Yang Tersisa, Yang Bercerita

share on:
Ketua DKTP, Dr. Nomensen Mambraku, Selasa (26/04/2016) - Jubi/Abeth You
Ketua DKTP, Dr. Nomensen Mambraku, Selasa (26/04/2016) – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Apa jadinya sebuah peristiwa, tradisi, keajaiban dan kebesaran sebuah karya jika tak ada yang meneruskannya? Bagaimana agar anak cucu memahami kesemuanya itu, melestarikan dan mewariskannya?

Itu sekiranya pertanyaan yang muncul ketika berbicara tentang sosok budayawan, antropolog dan kurator seni Papua, Arnold Ap.

Ketua Dewan Kesenian Tanah Papua Dr. Nomensen Mambraku menegaskan bahwa mahakarya dan sosok Arnold Ap harus diwariskan kepada generasi Papua.

Berbicara tentang “Mambesak” grup musik legendaris Papua, dan Arnold Ap adalah ranah seni dan budaya orang Papua.

“Yang tersisalah yang bercerita,” kata Nomensen dalam diskusi bertajuk ‘Arnold C. Ap, Mambesak dan Universitas’ di Auditorium Uncen Abepura, Jayapura, Papua (26/4/2016).

Menurutnya Mambesak, Arnol C. Ap  dan Uncen adalah satu kesatuan seni. Seniman itu bebas bergerak di mana saja untuk menyampaikan pesan, baik melalui lagu, puisi, dan tari.

“Hari ini memberikan warna, kita bercerita kepada negara ini bahwa seni dan budaya dari kita, oleh kita dan untuk kita. Kita semua harus bangga, seni dan budaya serta Mambesak adalah identitas kita orang asli Papua. Kami yang tersisa di atas tanah ini harus bercerita bahwa dahulu pernah hidup Mambesak,” katanya.

Pembantu Rektor (PR) III Bidang Kemahasiswaan, Fredrik Sokoy mengatakan, saat itu Mambesak dipolitisir dan maknanya telah bergeser lama.

“Saya menyambut baik gagasan ini. Karena telah lama kita dipolitisir kegiatan Mambesak, makna kegiatan yang dilakukan telah bergeser lama,” kata Fredrik.

Sebagi alumnus jurusan Antropologi Fisip Uncen Jayapura dirinya mengapresiasi kepada Badan Eksekutif Mahasiswa Uncen.

“Kami juga sepakati harus ada monumen Arnold Ap dan jadi ikon dalam kaitannya perubahan besar. Itu akan menjadi identitas kita. Itu sebagian bagian dari sejarah mahasiswa. Kegiatan ini kita pahami sejarah Mambesak memilik nilai historis yang sangat tinggi,” katanya.

Lebih lanjut di katakan,  pihaknya selama kuliah di Uncen waktu lalu telah mengangkat Mambesak, namun terhenti sehingga diminta agar terus bangkitkan. “Kami masih kuliah Uncen itu dikenal dengan Mambesak. Kami mengenal Uncen itu hanya melalui Mambesak ketika berada di kampung, rawa dan gunung tapi ketika dengar Mambesak, maka kami mulai mengenal diri kami,” katanya.

“Uncen ini sangat tepat bahwa melalui Mambesaklah Uncen ini dibesarkan. Bapak rektor juga menyetujui kegiatan ini kita akan laksanakan setiap tahun tanggal 26 April,” katanya. (Abeth You)

 

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Yang Tersisa, Yang Bercerita