Orang Asli Papua Adalah Pemabuk?

share on:
Penandatanganan Pakta Larangan Miras oleh Wali Kota Jayapura bersama Kepala Daerah se Provinsi Papua pada akhir Maret lalu - Jubi/Alexander Loen
Penandatanganan Pakta Larangan Miras oleh Wali Kota Jayapura bersama Kepala Daerah se Provinsi Papua pada akhir Maret lalu – Jubi/Alexander Loen

Oleh : Alexandro Rangga    

PADA tanggal 30 Maret 2016, Gubernur Papua dan Forkompinda Papua menandatangani Pakta Integritas Pelarangan Minuman Keras di Papua yang diperkuat dengan Instruksi Gubernur Papua Nomor 3/INSTR-GUB/Tahun 2016. Fakta ini bisa dikatakan menjadi solusi bagi dampak destruktif produksi, distribusi dan terutama konsumsi miras di Papua. Kita seringkali membaca berita tentang berbagai dampak destruktif minuman keras seperti pencurian, pemalakkan, kekerasan seksual, kecelakan lalu lintas maupun Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Kita juga seringkali melihat begitu banyaknya toko-toko yang secara khusus menjual minuman keras, secara khusus di Kota Jayapura. Sekedar contoh saja, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa STFT Fajar Timur, pada tahun 2010, jumlah toko mimunan keras di di Kota Jayapura kirakira 100-an toko.

Orang Papua Pemabuk?

Menjamurnya toko minuman keras, banyaknya orang mabuk di jalanan, serta lahirnya kesepakatan bersama untuk menolak miras di Papua memunculkan kesan akan Papua sebagai daerah miras dengan orang Papua sebagai konsumen utamanya. Pertanyaannya adalah apakah orang asli Papua adalah pemabuk? Secara sepintas, terutama jika mengacu pada realitas sehari-hari kita dapat mengatakan: Ya, orang asli Papua adalah pemabuk. Namun jika dicermati secara mendalam, kesan yang kemudian menjadi stigma ini tidak dapat dibenarkan.

Kata pemabuk atau tukang mabuk seolah-eolah menunjukkan bahwa mabuk adalah sebuah profesi. Suka atau tidak suka, gegabah atau teliti, benar atau salah, ada stigma bahwa orang asli Papua adalah pemabuk atau tukang mabuk. Faktanya yang mengonsumsi minuman keras di Papua bukan hanya orang Papua tetapi juga orang Jawa, orang Makasar ataupun orang Timor. Tetapi mengapa hanya orang Papua yang disebut Pemabuk?

Ada dua alasan yang dapat dikemukan di sini. Pertama, alasan antropologis. Secara antropologis, tidak ada budaya mabuk dan budaya minuman keras di dalam hampir semua suku di Papua. Karena bukan kebudayan maka juga bukan suatu kebiasaan. Orang papua tidak memproduksi, mendistribusi serta mengonsumsi minuman keras. Produsen sekaligus distributor utama di Papua adalah para pendatang dan para pengusaha. Para pendatang memproduksi sekaligus mendistrisbusikan minuman keras lokal seperti Cap Tikus, saguer, maupun balok (bahan lokal). Para pengusaha mendistribusikan minuman keras berlabel resmi seperti Wiro, Vodka, Chivas, maupun Martini. Dengan demikian, karena bukan suatu kebudayaan atau kebiasaan, tidaklah mengherankan jika para pendatang, meskipun mengonsumsi miras tidak menjadi mabuk, sebaliknya jika orang Papua yang mengonsumsinya menjadi mabuk.

Kedua, alasan sejarah. Menurut sejarah, minuman keras masuk ke Papua pada tahun 1990-an. Dalam perkembangannya peredaran miras di Papua menjadi tidak terbendung. Untuk membendung hal ini, ditetapkanlah aturan legal peredaran miras di Papua. Legalitas ini di satu sisi membatasi, di sisi lain membebaskan peredaran miras di Papua. Dengan demikian, nota kesepakatan yang dibuat oleh para pemimpin di Papua bukan hanya bentuk keprihatinan tetapi juga utang moral masa lalu para pemimpin di Papua yang  melegalkan miras di Papua. Sebuah tebusan yang sebenarnya terlambat namun menjadi tonggak sejarah baru di Papua.

Solusi Holistik

Nota kesepakatan bersama untuk menolak minuman keras di Papua adalah angin segar, kabar baik, tidak hanya bagi usaha untuk menyelamatkan generasi muda sebagai generasi masa depan Papua, tetapi terutama sebagai usaha preventif yang dilakukan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai berbagai persoalan sosial di Papua akibat miras seperti ketidakkeamanan dan ketidaktertiban umum, tingginya angka kekerasan dan kematian, penyakit-penyakit medis, maupun rendahnya sumber daya manusia Papua. Akan tetapi, nota kesepahaman yang berdampak hukum, mesti ditopang oleh kesadaran orang asli Papua sendiri akan bahaya minuman keras.

Hal yang terakhir yang disebutkan membutuhkan solusi tersendiri dengan mengacu pada aspek antropologis dan aspek sejarah di atas. Pertama, kesadaran budaya atau kesadaran akan kearifan lokal bahwa orang Papua tidak mempunyai budaya mabuk atau budaya mengonsumsi minuman keras perlu ditanamkan secara terus-menerus kepada generasi muda Papua. Bahwasanya, budaya mabuk-mabukan adalah hasil interaksi dengan budaya lain yang memang tidak dapat dinafikan begitu saja dan karenanya bukanlah sifat-sifat hakiki atau asali dari budaya atau suku-suku yang ada di Papua. Mengapa kita tidak mabuk karena makan pinang saja yang tidak mempunyai dampak destruktif?

Kedua, fakta sejarah bahwa minuman keras hadir di Papua karena dibawa dari luar Papua, mesti ditindaklanjuti dengan konsekuensi hukum yang jelas bagi pihak-pihak yang tetap mendistribusikan minuman keras di Papua pasca nota kesepahaman penolakan minuman keras di Papua. Tanpa peraturan daerah (PERDA) atau peraturan daerah khusus (PERDASUS), sebagai tindak lanjut nota kesepakatan ini terasa tumpul. Fakta menunjukkan bahwa meskipun sudah ada Peraturan Daerah yakni Perda Nomor 15 tahun 2013 tentang Pelarangan Miras di Papua, miras tetap beredar luas di Papua. Dengan fakta ini, bukan tidak mungkin akan menjamur distribusi tidak resmi minuman keras yang justru malah merugikan pendapatan daerah dari pajak minuman keras itu sendiri.

Penutup

Persoalan miras di Papua telah sampai pada tahap yang memprihatinkan. Memprihatinkan karena merusak sendi-sendi kehidupan bersama serta generasi muda orang asli Papua sebagai generasi masa depan. Dengan demikian, selain inisiatif pemerintah berupa nota kesepahaman penolakan miras di Papua mesti diapresiasi setinggi-tingginya oleh semua pihak ia juga mesti ditindaklanjuti secara legal sesuai hukum yang berlaku. Lebih lanjut, sebagai manusia yang berbudaya dan mempunyai sejarah, nilai-nilai kebudayaan mesti digali dan dihayati sebagai modal menghadapi budaya-budaya baru yang destruktif tanpa melupakan sejarah kita sebagai orang Papua. (*)

Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana STFT Fajar Timur

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Orang Asli Papua Adalah Pemabuk?