“Proyek Siluman” Di Tengah Proyek Pasar Mama-Mama Papua

share on:
Banner rencana pengembangan Hotel Mama-mama yang dipasang saat peletakan batu pertama di lokasi pembangunan pasar mama-mama Papua - Jubi/Victor Mambor
Banner rencana pengembangan Hotel Mama-mama yang dipasang saat peletakan batu pertama di lokasi pembangunan pasar mama-mama Papua – Jubi/Victor Mambor

Jayapura, Jubi – Tiba-tiba saja hadir banner besar yang menginformasikan proyek pembangunan hotel di tengah proyek pembangunan Pasar Mama-Mama Papua. Banner ini dipertanyakan oleh mama-mama pedagang asli Papua dan Solidaritas Pedagang Asli Papua (Solpap).

“Kita tidak tahu soal hotel itu. Dorang tanya saja ke dorang yang mau bangun pasar ini,” ujar Mama Yuliana Pigay saat ditanya tentang proyek hotel itu.

Mama Yuliana, yang selama ini berjuang untuk pembangunan pasar ini hanya tahu soal pembangunan pasar karena hanya itu yang diperjuangkan oleh mama-mama pedagang asli Papua yang didampingi Solpap.

Proyek pengembangan hotel ini menurut Robert Jitmau, Sekretaris Solpap tiba-tiba saja muncul saat peletakan batu pertama pembangunan pasar oleh Presiden Joko Widodo.

“Dalam pidatonya, presiden juga tidak menyebut soal hotel ini. Sepanjang perjuangan mendapatkan pasar ini, kita tidak pernah bicara soal hotel. Bagusnya tanyakan saja ke Kantor Staf Presiden atau Kementerian BUMN yang bertanggungjawab atas pembangunan hotel ini,” ujar Jitmau.

Jaleswari Pramowardhani, Deputi V Kantor Staf Presiden saat dikonfirmasi soal hotel ini, Sabtu (30/4/2016) mengatakan sudah bertanya pada Menteri BUMN, Rini Soewandi. Menteri Rini, lanjut Jaleswari, menjelaskan bahwa aturan tentang aset negara yang mengharuskan Kementerian BUMN membangun hotel di lokasi yang sama dengan lokasi pembangunan pasar untuk mama-mama.

“Hotel akan menggunakan lokasi yang berseberangan dengan kantor Polres Kota Jayapura,” kata Jaleswari.

Kekecewaan Yang Tersisa

Ditengah kegembiraan yang dirasakan oleh mama-mama pedagang asli Papua setelah peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo, Sabtu (30/4/2016), tersisa kekecewaan pada mama-mama pedagang asli Papua.

“Kita senang karena Damri akhirnya rata. Kita sudah berkali-kali datang Tanya ke Damri tapi mereka juga tidak tahu. Jadi waktu dirubuhkan, kami senang sekali. Apalagi presiden sendiri yang datang pasang batu pertama. Tapi kami kecewa juga karena tidak bisa bicara langsung ke presiden untuk bilang terima kasih,” kata mama Dolfince, salah satu dari ratusan mama-mama pedagang asli Papua yang berjualan di pasar sementara mama-mama Papua.

Mama Dolfince mengaku mereka hanya ingin mengucapkan terima kasih langsung kepada presiden.

“Kita sudah siapkan kata-kata untuk itu. Tapi tidak terjadi. Ya sudah, yang penting Damri sudah rubuh,” kata Mama Dolfince sambil tersenyum.

Rupanya, untuk menyambut Presiden mama-mama pedagang asli Papua ini sudah berlatih tarian selama empat malam. Mereka berlatih usai berjualan. Dari jam 10 hingga jam 12 malam sejak tanggal 26 April. Tapi lagi-lagi harapan mereka tak terwujud. Tarian itu tak bisa dipertunjukan.

“Itu tarian sebagai ungkapan terima kasih kami kepada presiden. Kami latihan setiap malam setelah jualan. Kami memang kecewa karena tidak bisa kasih tunjuk tarian itu ke presiden. Tapi biar sudah, mungkin waktu peresmian nanti kami bisa kasih tunjuk buat presiden,” kata Mama Yuliana. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  “Proyek Siluman” Di Tengah Proyek Pasar Mama-Mama Papua