Jadi Tukang Parkir Sejak Muda, Hingga Punya Maitua

share on:
Niko, yang bekerja sebagai tukang parkir di sekitar Agro Segar, Abepura - Jubi/Hengky
Niko, yang bekerja sebagai tukang parkir di sekitar Agro Segar, Abepura – Jubi/Hengky

Jayapura, Jubi – Rompi oranye setengah kusam menempel di tubuh kurusnya. Peluit tak henti-hentinya ditiup ketika kendaraan makin ramai. Sementara debu-debu sisa pelebaran jalan beterbangan.

Sinar mentari yang terik, makin menggila menyinari jalan raya Abepura, kawasan pertokoan Agro Segar, Distrik Abepura, Kota Jayapura.

Pria kelahiran Sarmi, tahun 1970-an itu mengusap peluh yang berjatuhan dari wajah yang mulai keriput. Sesekali berhenti. Gerakan tangannya lincah menyetop kendaraan dan mempersilakan kendaraan dari Agro Segar memasuki badan jalan.

Niko. Begitu namanya disebut ketika ditemui Jubi di depan Argo Segar, Kamis siang, 28 April 2016.

“Sejak saya muda saya sudah bekerja sebagai tukang parkir di halaman Agro Segar. Sudah 15 tahun hingga punya maitua (istri). Dan belum pulang Sarmi sehingga tidak tahu perkembangannya,” kata Niko mengenang tanah kelahirannya yang biasa dijuluki ‘Kota Ombak’.

Hari-hari dilewatinya penuh suka dan duka di Abepura. Macet, asap, debu, panas, bahkan hujan, rupa orang-orang dihadapinya.

Saya hanya tamatan SMP. Alumnus SMP YPK Kotaraja Dalam. Saya betah bertahan di sini tahun 2005 – sekarang untuk menjaga parkiran,” kisahnya.

Mungkin ia terlalu tua untuk menjadi tukang parkir yang keseharian bergelut dengan kerasnya kehidupan Abepura, kota kecil dan kota pelajar di Kota Jayapura ini. Namun kondisi fisik tak mengalanginya demi menghidupi seorang istri dan dua buah hatinya; seorang putri kelas lima SD dan putra kelas dua SD VIM Kotaraja.

“Setiap pagi, saya keluar dari rumah, jam 80.30 WIT sampai jam 15.00 WIT saya kerja. Itu dalam sebulan sekali, saya kadang bekerja dari jam 3.00 sore sampai jam 10 malam, bulan berikutnya,” katanya sambil menerawang seolah memikirkan sesuatu.

Perbedaan kalau jaga parkiran siang hari, sebelum jalan dipalang, dia bisa mendapatkan uang Rp 300 ribu. “Tetapi kalau saya jaga pada malam hari saya bisa mendapatkan uang sebesar Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu,” katanya.

Ia mengatakan lebih lanjut, “Kalau perbandingan pendapatan saya, sebelum ada pelebaran jalan palang tengah dulu pendapatannya bagus. Setelah palang tengah dipasang sekarang Agro tidak ramai lagi di kunjungi orang, karena tidak buka jalan di depan sini, karena semua kendaraan lewat di jalan raya.”

“Kami ada tiga orang yang bertugas, saya hanya menjaga parkir di depan Agro Segar sebagai penjaga parkir. Saya bekerja di sini dari saya masih agak muda. Dan saya sudah menjadi warga Kota Jayapura. Saya jadi tukang parkir ini waktu masih bujang,” kenangnya.

Penghasilan dari jaga parkir digunakannya untuk membiayai sekolah anak-anak, distrik dan kebutuhan sehari-hari.

“Ya, bersyukur saya bisa bikin gubuk dari hasil menjaga parkir,” katanya bersemangat.

Pengalaman yang mengesankan selama menjadi juru parkir justru didapatnya. Misalnya menemui banyak orang hingga menjadi teman, mendapatkan uang.

“Itu sukanya. Dukanya kalau datang kita dapat ancaman dari orang mabuk, apalagi kalau hujan, lebih parah lagi ketika barang milik pengendara roda dua dicuri. Tanggung jawab kita berusaha dan kita menggantikannya,” katanya.

Meski dirinya masih bisa membiayai keluarga, ia meminta Pemerintah Kota Jayapura untuk memperhatikan orang Papua yang sudah uzur. Semacam jaminan hari tua.

“Berikan lapangan kerja kepada kami diangkat jadi pegawai kak. Padahal kita kerja di lapangan dengan jujur, tapi sayangnya kita diberi janji-janji saja,” ujarnya.

“Sebelum Tomi Mano jadi wali kota beliau saat masih di Dinas Pendapatan Daerah pernah menjanjikan kita untuk menjadi PNS tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” katanya menagih janji Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano.

Mirisnya, Rabu, 27 April 2016, Niko hampir dipukul oknum dari Dinas Pendapatan Daerah Kota Jayapura ketika digelar razia. Menurutnya hal itu dipicu karena dirinya belum terdaftar di Dinas Pendapatan Daerah Kota ini dan ia tidak memiliki karcis.

“Tetapi saya sudah lama bekerja di sini dan pernah dijanjikan untuk PNS juga belum Ada realisasi, kemarin saya, baku melawan dengan DISPENDA. Tapi nanti tanggal 1 Mei 2016 baru saya pergi ambil karcis Kota Jayapura sebagai juru parkir,” katanya.

Ia pun berharap agar ia dijadikan PNS pada bagian juru parkir. “Jangan hanya keluarga dekat saja yang jadi PNS,” katanya.

Warga Abepura, Suyati, yang bekerja sebagai pekerja salah satu warung makan di sekitar Argo mengatakan, Niko memang rajin dalam melakukan tugas. Hampir setiap hari beliau datang menjaga parkiran.

“Dia datang menertibkan motor yang di parkiran agar tidak diparkir sembarang dan bikin macet,” cerita Suyati. (Hengky Yeimo)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Jadi Tukang Parkir Sejak Muda, Hingga Punya Maitua