perlindungan anak, Pasal 82 ayat 1 Junto 76 huruf E, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, salah seorang masyarakat Kabupaten Nabire, yang juga salah seorang ibu rumah tangga, Pusvita, warga Kota Baru, Nabire, Papua, menyayangkan terjadinya kejadian tersebut.

Menurutnya orang tua perlu melakukan pengawasan lebih ketat kepada anak-anaknya ketika hendak keluar rumah.

“Orang tua wajib bertanya kepada anaknya, hendak pergi kemana, keperluannya apa, dengan siapa dan juga kembali ke rumah pukul berapa, sehingga paling tidak orang tua tahu anaknya hendak pergi kemana,” ujarnya. (Munir)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Polsek Nabire Kota Olah TKP Kasus Lesbian