Airmood Band Papua di Era 1980 an, Populerkan Musik Reggae di Indonesia

share on:

Editor : Dominggus A Mampioper

Airmood saat show di Stadion Siliwangi Bandung, 1984-Jubi-IST
Airmood saat show di Stadion Siliwangi Bandung, 1984-Jubi-IST

Jayapura,Jubi-Reggae Night di Ancol mungkin cikal bakal pertama kali musik reggae dipopulerkan di Indonesia sejak 1988-1999 an sebab setiap tiga bulan sekali Airmood, Abresso dan Delta Lima-lima meramaikan musik irama reggae di Ancol Jakarta. Saat itu memang musik reggae masih asing di telinga orang-orang di Indonesia sehingga pengunjung di Ancol saat reggae night hanya disaksikan oleh warga Papua dan simpatisan musik reggae. Begitulah sekelumit kisah perjalanan musik reggae yang dikomandoi Ian Gebze bersama Kasuari Enterprise di Jakarta.

Grup Band Airmood  muncul di era 1980 an setelah hijrahnya Black Brothers ke luar negeri. Grup musik ini beranggotakan Ian Ch Gebze pada posisi melody and lead guitar, mendiang Akon Merdy Bonay pada bass, Ian Dicky Mamoribo keyboard, mendiang Coca pada drum serta William Rumbewas dan Becheq Muabuay pada vocal.

Sebelum masuk studio rekaman, sekitar 1981 Airmood Band melakukan test masuk ke TVRI untuk mengisi acara dalam Aneka Ria musik, sekaligus promosi grup band. Berbekal peralatan band sederhana dan seadanya Ian Gebze dan kawan-kawan, meminjam alat musik milik anak-anak muda dari Kompleks Bank Indonesia di Pasar Minggu menuju Studio TVRI di Senayan Jakarta.

Sesampai di Studio TVRI, langsung mengikuti test dan kebetulan Christ Pattikawa salah satu artis dan musisi senior Indonesia, siap melakukan menguji kemahiran musik dan vocal. Mulai dari peralatan band sebenarnya tak layak. Beruntung vocalis dan bass Airmood Band Akon Merdi Bonay menjadi salah satu point tertinggi sehingga mereka layak masuk dalam siaran musik TVRI.

“Dengan peralatan sederhana dan saya nilai Airmood Band pantas masuk dalam siaran TVRI,”kata Christ Pattikawa waktu itu. Akhirnya usai rekaman dan beberapa kali Airmood Band tampil dalam acara musik di TVRI.
Meski tak setenar The Black Brother, pengamat musik Denny Sabri dari Majalah Aktuil saat itu menyebut mereka sebagai musisi Papua beraliran musik seperti “Grup musik Kansas.”

Padahal karakter musisi Airmood Band sendiri bisa dilihat Ian Gebze beraliran rock dan sangat berpengaruh dengan gaya musisi Fariz, Akon Bonay lebih dekat dengan Black Musik, reggae, jazz and blues. Sedangkan Ian Dicky Mamoribo senang dengan grup band asal Swedia, Abba. Sementara Chick Muabuay dan Willy cenderung ke slow rock. Tak heran kalau lagu berjudul Unlike Women karya Chick Muabuay sangat kental dengan aliran slow rock.

Group ini mulai masuk rekaman pada 1981 dengan lagu-lagu berjudul Gaya Intermesso, Pasrah Ombak Putih, Tiket Bis Malam. Salah satu syair lagu ciptaan Dicky Mamoribo berjudul Masuk Putih Keluar Hitam sangat kental dengan kritik sosial. Antara lain, karena satu yang korban seribu. Masuk putih keluar hitam. Buat rencana yang keluar bencana.

Volume Pertama, Airmood. Dari kiri Dicky Mamoribo, Ian Ch Gebze dan Akon Mardi Bonay(alm)-Jubi-Ist
Volume Pertama, Airmood. Dari kiri Dicky Mamoribo, Ian Ch Gebze dan Akon Mardi Bonay(alm)-Jubi-Ist

Lagu Masuk Putih Keluar Hitam ini akhirnya menjadi hits pada Volume Kedua Airmood Band pada 1983-1984. “Dalam prestasi bikin reputasi. Buat rencana jadinya bencana. Masuk putih keluar hitam.” Begitulah salah satu lagu yang diciptakan Dicky Mamoribo Group Band Airmood. Ciri khas dari Airmood adalah setiap volume selalu ada lagu berbahasa Inggris. Misalnya pada volume pertama berjudul Unlike Women yang ditulis Beachick Muabuay dan musik Akon Bonay. Juga dalam volume kedua berjudul The Man Come Upon the Town.

Selain masuk dapur rekaman, grup musik Airmood Band juga melakukan show di Jakarta dan juga pernah di Stadion Siliwangi Bandung. Hanya saja mereka belum pernah tampil di Istora Senayan sebagaimana Black Brother di era 1976 dengan lagu Soldier Fortune milik Deep Purple. Chiq Muabuay mengatakan selama show di Jakarta mereka pernah bersama Goodbless dan Ahmad Albar termasuk SAS dari Surabaya.

Sayangnya Airmood Band memproduksi album mereka hanya dua buah album dan selanjutnya lebih banyak terlibat dengan beberapa musisi asal Papua. Bersama Sandy Betay. Robby Wambrauw dan mendiang Boyce Pattipelohy mereka tergabung dalam grup bernama Abresso dan mereka memproduksi lagu-lagu irama reggae dan daerah Papua. Bahkan Akon, Robby Wambrauw dan Dicky Mamoribo ikut pula mendukung grup Rio Grime dalam aransemen musik rekaman lagu-lagu daerah.

Ian Gebze gitaris Airmood Band membikin perusahaan Kasuari Enterprise merintis pertunjukan Reggae Nite di Ancol sejak 1988-1990 an. Ian Gebze  bekerja sama dengan manajemen Taman Ria Ancol dan sponsor Gudang Garam. Setiap tiga bulan sekali dipentaskan Raggae Night di Ancol. Tampil pula Group Band Delta Lima-lima berisikan grup anak-anak muda Papua di Jakarta juga berirama reggae dan rock. Saat itu musik reggae belum sepopuler sekarang di tanah air termasuk Jakarta.

The Black Company salah satu grup gabungan antara Abresso dan Airmood serta beberapa kali tampil juga di Raggae Nite Ancol. Salah satu cikal bakal bangkitnya musik reggae di Jakarta dan beberapa kali musisi Papua ini show.
Pada 1997 tokoh Papua, Yorris Raweyai memprakarsi klub band asal Papua ini Abresso Band mengisi acara band di Pulau Christmast selama beberapa tahun. Mereka juga mengisi acara misi kebudayaan di Papua New Guinea.

Selanjutnya Grup Airmood Band mulai berkolaborasi dengan musisi Papua dan salah seorang vocalis asal Jamaica bernama Jimmy Ignatio karena bergabung sama anak-anak Papua. Jimmy asal Jamaica ini diberi marga Radongkir jadi kalau show diperkenalkan dengan nama Jimmy Radongkir.

Volume kedua Airmood-Jubi/Ist
Volume kedua Airmood-Jubi/Ist

Abreso sendiri berasal dari bahasa suku Atham/Arfak,Manokwary Papua,yang berarti Salam dalam perjalanan karir group ini ternyata mendapat apresiasi tersendiri baik dari komunitas musik tanah air maupun di hati masyarakat Papua khususnya, karena mampu mewakili seni budaya Papua dalam setiap penampilannya.

Bergabungnya Jimmy Ignatio  Randongkir menambah nuansa lagu berirama raggae semakin marak dan memakai nama Asian Root. Mereka show keliling Pulau Jawa mempopulerkan musik berirama reggae yang saat itu belum begitu populer di telinga orang-orang Indonesia. Saat ini musik reggae sudah tak asing lagi di telinga orang Indonesia. Musik reggae terus bergema seirama lautan Karibia dan Pasifik di Tanah Papua di penjuru Indonesia.(*)

Editor : Dominggus A Mampioper
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Airmood Band Papua di Era 1980 an, Populerkan Musik Reggae di Indonesia